1. Belajar Hospital Tourism di Fuda Cancer Hospital Guangzhou, Tiongkok. Jawa Pos. 22 Agustus 2014.Hal.19

Fuda Cancer Hospital Guang zhou , Tiongkok , punya cara tersendiri untuk memberikan pelayanan ” plus ” kepada para pasien . Apa itu ? Berikut catatan wartawan Jawa Pos SITI AISYAHI yang baru saja mengunjungi rumah sakit internasional tersebut . MARYAM , 26 , tampak ramah saat berbicara dengan salah seorang ke luarga pasien Fuda Cancer Hospital dari Arab Saudi . Perempuan asli Tiong kokitu dengan lancar berbicara dengan menggunakan bahasa Arab .

Sambungan dari hal 1 ” Saya pernah belajar bahasa Arab secara khusus di Arab saat masih berusia 19 tahun , ” ujar Maryam yang sudah setahun ini be- kerja sebagai penerjemah di Puda Cancer Hospital saut menemui rombongan media dari Indonesia Sabtu ( 16/8 ) .

Maryam bukan satu – satunya staf translator di rumah sakit tersebut . Total ada sepuluh penerjemah berbagai bahasa . Selain Arab , ada bahasa Melayu ( Malaysia ) , Thailand , Victnam , Inggris , dan Indonesia . Pasien di rumah sakit khusus kanker itu memang berasal dari ber- bagai negara . Tapi , yang paling banyak dari wilayah Asia , termasuk Indonesia .

” Belakangan pasien dari Arab Saudi mu- lai banyak , ” terang Maryam sambil menun- juk beberapa keluarga pasien yang menge- nakan burqa .

Maryam mengaku tak mengalami kesulit- an berarti dalam menjembatani komu . nikasi antara dokter dan pasien beserta keluarganya dari Arab . Dengan cara demi- kian , para dokter merasa terbantu dalam menjalankan tugas – tugasnya . Begitu pula keluarga pasien , merasa nyaman bisa ber- bicara dengan pihak rumah sakit dengan menggunakan bahasa Arab .

” Kesulitan baru saya temui bila pasien atau keluarga pasien menggunakan baha- sa daerah , ” tuturnya .

Banyaknya pasien dari negara lain juga men- dorong pihak rumah sakit untuk memberikan pelayanan ” plus ” Selain menyediakan staf translator , Pada Cancer Ilospital menyediakan fasilitas ” tidak biasa ” berupa tempat sembah- yang bagi para pasien dan keluarganya . Seperawatan jak 2009 mereka memiliki tiga ruang beriba- dah untuk pasien Islam , Buddha , dan Kristen . Tiga ruang – masing – masing berukuran 4 x 4 meter itu terletak berjajar di lantai 6 .

Di tempat sembahyang umat Islam ( musa- la ) , pengelola melengkapi dengan beberapa Alquran , mukena , buku – buku tentang Islam , penunjuk waktu salat , tasbih , dan berbagai perlengkapan lainnya . Sedangkan di ruang sembahyang untuk umat Buddha , ada gam – bar Buddha Gautama di dinding serta per- lengkapan untuk bersembahyang.

Sementara itu , ditempat ibadah umat Kristen , selain ada salib dan foto – foto Yesus Kristus , juga berjajar rapi bangku – bangkan untuk pasien atau keluarganya yang meminta bimbingan kerohanian dari pastor atau pendeta

Di Indonesia layanan seperti itu tentu sudah biasa . Tapi , di Tiongkok hal tersebut men- jadi sesuatu yang langka dan istimewa . Sebab , di sana sulit ditemukan tempat ibadah . Dengan demikian , ketika ada rumah sakit yang memberikan fasilitas ” plus ” berupa tempat ibadah , itu akan mendapat apresia- si dari pasien dan keluarganya . Tak cukup sampai di situ . Setiap Jumat pihak to rumah sakit menyiapkan satu mobil khusus untuk mengantar keluarga pasien yang ingin salat Jumat . Mereka akan diantar jemput ke 2 masjid terdekat yang jaraknya sekitar 30-50 menit dari rumah sakit . Pihak rumah sakit juga bekerja sama dengan sebuah gereja yang siap memberikan pelayanan gratis ke pada keluarga pasien yang Nasrani . Termasuk jika pasien ingin memanggil pastor atau pendeta ke kamar mereka untuk memberi kan bimbingan rohani .

Yang istimewa lagi , sudah setahun ini se luruh ruang rawat inap di Fuda Cancer Hospital memiliki petunjuk arah kiblat . Jadi , pasien atau keluarganya yang ingin salat di kamar bisa dengan mudah menge . tahui arah yang tepat . Kamar mandi di kamar – kamar perawatan juga menggunakan tulisan – tulisan dalam tiga bahasa : Inggris , Arab , dan Mandarin . Di kantin di lantai 6 juga ada stan khusus Islamic food yang men- jual makanan – makanan halal .

” Kami ingin pasien dan keluarganya merasa nyaman selama di sini , ” ujar Direk tur Fuda Medical Group Indonesia Dr Liu Zhengping ketika mendampingi rombong an media Indonesia menginspeksi ruang ruang di rumah sakit bertingkat tujuh itu .

