Belajar-Jujur-Sedari-Kecil.-Kompas.21-Juni-2015.Hal.30

Mencontek kadang hanya dianggap sebagai kenakalan “kecil”. Kita lupa, inilah bibit ketidakjujuran. Bibit itu bisa tumbuh menjadi penyakit yang lebih “besar” seperti korupsi.

Ditto (18) malam itu resah. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 ketika beberapa temannya mengirim kabar bahwa ada bocoran ujian nasional yang bisa diunggah link-nya. Dia sempat bimbang. Di satu sisi, kesempatan melihat lebih dulu soal-soal bocoran tentulah sangat menggoda. Tetapi di sisi lain, Ditto sudah belajar mati-matian selama beberapa pekan terakhir dan merasa dirinya sudah siap menghadapi ujian.

Akhirnya Ditto memutuskan mengabaikan kabar itu. “Saya khawatir jika membuka soal-soal bocoran itu malah nanti bikin grogi dan konsentrasi buyar. Lagi pula saya sudah siap untuk ujian,” kata Ditto.

Dengan hasil nilai UN yang diperolehnya kemudian, Ditto merasa puas dan tidak menyesal telah mengabaikan bocoran. “Apa pun hasilnya, itu hasil sendiri. Daripada bagus, tetapi hasil bocoran. Kalau ketahuan pake contekan, wah malunya enggak ketulungan, apalagi kalau ternyata salah. Mending jelek tetapi hasil sendiri,” jelas Ditto.

Kebimbangan Ditto sempat juga dirasakan Tisha (17), yang memutuskan untuk tidak ikut-ikutan membahas bahan bocoran UN meskipun teman-temannya menawarinya. Seperti juga Ditto, Tisha sudah cukup siap menghadapi ujian. Ia merasa sudah menguasai materi-materi yang kemungkinan akan keluar. Toh, di dalam hatinya, dia agak kecewa kenapa sampai muncul bocoran karena orang-orang seperti dirinya yang  mempersiapkan diri dengan serius hal itu dirasakan tidak adil.

“Sama rasanya seperti ketika nilai ulangan saya kalah dari seorang teman yang saya tahu mencontek. Saya rasa tidak adil dan sedih karena saya belajar mati-matian. Tetapi ya mau bagaimana, tidak mungkin saya mengadukan kepada guru. Saya paling hanya bisa menghibur diri bahwa saya sudah jujur dan itu lebih penting dari sekadar nilai,” kata Tisha.

Belajar jujur

Peran orangtua sangat besar dalam menanamkan nilai kejujuran dan kepercayaan diri. Baik Ditto maupun Tisha memiliki orangtua yang sejak kecil sangat memperhatikan soal itu, yang dimulai dari hal-hal kecil, seperti tidak boleh menyela antrean, menghargai hal orang lain, dan sebagainya.

“Berbuat curang atau tidak jujur sekecil apa pun akan menuntun kita melakukan kecurangan yang lebih besar lagi,” kata Harjono, ayah Ditto. “Mungkin awalnya sekedar menyela antrean orang, terus melanggar rambu lalu lintas tanpa merasa bersalah, membuang sampah sembarangan tanpa merasa bersalah, lama – lama korupsi pun tidak merasa salahm” kata Harjono.

Contoh-contoh seperti itu saat ini sangat mudah ditemukan lewat pemberitaan di media massa. “Setiap koruptor yang ditangkap KPK dan muncul di televsi, saya selalu ingatkan anak –anak bahwa itu awalnya dimulai dari hal-hal kecil, misal korupsi waktu, korupsi peralatan kantor, lama-lama menjadi kebiasaan,” kata Harjono.

Orangtua Tisha pun menanamkan nilai-nilai serupa. Bagi mereka, proses merupakan hal penting. Hasil akhir, walaupun tetap penting, tetapi tak ada artinya kalau semua itu didapat dengan instan dan tidak jujur. Jika ingin hasil bagus, ya harus belajar. “Ibu selalu bilang, yang penting saya belajar dengan rajin dan disipilin. Kalau sudah berusaha keras tetapi ternyata hasilnya tidak maksimal, ya tidak apa-apa. Jadi mereka sangat anti pada soal contek mencontek. Saya juga tahu kalau sampai ketahuan, ih malu banget,” kata Tisha.

Citra diri

Kebiasaan mencontek awalnya dimulai dari citra diri sang anak. Menurut psikolog anak dan remaja, Catherine Dewi Liman, hal itu sangat ditentukan oleh bagaimana si anak memandang dirinya. “Kalau dia memandang dirinya tidak mampu, maka terbentuklah persepsi bahwa ia tidak mampu. Dari persepsi lama kelamaan terbangun sikap dan jika berulang-ulang akhirnya mewujud dalam perilaku. Dari perilaku itulah kemudian terbentuk karakter,” kata Catherine.

Jika nilai-nilai itu sudah menyatu dalam karakter, hal itu akan sulit ditangani. Oleh karena itu, peran oangtuan sangat dibutuhkan dalam membentuk citra diri anak. “Kalau kita ingin anak jujur, teladankan pada anak kejujuran. Jika anak jujur, beri apresiasi, termasuk kalau dia bekerja dengan jujur tetapi nilainya tidak memuaskan,” kata Catherine.

Ia mengingatkan bahwa proses pembentukan citra diri sudah dimulai dari sejak anak dalam kandungan dan kerap kali orangtua kebablasan karena menuntut anaknya untuk sempurna. Salah satu kebiasaan buruk orantua adalah “membandingkan” antara satu anak dengan saudara-saudara kandungnya. Kadang orangtua lupa, ikatan paling dasar pada anak adalah dengan saudara kandungnya karena mereka saling berhubungan dengan intens dari hari ke hari. Dengan demikian, anak akan selalu mengingat bagaimana orangtua mereja membandingkan dirinya dengan saudaranya.

“Jangan bandingkan anak yang satu dengan saudara kandungnya. Misalnya kalah cantik, kalah pintar, kalah putih kulitnya, dan lain-lain. Walaupun mungkin maksud orangtua hanya main-main. Hal ini akan melekat dalam memori anak. Sama juga dengan guru-guru di kelas, jangan membanding-bandingkan antara anak pintar dan tidak pintar apalagi dengan menyebut nama karena hal ini akan berpengaruh pada citra diri anak. Begitu dia mempersepsi dirinya bodoh atau gagal, akan muncul sikap ataupun perilaku yang mendukung persepsi itu,” kata Catherine. MYR

 

Sumber: Kompas, Minggu, 21 Juni 2015