Kuliah Entrepreneurship Jadi Jalan Sukses Anak-Anak Muda
Bursa kerja (job fair) atau sejenisnya tidak menarik bagi sebagian besar mahasiswa Universitas Ciputra. Begitu lulus, mereka memilih menjadi pencipta lapangan kerja (job creator) daripada menjadi pemburu pekerjaan (job seeker). Seperti apa?
WISUDA sarjana pada Sabtu lalu (28/9) merupakan pintu menuju dunia yang sesungguhnya bagi 392 wisudawan Universitas Ciputra (UC). Mereka telah siap. Sebagian besar, atau sekitar 70 persen, di antaranya telah punya bisnis sendiri. Kurikulum kewirausahaan (entrepreneurship) menjadi modal besar.
Contohnya, salah seorang mahasiswi yang bernama Camelia Shabrina Octavira. Berkat mata kuliah wajib membuka usaha, alumnus jurusan desain komunikasi visual (DKV) itu kini mantap berwirausaha kuliner. Dengan menggunakan nama Kiky’s Chicken Broast, Camelia buka usaha restoran berjalan. Menu ayam goreng pun jadi andalannya.
Awalnya usaha restoran tersebut menetap di satu tempat. Tetapi, karena permasalahan parkir, Camelia lantas mengubah konsepnya. “Ilmu dari kampus mengajarkan kami harus kreatif. Nah, ini bentuk kreatifku,” katanya.
Dimulai sejak 2011, kini omzet restoran itu mencapai belasan juta rupiah per bulan. Dari hanya satu unit, usaha dara kelahiran 3 Oktober 1991 tersebut kini menjadi dua unit mobil resto.
Hal yang sama diutarakan Bella Revi Sasmita. Berawal dengan ketidak-pede-an membuka usaha, kini Bella yang bekerja sama dengan temannya, yakni Steffy Oktavia, sudah menuai hasil dari usaha sepatu yang mereka rintis bersama.
Mahasiswi jurusan IBM angkatan 2009 itu kini tidak hanya berjualan via online, tetapi juga rajin mengikuti pameran-pameran di berbagai tempat. Hasil yang didapatkan pun memuaskan. Keuntungan jutaan rupiah mereka kantongi tiap bulan.
Dengan mengincar segmen anak muda, mereka memasarkan sepatu dengan range harga Rp 150 ribu-Rp 300 ribu. “Itu sesuai dengan ilmu yang kami terima. Kami kan harus tahu positioning dan target market yang dituju,” ujarnya berteori.
Kepala Business Incubator UC Suryani Halim mengungkapkan, kampusnya memang punya ketetapan khas. Sebelum lulus, seorang mahasiswa harus mampu membangun usaha mandiri. “Jiwa entrepreneurship itu yang kami bangun. Sebab, dengan menjadi pengusaha, kami tidak hanya menghidupi diri sendiri, tetapi juga orang lain,” tuturnya.
Suryani membeberkan, untuk lulusan tahun ini yang berjumlah 392 wisudawan, sudah terbentuk 157 unit bisnis. Semua dijalankan 273 orang. Jadi ada satu bisnis yang memang digarap secara berkelompok.
Omzet yang dicatatkan cukup fantastis untuk kategori pebisnis pemula. Yakni, total berkisar Rp31,5 miliar per bulan. Angka tersebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan dengan lulusan tahun lalu, Rp 18 miliar. Untuk genre bisnis sendiri. Suryani menyebut terbagi di beberapa bidang. Namun, mayoritas adalah kuliner dan lifestyle. ”Komposisinya 40 dan 30 persen. Lalu 30 persen yang lain menggarap bisnis di bidang lain,” jelasnya.
Menurut Suryani, kunci sukses melahirkan entrepreneur muda terletak pada kurikulum yang diajarkan kepada para mahasiswa.
Di semester satu, misalnya. Para maba (mahasiswa baru) sudah harus dibekali dengan ilmu personal selling. Untuk semester selanjutnya, yang harus dikuasai adalah business plan. “Selain di kelas masing-masing, ilmu-ilmu kewirausahaan itu kami bagikan dalam kuliah rutin setiap Rabu yang kami namakan Reboan. Tidak peduli dari jurusan apa, mereka harus ikut kuliah ini,” terangnya. (nji/c14/roz)
Gagak Bebek, Bangkit dengan Sepatu
MELAKONI usaha di usia muda memang tantangan tersendiri. Terutama soal kematangan dalam mengambil keputusan. Salah menilai sedikit, kerugian pun bakal diderita. Hal itu dialami Bella Revi Sasmita saat mulai berbisnis kali pertama. Sebelum terjun ke usaha sepatu, gadis yang berulang tahun setiap 6 Januari itu membuka usaha peternakan bebek.
Awalnya semua lancar. Bahkan, jumlah bebek yang dia ternak mencapai 1.000 ekor. Namun, karena kesalahan pengembilan keputusan, yakni memindahkan lokasi peternakan dari Porong ke Tulungagung, dia rugi.
Jumlah bebek yang dia ternak perlahan menyusut karena mati. “Akhirnya dengan sisa 100 ekoran, bebek itu saya bawa balik ke Surabaya. Sebagian ada yang dijual di pasar tradisional dan sebagian lagi digoreng,” katanya, lantas tertawa.
Kapokkah berbisnis itu? Bella menjawab tidak. Dari kejadian itu, dia mengaku justru belajar banyak. Yakni, bisnis memang harus sesuai dengan passion. “Makanya, sekarang saya menekuni bisnis fashion berupa sepatu. Dulu untuk bebek, hanya tergiur untung besar. Padahal, saya tidak menguasai bidang itu,” jelasnya. (nji/c11/roz)
Sumber: Jawa-Pos.2-Oktober-2013.Hal_.28

