Sejumlah pengusaha berbisnis bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi berupaya agar usaha yang dijalankan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan juga lingkungan sekitar. Salah satunya dengan mengolah limbah menjadi bahan yang dibutuhkan masyarakat.

Bapak entrepreneurship (alm) Ir. Ciputra pernah menyampaikan, entrepreneur adalah mereka yang bisa mengubah sampah menjadi emas. Konsep inilah yang diterapkan ecopreneur dengan memanfaatkan limbah sampah menjadi eduk bernilai tambah. Produk

Salah satu ecopreneur yang sukses menyulap limbah menjadi produk bernilai adalah Alterga Edi Tri Anggoro, Owner Jerawood. Pria kelahiran Magelang, 4 Desember 1989 ini mengolah limbah-limbah kayu yang berasal dari pabrik sekitar rumahnya menjadi produk kerajinan seperti jam tangan, kacamata, sprio (stereo aktif), dan sebagainya.

“Di daerah kami banyak limbah kayu dari pabrik dan itu berujung pada pembakaran. Lalu saya pikir bagaimana agar limbah ini ini dimanfaatkan saja sehingga nilainya bisa naik. Kami pun mengolah potongan-potongan kecil dari limbah kayu ini menjadi jam tangan dan kacamata,” tuturnya.

Meski berasal dari limbah kayu, memproduksi dalam Jerawood, pria yang akrab disapa Erga ini benar-benar memperhatikan kualitas kayu yang digunakan. Sebab, bagaimanapun bahan baku dan material menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi ecopreneur

“Karena ini limbah maka setiap pabrik pasti beda-beda ukuran dan potongan kayunya. Nah, ini yang harus benar benar kami sortir, misalnya dari 100% limbah yang kami ambil hanya 60%-70%% yang bisa digunakan,” ujarnya.

Dalam mengembangkan bisnisnya, Erga tidak hanya sekadar menjual produk, tetapi memberi nilai filosofi dan story dari setiap produk yang dijual, termasuk membuat packaging yang menarik dan finishing eco living yang tidak mengganggu lingkungan. Dengan demikian, konsumen juga dapat ikut merasakan kontribusi mereka dalam lingkungan sekaligus membantu brand lokal.

Menurutnya, penjualan produk Jerawpod sempat mengalami kendala pada awal pandemi. Namun, dengan memanfaatkan media sosial dan marketplace penjualan produk kembali meningkat. Adapun produk yang paling diminati adalah jam tangan dan kacamata dengan kisaran harga Rp350.000-Rp1,2 juta.

Dalam mengembangkan produknya, saat ini Erga terus fokus melakukan penyebaran informasi mengenai nilai filosofi dan kisah di balik proses produksi Jerawood, kemudian melakukan branding untuk meningkatkan kepercayaan konsumen, dan selling atau penjualan.

Adapun untuk melakukan scale up bisnis, Erga lebih fokus pada segmentasi pasar, yakni mencari konsumen yang memang memiliki visi dan misi yang sama terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Mona Monika, Head of GSMC Bank DBS Indonesia mengatakan secara umum ada dua konsep entrepreneur yang memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat, yaitu ecopreneur dan sociopreneur Ecopreneur biasanya lebih berfokus pada lingkungan sedangkan sociopreneur memberi fokus lebih kepada masyarakat atau manusianya.

Dalam proses perjalanan dan pertumbuhannya, dua tipe bisnis ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sebab, makin baik lingkungan maka akan makin baik pula dampaknya untuk masyarakat. Begitu pula makin baik kualitas kehidupan dan intelektualitas masyarakat, akan memberikan dampak positif pada perbaikan lingkungan.

Terkait perkembangan ecopreneur di Indonesia saat ini, menurutnya ada potensi untuk terus meningkat seiring dengan mulai aktifnya pemerintah dan pemimpin negara di dunia dalam menjalankan agenda keberlanjutan.

“Namun ada tantangan yang dihadapi ecopreneur untuk dapat berkembang pesat di Indonesia, berbeda dengan negara maju. Sebab, negara berkembang seperti Indonesia belum memiliki standar kehidupan dan awar eness yang sama tingkat atau levelnya dengan negara maju,” tuturnya.

Meski demikian, saat ini sudah ada sejumlah pelaku in dustri dan bisnis yang telah memberikan perhatian khusus serta melakukan langkah-langkah signifikan untuk mendorong pertumbuhan ecopreneur di Indonesia.

Salah satunya Bank DBS melalui DBS Foundation yang memberikan dana hibah DBS Foundation SE Grant Pro gramme dalam program Towards Zero Food Waste bagi wirausaha yang bekerja mengurangi emisi gas rumah kaca dan membantu menghentikan perubahan iklim dengan menangani masalah sampah makanan.

