Mioma uteri merupakan tumor jinak yang paling sering terjadi di dalam panggul perempuan. Penyakit ini tidak identik dengan pola tertentu. Setiap kasus punya gejala dan intervensi berbeda.
SPESIALIS kandungan RSUD dr Soetomo dr Relly Yanuari Primariawan SpOG(K) menyebut mioma uteri atau biasa disebut mioma saja tumbuh karena rangsangan hormon estrogen. Karena itu, penderitanya adalah para perempuan usia subur.
Berdasar lokasinya, ada empat tempat penyakit tersebut. Yaitu, submukosa di sisi dalam rongga rahim, intramunal di antara rongga dalam dan sisi luar rahim, subserosa di sisi luar rahim, dan cervical di dalam leher rahim.
Lokasi itulah yang menentukan gejala yang di rasakan. Semakin ke luar dinding rahim (subserosa), keluhan akan semakin nyeri karena penekanan tumor ke area rongga panggul dan sekitarnya. Sementara itu, semakin ke dalam rongga rahim (submukosa), keluhan yang muncul adalah pendarahan. “Keluhan lain yang juga sering muncul adalah terganggunya kesuburan. Penderita jadi sulit punya anak karena mioma menutupi saluran bertemunya sperma dengan sel telur,” ucap Relly yang menamatkan fellow endoscopy gynecology di Kiel University, Jerman, pada tahun 2004 itu. Keluhan lainnya adalah nyeri saat berhubungan dan nyeri haid.
Spesialis kandungan lainnya, dr Hari Nugroho SpOG, menambahkan sebagian besar mioma berukuran besar memang memunculkan keluhan. Meski ada juga pasien yang tidak merasakan apapun. “Saya pernah menangani pasien dengan ukuran mioma 15 sentimeter datang tanpa keluhan apapun,” ulas dokter yang juga berpraktik di RSUD dr Soetomo tersebut.
Saat ini, miomanya tidak sengaja terdeteksi karena penderita melakukan skrining pemeriksaan kesehatan sebagai syarat melamar kerja. Saat dilakukan USG, baru diketahui ada mioma sebesar itu.
Tidak semua mioma perlu di operasi. Menurut Hari, hanya sekitar 5 persen perempuan dengan mioma yang perlu mendapatkan tindakan pembedahan. Mioma perlu diambil apabila mempunyai beberapa indikasi. Misalnya, nyeri hebat, mengganggu organ lain, mengakibatkan pendarahan saat menstruasi, sampai terjadi anemia. Juga, mioma yang mengakibatkan terjadinya gangguan kesuburan. “Ukuran bukan patokan untuk membuat mioma dioperasi. Tetapi, mioma berukuran besar sering kali mengakibatkan keluhan,” imbuh Hari.
Bila memang harus diangkat, ada dua metode yang umum digunakan. Yaitu, dengan laparotomi (operasi irisan lebar) dan laparoskopi (operasi dengan irisan kecil menggunakan seperti teropong) atau biasa dikenal dengan endoskopi. Sebagian besar kasus yang membutuhkan pengangkatan menggunakan metode laparoskopi karena hasilnya paling optimal. Hanya, memang belum semua dokter kandungan bisa melakukan teknik tersebut. “Setiap tahun, RSUD dr Soetomo berusaha melatih lebih banyak tenaga dokter kandungan untuk bisa melakukan laparoskopi,” ujarnya.
Keuntungan laparoskopi, antara lai, luka operasi lebih kecil, secara estetika lebih baik, nyeri lebih minimal, serta kemungkinan komplikasi seperti infeksi dan pendarahan lebih kecil. Selain itu, meminimalkan penggunaan obat anti nyeri, perawatan pasca operasi lebih cepat, dan pasien bisa cepat kembali aktif.
UC Lib-Collect
Jawa Pos.17 Mei 2016

