Batik Peranakan Oey Soe Tjoen. Jawa Pos. 16 Februari 2015.Hal.30

PERKEMBANGAN kebudayaan Tiongkok di Indonesia mewarnai seni batik di Pekalongan. Motifnya adalah perpaduan budaya Tiongkok dan Belanda. Misalnya, buket bunga, kupu-kupu, dan burung. Warnanya juga cerah.

Salah satu jenis batik peranakan yang masih sangat lekat dengan orang Tiongkok di utara Jawa adalah batik tulis Oey Soe Tjoen. Keturunan Oey Soe Tjoen di generasi ketiga masih mempertahankan warisan corak batik yang sudah terkenal hingga belahan dunia itu. Bahkan, hasil karyanya tersimpan di sebuah museum di Jerman.

Batik Oey Soe Tjoen sangat populer sejak dibuat pada 1925 karena berhasil mempertahankan corak khas tulisnya. Pembatikan seluruhnya menggunakan goresan tangan. Mulai menggambar diatas kain polos, mewarnai, membilas, sampai mengecek setiap detail corak. Ketiga masih menggunakan 92 pakem motif yang tidak berubah sampai sekarang.

Detail dalam pembatikan membuat karay tersebut sangat langka. Untuk bisa mendapat selembar koleksinya, pemesanan harus menunggu minimal tiga sampai empat tahun dengan harga puluhan juta rupiah. karena itulah, dalam setahun, generasi penerus Oey Soe Tjoen hanya bisa mengeluarkan 15 lembar batik. Itu pun sudah dipesan minimal tiga tahun sebelumnya.

Widianti Widjaja, satu-satunya penerus batik tulis Oey Soe Tjoen, kini tidak lagi memajang koleksi. Dia hanya menrima pesanan yang datang langsung ke rumahnya di jalan kedungwuni 104, pekalongan. Tempat tersebut merupakan peninggalan turun-temurun sejak zaman kakeknya. Tidak ada penanda khusus yang menunjukkan bahwa rumah itu memiliki sejarah batik fenomenal.

Sejak dulu sampai sekarang, batik Oey Soe Tjoen dijadikan barang koleksi. Tidak hanya orang-orang kaya, pejabat setingkat kepala daerah hingga presiden juga memesan dan menyimpannya. Bahkan, kolektor yang menyimpan hasil karya generasi pertamasering menghubungi Widianti untuk mengecek keasliannya. (*/c7/dos)

Sumber: Jawa-Pos.-16-Februari-2015.Hal_.30