Menurut lau , perawatan kanker tidak bi sa selesai dalam satu dua hari . Bisa ber minggu – minggu , bahkan berbulan – bulan . Karena itu , pihak rumah sakit berupaya agar pasien atau keluarganya bisa merasa nyaman selama menjalani perawatan .

Representative Office Fuda IIospital Ja karta Panny Surjono yang ikut dalam rom bongan dari Indonesia menambahkan , pasien dari berbagai negara yang menjalani Seperawatan di Fuda Cancer Hospital punya kebiasaan sendiri – sendiri . Misalnya , pasien dari Timur Tengah umumnya tidak mau bila dokter visite pada pagi hari . Mereka meminta dokter melakukan kunjungan pa da sore hari . Padahal , sore merupakan jam istirahat para dokter . Fanny tidak tahu ala san pasti mengapa pasien dari Timur Tengah mempunyai kebiasaan seperti itu .

Ada kemungkinan karena mereka menge nakan burga ( bagi pasien atau keluarganya yang perempuan ) . Jadi , ketika pagi mereka membuka burqa di ruangan sehingga mera sa terganggu jika ada orang asing masuk

” Kami bisa memahami ( kebiasaan pasien itu , Red ) karena dokter di sini total melayani dan untuk visite mereka tidak dibayar , ” terangnya .

DiTiongkok dokter tidak boleh berpraktik di lebih dari satu rumah sakit . Tidak seper ti di Indonesia yang memungkinkan dokter bertugas di banyak rumah sakit . Karena itu , dokter – dokter di Tiongkok dapat dengan cepat menyesuaikan bila ada perubahan perubahan jadwal pemeriksaan .

Bayaran mereka hanya dari gaji bulanan , plus bonus tahunan jika kinerjanya bagus . Karena itu , dokter di sini bisa lebih fokus terhadap pasiennya , ” terang Fanny sembari menambahkan gaji dokter di Tiongkok Rp 20 juta – Rp 40 juta per bulan .

Lantaran hanya berpraktik di satu rumah sakit para dokter jadi lebih ramah dan tidak terburu – buru atau dikejar waktu saat me meriksa pasien . Saat ada visite , pasien juga bisa bertanya sepuasnya . Kerja sama an tardokter spesialis juga lebih mudah di Tiongkok sehingga pelayanan kepada pasien lebih prima dan menyeluruh .

Lain lagi dengan kebiasaan pasien dari In donesia dan keluarganya . Mereka sering me mesan makanan sendiri dari para juru masak di kantin rumah sakit . Padahal , pengelola rumah sakit sudah menyediakan stan khusus makanan Indonesia . Lantaran cenderung merugikan pihak rumah sakit , sejak satu se tengah tahun lalu , stan itu ditutup .

” Sekarang tidak ada lagi staan Indonesian food ! itu terang Fannyssat mengajak makan di kantin .

Yang juga lain dari rumah sakit di Indonesia , pasien – pasien di Fuda boleh jalan – jalan ke luar rumah sakit . Dengan catatan , mereka harus lapor dulu ke dokter yang bertugas . Setelah itu , dokter akan mengecek kondisi kesehatan si pasien . Jika kondisinya menmgkin kan , mereka diperbolehkan pergi . Biasanya para pasien pergi ke pusat perbelanjaan atau sekadar jalan – jalan di sekitar rumah sakit . Tujuannya , membunuh rasa bosan .

” Setiap pasien asing punya nomor telepon penerjemah yang bertugas di sini . Sehingga , bila terjadi apa – apa , mereka bisa mengontak penerjemah untuk meminta bantuan , ” ujar Lina Tjahjadi , salah seorang penerjemah bahasa Indonesia yang asli Indonesia .

Misalnya , ada pasien yang ATM – nya ter telan mesin atau pasien tersesat di jalan dan sebagainya . Pihak rumah sakit akan membantu menguruskan administrasi di bank agar ATM si pasien bisa kembali.

Di Fuda Cancer Hospital juga ada acara rekreasi bagi pasien dan keluarganya setiap Minggu . Kegiatan rekreasi itu diperuntuk kan pasien yang kondisinya sudah membaik . Pihak rumah sakit memfasilitasi bus khusus yang akan mengantar dan menjemput pasien ke tempat yang dituju . Bisa ke pusat perbe lanjaan atau ke tempat wisata .

“Tempat wisata di sini jauh – jauh . Jadi , kami memfasilitasi agar keluarga pasien betah dan senang saat berada di Guangzhou” , terang Lina yang sudah sepuluh tahun me netap di Guangzhou

Pihak rumah sakit juga menyediakan ken daraan klusus ke Kedutaan Besar Indonesia di Guangzhou jika ada momen – momen khu sus Misalnya , saat Hari Raya Idul Fitri , pemun gutan suara pileg dan pilpres , serta perayaan hari kemerdekaan pada 17 Agustus lali . Dengan cara begitu , pasien jadi merasa seperti di ne gara sendiri . ” Apa pun kesulitan pasien , sela kami bisa bantu , akan kami bantu , ” tandas Lina . ( * / ari / c10 / bersambung )

Sumber: Jawa-Pos.-22-Agustus-2014.Hal_.19