
Oleh Ekuslie Goestiandi (Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan)
Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, baru saja selesai bagian dari persiapan menjelang perhelatan akbar Asian Games, 18 Agustus sampai 2 September 2018. Menelan biaya yang besar, stadion tersebut akhirnya berubah wujud menjadi stadion yang dibanggakan oleh semua pihak, baik , juga khalayak banyak. Megah, gagah, dan juga mewah. Bahkan diklaim sebagai stadion dengan pencaha- yaan paling terang di Asia.
Namun, beberapa lama kemudian, menggunakan penyelenggaraan pertandingan final sepak bola Piala Presiden, 17 Februari 2017, ada bagian stadion yang dirusak oleh sekelompok masa yang tak bisa masuk stadion untuk menyaksikan pertandingan. Stadion yang sudah dibangun (ulang) dengan baik, dengan mudah dirusak begitu saja oleh orang-orang yang tak bertang- gung-jawab.
Kejadian itu mengingatkan saya pada orang tua, “membangun itu sulit, namun … mera wat (apa yang sudah dibangun) jauh lebih sulit pat lagi”. Pepatah itu tidak hanya terjadi dalam kon- teks perorangan, namun juga terjadi di aras organisasi. Banyak organisasi yang begitu dia- boh saat dibentuk, namun dengan berjalannya kap waktu, tak banyak di antaranya yang bisa tahan, apalagi bertumbuh baik.
Sama halnya, di dalam sebuah organisasi, kita sering melihat banyak inisiatif / proyek yang diluncurkan, namun seiring dengan berlalunya waktu, banyak yang betul-betul dieksekusi secara tuntas. Biasanya, kita ramai dan sibuk mempersiapkan acara kick-off (peresmian awal) sebuah inisiatif, namun acapkali kita juga yang diam-diam membiarkan agenda proyek tersebut mangkrak alias berhenti begitu saja tanpa jejak.
Kita pasti mahfum dengan dinamika inisiatif, proyek atau bahkan yang organisasi, organisasi yang bergerak seturut sebut. huruf “S”.
Disebut pula dengan istilah “kurva S” atawa S-curve. Mengikuti gerak huruf S, sebuah agen- da selalu dimulai dengan antusiasme yang dimulai. Oleh karena itu, kesalahan mengherankan, bila inisiatif awal selalu dipersiapkan sema rak, dan penuh semangat.
Seringkali kick-off diisi dengan seremoni pembukaan, gunting pita ataupun pidato peng- antar yang penuh semangat. Untuk mudahnya, ingat saja kembali upacara peresmian stadion GBK yang dilakukan meriah dan disaksikan ri- buan orang di bangku stadion dan jutaan mata di layar kaca.
Namun, apa yang terjadi sete- lah kick-off meriah dilangsung- kan? Lagi-lagi, mengikuti gerak huruf S, hype pelan-pelan atau antusiasme yang menurun, hingga suatu saat bergerak melandai rata. Ini adalah titik paling kritis dalam siklus huruf “S”.
Jika garisnya sendiri-sendiri bergerak merata, maka suatu saat akan menurun dan pelan-pelan begitu saja. Fenomena ini disebut pula sebagai eksekusi- inertia alias “kelembaman ekse- kusi”. Malah, jika bisa bangkit bergerak ke atas, maka kita akan menemukan pertumbuhan “monumen” yang memungkinkan se- buah inisiatif bergerak akseleratif.
Sikap fokus
Untuk menghindari kemungkinan kelem- baman-eksekusi, dalam bukunya The 4 Disci- plines of Execution, (2012) Chris McChesney, Sean Covey dan Jim Huling, mengingatkan em- alit pat disiplin yang harus dimiliki sebuah organisasi agar eksekusi rencana kerja dapat berlang- on- sung tajam.
Disiplin pertama dan juga utama, adalah si- kap fokus. Fokus membuat seseorang menge- rahkan seluruh atensi dan energinya untuk melakukan apa yang sudah dipersiapkan. Biara juga membuat seseo- rang “setia” terhadap apa yang sudah dimulainya, tak mudah terdistraksi dengan hal-hal baru yang muncul belakangan. Se- perti penggalan lagu dang-dut yang populer, fokus juga membuat seseorang sekaligus “bisa memulai, juga mengakhiri”.
Beberapa saat yang lalu, saya bertemu dengan seo- rang ibu rumah tangga yang begitu banyak tanaman asri. Antara rumah-ru- mah di sekitarnya yang relatif gersang dan tembok-tembok megah, rumah ini tampak berbeda sendiri. Wa- laupun bukan yang terbesar dan termegah, na- mun rumah ini tampak menonjol dan meman- carkan kesejukan yang luar biasa.
Tetangga-tetangga di sekitar ibu di atas sebagai “perawat tanaman yang setia”. Rumah-rumah di sekelilingnya boleh saja-miliki jenis tanaman yang bagus dan dalam pot yang besar, namun hasilnya toh tak seasri dan sesejuk tanaman sederhana dalam pot-pot kecil yang ada di rumah si ibu perawat tanaman ter- sebut.
Ibu mengingatkan kita, sekalipun memu- lai dengan inisiatif-inisiatif yang kecil, namun jika ditekuni dengan fokus, hasilnya tetap akan luar biasa.
Daripada kita memulai dengan kick-off yang besar nan heboh, namun jika tak dirawat oleh organ setia, toh tak akan menghasilkan apa- apa.
Kata guru saya, jangan berharap untuk bisa menumbuhkan atawa membesarkan, kalau tak bisa merawat apa yang sudah dimulai. Dan, seperti si ibu, pekerjaan merawat biasanya adalah “pekerjaan dalam diam”. The Works in Silence.
Sumber: Tabloid-Kontan.5-11-Maret-2018.Hal_.21
