Sumber berita : https://insight.kontan.co.id/news/berbicara-dengan-hati-di-wisata-religi-1
Pada bulan suci Ramadhan ini, pengembangan wisara religi laik untuk digemakan lagi. Mengingat, potensi pariwisata Indonesia sangat beragam dan kaya, menjadikan turisme Indonesia dikenal sebagai multidestination.
Pengalaman berwisata yang tiada duanya manakala wisatawan non-Muslim bisa berkunjung ke masjid-masjid ikonik. Di Surabaya, misalnya, masyarakat umum bisa berkunjung ke Masjid Cheng Ho dengan sentuhan arsitektur China, Juga Masjid Al Akbar yang megah dan besar. Di kawasan wisata religi Ampel (masjid dan Makam Sunan Ampel), wisatawan non-Muslim bisa mengakses sampal dengan batasan tempat tertentu.
Di Jawa Timur, ada makam suci lima dari sembilan wali yang kita kenal sebagai Walisongo, beserta warisan masjid yang didirikannya, turut serta menjadi rujukan wisata religi yang tidak terbatas pada umat beragama Islam. Sekilas contoh destinasi wisata religi berbasis agama Islam di Surabaya juga menghampiri wisata religi Islam di daerah-daerah lin di Indonesia, termasuk juga wisata religi dengan basis keberimanan yang, lain.
Wajah Indonesia yang pluralistik tergambar nyata dan harmonis bisa dinikmati, diresapi dan diindra secara langsung oleh seluruh bangsa Indonesia. Gambaran kehidupan antar umat beragama yang damai, universal dan bersahabat terwakili di wisata religi. Dalam kemasan wisata religi itu pula lah, rasa mengenali dan ikut memiliki sebagai kekayaan budaya dan spiritualitas nusantara tumbuh tertanam dalam-dalam pada anak bangsa.
Pada wisata religi, terjadi interaksi dan komunikasi mendalam antar umat manusia. Tour guide selaku host, berbicara dengan hati menyampaikan nilai-nilai luhur yang melekat di destinasi wisata religi. Wisatawan selaku tamu mendengar dengan hati untuk mendapatksn pengalaman berziarah yang mendalam dan berguna bagi laku kehidupan sehari-hari.
Di sini, wisata religi menumbuhkan kesalingpengertian dan persaudaraan seluruh bangsa Inconesia. Di tempat-tempat peribadatan yang menjadi simbol keberimanan di Indonesia, peziarah (Wisatawan) tertunduk hormat sambil merenungkan eksistensi keberagaman di tanah air yang merapakan anugerah Sang Pencipta kepada bangsa yang dicintai-Nya ini.
Faktor kesucian, sejarah dan arsitektur suatu bangunan menjadi alasan utama mengapa orang berziarah ke makam-makam orang suci, di antaranya tradisi ziarah Walisongo (makam Sunan Ampel, Suran Giri, Sunan Drajat, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, dan Sunan Kudus).
Menurut arkeolog Prof Dr Hasan Muarif Ambary dalam bukunya Menemukan Peradaban, Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, dalam paket wisata ziarah setidaknya terdapattiga komponen terkait. Yakni wisata sebagai kegiatan perjalanan yang diorganisasi biro perjalanan, masyarakat pengguna jasa wisata, dan obyek wisata yang meliputi alam, sejarah, dan arkeologi.
Wisata religi dalam arti yang sebenarnya melekatkan kebutuhan peziarahan (spiritualitas) dengan rekreasi. Dalam prosesnya, berwisata religi juga terkandung muatan edukasi. Belajar dari orang-orang suci yang makamnya kita kunjungi, menapaki teladan hidup mereka, dan lebih-lebih memberi inspirasi dan memotivasi umat manusia untuk menata laku hidup yang menghantarkan para pendahulu kita sebagai orang-orang suci.
Dalam hal tata kehidupan sebagal bangsa yang memiliki dan menjunjung tinggi harmoni dalam keberagaman itulah. Indonesia memiliki daya tarik, keungsulan sekaligus keunikan yang sangat berpotensi sebagi pilar, positioning dan trademark pariwisata Indonesia di antara bangsa-bangsa di dunia. Persaudaraan, kesalingpengertian dan kebersamaan antara umat beragama, lebih-lebih pada momentum bulan Ramadan, jelas-jelas adalah hal penting yang amat memikat turis. Perundangan kepariwisataan, yakni UU 10/2009 juga menyatakan pariwisata untuk mempererat persahabatan antar bangsa sebagai salah satu tujuan di antara 10 tujuan kepariwisataan.
Place storytelling
Disadari akan pentingnya tour guide yang profesional di destinasi wisata religi, maka kedalaman komunikasi dengan cara berbicara dengan hati menjadi dasar untuk menyentuh peziarah. Selain itt, diperlukan kemampuan place storytelling.
Pada awal Agustus 2019 di Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Lahut Binsar Panjaitan meryatakan kepada pers bahwa untuk mengembangkan pariwisata.di destinasi super prioritas yaitu Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo Likupang, Presiden Jokowi telah mengarahkan wisata storynomics. Strategi yang diterapkan dengan mengutamakan naratif, konten kreatif dan budaya hidup serta menggunakan kekuatan budaya sebagal ‘DNA Destinasi’.
Me Kee (2018) menyatakan, pemasar yang menguasai teknik mendongeng akan menanam dan memanen hadiah abadi ketika mereka menciptakan masa depan. Pembeli saat ini lebih tertarik pada format cerita yang menarik sama seperti orang selal tertarik pada cerita. Mendongeng juga menjadi peluang pemasaran sebagai pengganti kejenuhan konsumen dengan iklan. Produser harus mampu menarik perhatian publik tidak hanya dengan cerita biasa, tetapi harus impresif dan mampu menghasilkan aksi, pendengar cerita harus segera terdorong untuk membeli apa yang disjikan dalam cerita. Pemasaran destinasi wisata dan narasi tour guide tidak terkecuali.
Storynomics tidak lain adalah metode pemasaran dengan menggunakan metode mendongeng tentang latar belakang suatu objek atau daya tark wisata di destinasi di sekitar kita. Kreativitas sangat dibutuhkan untuk mengemas, mengeloła, memasarkan, dan menjual destinasi dengan power of place storytelling (Bassano, dkk, 2018).
Potensi pembangunan wisata religi di Tanah Air pada momentum bulan suci Ramadan memiliki perspektif baru yang patut diprioritaskan, yakni mengoptimalkan kemampuan host dalam berbicara dengan hati ketika menyambut peziarah, serta pemanfaatan sumber-sumber sejarah yang melekat pada situs-situs suci ke dalam narasi promosi dan identitas produk. Originalitas yang menjadi kata kunci menghadirkan pengalaman akan semakin bermakna mendalam dalam diri guest ketika host menyampakannya dengan hati. Tanpa originalitas dan ketulusan hati, maka value suatu produk-dalam hal ini destinasi religi tidak optimal dalam memberikan benefit dan erperience pada peziarah. Padahal, experience yang tiada duanya yang saat ini dicari dan dibutuhkan oleh umat manusia.