RUMAH KACA

Karen Ngui Group Head DBS Strategic Marketing and Communications dan Board Member DBS Foundation mengatakan bahwa sampah makanan telah menjadi pe nyumbang besar emisi gas rumah kaca. Kaca “Towards Zero Food Waste ini berupaya untuk mendukung bisnis berdampak sosial untuk mengatasi masalah terkait, seperti, sampah pangan dan kesenjangan dalam rantai pasokan pangan,” ujarnya.

Salah pelaku usaha ecopreneur yang berhasil mendapatkan dana hibah karena mampu mengembangkan bisnisnya dengan mengolah sampah pangan adalah Kita Hebat. Dalam pengembangan bisnisnya, Kita Hebat berfokus pada gerakan pengolahan sampah makanan menjadi produk ramah lingkungan. Misalnya saja dengan mengolah sisa sayuran menjadi sanitizer dan pembersih cair organik. Selain itu, mereka juga dapat mengolah sisa minyak jelantah menjadi sabun batang organik, serta kotoran hewan yang diolah menjadi pupuk kompos. Semua produk tersebut dikemas dengan baik sehingga lebih menarik untuk kemudian dipasarkan secara langsung maupun melalui pemasaran digital.

Menariknya, dalam proses pengolahan tersebut, bisnis yang dikembangkan oleh Sukendro Saputro ini juga mem berdayakan para remaja putri, remaja berkebutuhan khusus dan keluarga berpenghasilan rendah sehingga dapat ikut menciptakan lapangan pekerjaan bagi kelompok marginal.

“Saat ini kami banyak memasarkan melalui marketplace dan media sosial, rata-rata penjualan bisa mencapai Rp20 juta hingga Rp30 juta sebulan,” ujar Sukendro.

Kita Hebat, katanya, akan terus berkomitmen mensosialisasikan gerakan Zero Food Waste kepada masyarakat luas dengan memberikan pelatihan kepada beberapa ko munitas, sekolah, maupun usaha rumahan.

Sukendro menceritakan, mulanya pada 2011, Kita Hebat mengolah sampah-sampah anorganik seperti kertas, botol, karton dan sebagainya. Namun ternyata mereka sulit bersaing dengan pabrik-pabrik besar karena menggu nakan mesin industri, sedangkan mereka hanya memakai alat tradisional.

“Akhirnya kami berpikir untuk mengolah sampah-sampah organik pada 2016, ternyata tanggapan pasar cukup baik, maka kami fokus di sini. Untuk packagingnya kami menggunakan kertas dan plastik daur ulang, sebisa mungkin material yang kami pakai tidak merusak lingkungan,” ujarnya.

Namun, memang dalam mengembangkan produk daur ulang ini masih ada kendala yang kerap dihadapi, teruta ma dalam hal standardisasi bahan baku. Hal ini yang kemudian membuat mereka sulit mendapatkan sertifikasi dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Mereka cukup kesulitan untuk mengurus legalitas dan sertifikasi karena sulit untuk membuat standardisasi ba han-bahan daur ulang. Bisa jadi juga karena teknologi pangan yang mereka gunakan masih konvensional, meng ingat harga peralatan dengan teknologi yang canggih itu mesinnya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

“Sayangnya, kami juga sulit mendapatkan bantuan dari pemerintah, termasuk pendanaan dari perbankan. Pada hal, bisnis yang kami kembangkan ini membantu program pemerintah untuk lingkungan dan sosial,” ujar pria yang berdomisili di Medan, Sumatra Utara ini,

Mendorong Ecopreneur

 

Ecopreneurship adalah wirausaha yang berinovasi dalam menciptakan dan menjual produk ramah lingkungan atau jasa. Konsep utamanya mengubah paradigma pelaku usaha dari berbisnis ekonomi yang berorientasi pada mutlak keuntungan menjadi orientasi yang ramah lingkungan.

4 Prinsip Ecopreneur dalam menjalankan usahanya

  1. Reduce atau mengurangi, yaitu melakukan penghematan penggunaan sumber daya serta mengurangi penggunaan bahan beracun yang dapat membahayakan lingkungan serta makhluk hidup lainnya.
  2. Reuse atau pemakaian kembali, menggunakan kembali sumber daya yang sudah digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas.
  3. Recycle atau mendaur ulang, mengubah bentuk dan memanfaatkan kembali limbah menjadi barang-barang yang berguna dan mempunyai nilai jual.
  4. Upcycle, yaitu memberikan manfaat yang baru, inovatif, serta tampilan menarik pada produk-produk yang tadinya sudah tidak terpakai lagi.

 

Sumber: Bisnis Indonesia. 23 Januari 2022. Hal. 8