Sumber:https://optika.id/2026/07/12/bedah-2-buku-istimewa-membaca-indonesia-lewat-lensa-ariel-heryanto/

Bedah 2 Buku Istimewa, Membaca Indonesia Lewat Lensa Ariel Heryanto

12 Juli 2026

Optika.id – Mahasiswa Universitas Ciputra Kelvin William, Redaktur Majalah Penyebar Semangat sekaligus Dosen Universitas Ciputra D. S. Elisabet Novililiana, mengajak publik membaca kembali pemikiran Profesor Emeritus Monash University, Ariel Heryanto, dalam diskusi bertajuk “Membaca Indonesia lewat Lensa Ariel Heryanto”, Jumat, 10 Juli 2026 pukul 14.00-16.00 WIB, di Ruang Teater lantai 7 Main Building Universitas Ciputra Surabaya.

Acara yang dimoderatori mahasiswa dan moderator FX Domini BB Hera, menghadirkan Ariel Heryanto sebagai narasumber. Diskusi berfokus pada dua karya Ariel, yakni Huruf demi Huruf dan Nasib Publik dalam Republik. Dalam disuksi ini juga mengundang peserta untuk berdialog langsung berbagai persoalan sosial,  politik, dan budaya Indonesia melalui pembacaan atas karya Ariel Heryanto.

Mengawali pemaparannya, Kelvin William menyebut  buku Ariel Heryanto sebagai kumpulan esai yang merangkum berbagai persoalan paling krusial yang dihadapi bangsa Indonesia. Tulisan-tulisan Ariel tidak hanya mengangkat isu-isu penting, tetapi juga mengajak pembaca mempertanyakan kembali asumsi yang selama ini dianggap mapan.

Dalam sesi diskusi yang sama, , Redaktur Majalah Penyebar Semangat sekaligus Dosen Universitas Ciputra D. S. Elisabet Novililiana punya kesan khusus dengan buku Ariel Harianto. Baginya, esai itu menjadi salah satu tulisan Ariel yang paling berkesan karena berangkat dari pengalaman masa lalu yang sangat personal, lalu menghubungkannya dengan refleksi mengenai kondisi Indonesia hari ini.

Sementara itu bagi Ariel Heryanto, gagasan terus untuk menulis sejak sekitar 1976. Dirinya selalu terusik oleh kenyataan bahwa ketimpangan sosial dapat berlangsung dalam masyarakat yang tampak relatif stabil, damai, dan seolah berjalan tanpa gejolak besar.

“Istri saya itu jengkel karena saya mikirin bangsa sampai stress, apalagi kalau udah dengerin  berita, stressnya bukan main. Bagaimana masa depan Indonesia. Jawabnya pendek dan umum saja. Bahwa masa depannya ya gin-gini aja. Jelek amat ya enggak, bagus banget ya enggak, bisa diperbaiki tapi mungkin enggak banyak. Jika ada rekan-rekan saya yang sangat khawatir tentang Indonesia, sebaliknya saya mungkin di tengah-tengah,,” kata Ariel.

Ariel bercerita, saat Prabowo menang pemilu, beberapa teman banyak khawatir. Bagaimana masa depan Indonesia. Menurut Ariel, dirinya sudah yakin seorang presiden tidak banyak bisa berkutik menghadapi situasi seperti ini. Paling bisanya omon-omo, sebab Indonesia bukan hanya dikuasai oleh misalnya freeport atau kekuatan asing, tapi juga oleh begitu banyak kekuatan-kekuatan dalam negeri yang tidak ada namanya, tidak tampil di televisi tapi menjelangkan indonesia untuk kepentingan mereka. Mereka ini tidak rela dan tidak mau dan tidak siap kalau terjadi perubahan besar Indonesia, sebab kenyamanan mereka harus dipertahankan.

“Siapapun presidennya tidak penting, sebab mereka tidak akan merubah Indonesia jauh lebih baik terutama untuk rakyat kecil. Sebab bisa merugikan nama-nama mereka, sosok mereka, organisasi mereka, alam mereka harus tetap tertutup, dan kelompok ini harus aman,” jelas Ariel

“Teman-teman saya aktifis yang radikal-radikal siap menjadi provokator besar-besaran agar perang baratayuda tertadi, agar Indonesia bisa berubah secara besar-besaran. Padahal merubah bangsa ini hanya ada tiga kondisi menjadi syarat. Pertama apabila terjadi krisis begitu parah hingga orang tidak bisa makan, enggak ada listrik enggak ada air, pasti semuanya marah. Kedua terjadi perpecahan yang tidak mungkin didamaikan. Di tingkat helikopter bertarung dengan polisi. Seperti raja-raja jawa yang perang sendiri, sehingga tinggal enak-enak saja Belanda mengambil alih kekuasan, sebab mereka saling bunuh-bunuh sendiri. Namun kondisi ini telah didamaikan. Serta ketiga apabila ada intervensi asing dan kepentingannya mengharuskan memasuki wilayah Indonesia. Hingga saat ini ketiganya belum ada tanda tandanya,” Jelas Ariel secara rinci.

Profesor Ariel mengibaratkan, kondisi bangsa Indonesia sedang bergerak di tempat. Atau terlahir di tempat,menggos-monggos keringatan tapi maju pelan melangkah. Acara diskusi ini ditutup dengan sesi penandatanganan buku oleh Ariel Heryanto. Sejumlah peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meminta tanda tangan, berfoto, dan berdiskusi secara langsung dengan Ariel mengenai gagasan-gagasan yang dipaparkan selama diskusi. (pul)