Kenali Jenisnya
Mioma Pedunculated. Pedunculated berarti bertangkai. Jika mioma subserous tumbuh makin besar, mioma akan bertangkai di luar rahim (pedunculated subserous). Bila mioma subserous makin besar, mioma bakal bertangkai di bagian dalam rahim (pedunculated submucous).
Mioma Intramural. Karena letaknya di tengah dinding rahim, mioma ini biasanya tidak sebesar subserosa. Ukurannya cenderung mikroskopis atau sebesar anggur sehingga gejalnya kadang tidak mucul. Makin lama, mioma intramural akan mendesak dinding rahim. Entah itu ke bagian dalam rahim (submucous) atau luar dinding rahim (subserous).
Mioma Subserosa. Miomi ini terletak di bagian luar dinding rahim. Karena mendapatkan banyak ruang, mioma bisa tumbuh sangat besar.
Mioma Submucous. Tumbuh di bagian rahim. Miomi ini yang paling sering menimbulkan pendarahan. Karena itu, masa menstruasi seolah lebih lama daripada biasanya. Selain itu, mioma submucous paling sering menimbulkan nyeri di bagian perut.
Jika mendapati siklus haid lebih lama dan darah keluar sangat banyak, waspadai adanya mioma atau atau juga dikenal miom. Itu merupakan jenis tumor jinak yang tumbuh di rahi perempuan. Mioma tak seganas kanker serviks, tapi tetap membutuhkan penanganan serius. Setiap perempuan berisiko memiliki mioma di rahimnya. Menurut dr Manggala Pasca W. SPOG, spesialis kebidanan dan kandungan RSUD dr Soetomo Surabaya, sekitar 15-20 di antara 1.000 perempuan terkena mioma. Kemunculannya dikaitkan dengan faktor hormonal, dalam hal ini estrogen. Karena itu, gejalanya dialami perempuan usia reproduksi. Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko. Salah satunya adalah usia perempuan saat haid kali pertama. Semakin muda, risikonya semakin besar. “Sebab, estrogennya cenderung banyak,” jelas Manggala.
Selain itu, obesitas dan faktor genetik atau keturunan. Banyak pasien yang mengabaikan gejalanya. Padahal, dengan deteksi dini, bisa dilakukan penanganan untuk mencegah supaya mioma tak semakin besar. Diantara gejalanya adalah siklus haid yang lama dan banyak. Lalu, sering nyeri di perut bagian bawah dan jika diraba terasa ada benjolan, serta susah hamil. Putri, seorang pasien mioma yang kini berusia 35 tahun, menceritakan penyakitnya. Dia merasakan gejala awal ketika berusia 27 tahun. Siklus haidnya normal. Tapi, dia menemukan bercak pink yang keluar saat melakukan aktivitas berat. Tiga tahun kemudian, siklus haidnya menjadi tak teratur. Dalam sebulan, dia bisa mengalami dua kali menstruasi. Bahkan, suatu ketika masa haidnya berlangsung hampir sebulan penuh. “Saya betul-betul tak bisa memprediksi masa menstruasi saya waktu itu,” ujar Putri. Dia juga merasa darah haid yang keluar sangat banyak. Merasa ada yang tak beres, Putri ke dokter. “Waktu itu tiga kali ganti dokter, diagnosanya berbeda. Ada yang bilang itu janin, ada yang bilang hanya gangguan hormonal,” jelasnya.
Belum jelas diagnosanya, tapi gejala yang dirasakan semakin parah. Ketika haid, terasa ada gumpulan darah yang keluar. Akhirnya, dokter terakhir mendiagnosa adanya mioma. “Saya bisa raba dengan tangan di bagian perut, memang ada kayak benjolan seukuran telapak tangan,” ucapanya. Karena ukurannya cukup besar, jalan yang harus ditempuh adalah pengambilan mioma lewat operasi pengangkatan rahim. Setelah operasi, mioma tersebut diketahui berukuran sebesar jeruk bali atau sekitar 1,1 kg. “Pemulihannya sekitar tiga bulan. Tapi, saya baru benar-benar bisa menerima kondisi saya setahun kemudian,” ujar Putri. Menurut Manggala, mioma berukuran besar memang mengganggu fungsi rahim. Pendarahan terus terjadi. “Karena jaringannya terlalu menempel dengan rahim, akhirnya rahimnya harus ikut diangkat,” ujar Manggala.
Jika mioma masih kecil, dokter akan memberikan obat untuk mengurangi rangsangan hormonal. Tujuannya, ukuran mioma tak bertambah besar. Kalau ada gejala lainnya, pasien juga diberi obat untuk mengurangi keluhan. Mioma tanpa keluhan biasanya menyusut atau bahkan menghilang pada masa menopause. Namun, apabila pengobatan yang dilakukan tidak memiliki dampak efektif dan mioma terus membesar, pelaksanaan prosedur operasi menjadi jalan keluar. “Jika mengalami gejalanya, kalau bisa langsung periksa saja, tak usah takut,” jelas Manggala.
Sumber: Jawa-Pos.21-Maret-2017.Hal_.19

