14 Februari 2016. Putri Kuswisnu Wardani tentang Industri Berbasis Budaya_Berdaya Saing dengan Niti, Niru, dan Nambah. Jawa Pos. 14 Februari 2016.Hal.1,11

Meskipun tidak termasuk industri utama, kosmetik tidak bisa dipandang sebelah mata. Kebutuhan akan produk tersebut tidak pernah surut.

SEBAGAI pelaku utama di bisnis kosmetik, Putri Kuswisnu Wardani, presiden direktur Mustika Ratu, menilai industrinya masih kurang dilindungi regulasi yang berpihak.

“Kosmetik impor bisa masuk tanpa melalui proses verifikasi. Sementara  sektor lain harus melalui proses itu,” kata Putri kepada Jawa Pos di Sultan Hotel, Jakarta, Jumat (12/2).

Hal tersebut berdampak besar pada industri kosmetik nasional. Bayangkan saja, dari seluruh kosmetik yang beredar di atas air, hanya 30 persen yang merupakan produk asli Indonesia. Sisanya merupakan barang impor. Baik yang legal maupun selundupan. Hal itu berdampak langsung bukan hanya pada para pelaku industri, tapi juga pemerintah dan konsumen.

Pelaku industri kosmetik nasional sudah pasti dirugikan. Produk mereka dipandang sebelah mata karena konsumen cenderung lebih percaya pada produk impor. Pemerintah pun dirugikan karena tidak semua kosmetik impor masuk melalui jalur yang benar. “Kerugian pajak pasti dialami pemerintah,” tutur ketua Dewan Pembina Yayasan Puteri Indonesia tersebut.

Dengan masuknya kosmetik tanpa verifikasi, jaminan keamanan dan keselamatan konsumen pun menjadi tidak ada. Izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang menjadi acuan keamanan produk pun belum tentu tercantum dalam kosmetik-kosmetik tersebut. Akibatnya, tidak sedikit konsumen yang menjadi korban.

Perempuan yang menjabat ketua bidang ekonomi kreatif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) itu mengatakan pernah mendapat laporan dari seorang dokter kulit yang menangani pasien korban  kosmetik impor. Pasien tersebut terpaksa dirawat inap karena mendadak sesak napas setelah menggunakan produk pemutih impor yang dibelinya secara online.

“Ada beberapa kandungan kosmetik tertentu yang memang terlalu besar. Tidak ada izin BPOM juga,” cerita putri BRA Mooryati Soedibyo, pendiri Mustika Ratu, itu.

Jika kondisi tersebut terus-menerus dibiarkan, bukan tidak mungkin industri kosmetik Indonesia bisa luluh lantak tergilas serbuah produk impor. Kondisi itu sangat jauh berbeda dnegan ketika Putri kali pertama turut terjun ke industri kosmetik. Kala itu, pada 1985, kosmetik dalam negeri masih bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dia mengatakan, waktu itu hanya ada Viva dan Mustika Ratu. Viva menjangkau pasar menengah ke bawah, sedangkan Mustika Ratu di pasar menengah ke atas.

“Sementara itu, jumlah kosmetik impor masih bisa dihitung jari. Tapi, sekarang ini semuanya justru berbalik karena kita sudah mulai masuk pasar bebas. Dan kita harus berusaha keras untuk bisa bersaing,” ungkap lulusan Master Of Business Administration National University Inglewood, California, Amerika Serikat, tersebut.

Sebagai pelaku, Putri tentu tidak tinggal diam. Dia pun mulai merancang strategi. Budaya dijadikan Putri sebagai filosofi dalam menghadapi tantangan. Putri memang terlahir di keluarga yang memegang teguh budaya Jawa. Nilai-nilai itu juga akhirnya diturunkan ke Putri sebagai penerima tongkat estafet dalam menjalankan perusahaan. “Niti, niru, nambah. 3N yang paling saya ingat. Itu luar biasa sekali,” ucap dia bersemangat.

Menurut Putri, filosofi yang sudah ada sejak 1700 atau 1800 tersebut masih sangat relevan untuk diterapkan dalam bisnis hingga sekarang. Niti atau niteni berarti mengamati. Melihat apa yang jadi keunggulan yang lain untuk kemudian dipelajari.

Niru atau meniru adalah langkah selanjutnya. Produk tentu tidak melulu 100 persen hasil penemuan. Bisa juga hasil inspirasi produk lain. Jika memang packaging dan cara komunikasi menjadikan produk pesaing sukses, cara tersebut tentu saja bisa ditiru. “Namun, kita tetap harus nambah. Harus ada nilai tambah yang akan membuat produk kita lebih unggul daripada produk pesaing,” jelas sekretaris Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) itu.

Putri melanjutkan, itu juga yang dilakukan Jepang dan Korea. Tiga puluh tahun lalu, mobil Jepang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mobil Eropa. Putri mengatakan, kala itu mobil Jepang diketok pun bisa penyok seperti kaleng. “Sekarang coba lihat. Jepang punya banyak mobil mewah sekarang. Enggak kalah dengan Eropa. Korea juga mulai muncul sekarang dengan produk elektroniknya,” ungkap peremuan kelahiran Jakarta, 20 September 1959, tersebut.

Dengan filosofi Jawa itu, Putri yakin industri kosmetik Indonesia bisa maju dan bersaing dengan produk impor sekalipun. Dia juga terus meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa produk dalam negeri tidak kalah dengan produk impor. “Setiap ada kesempatan untuk berbicara, saya pasti akan terus mengampanyekan itu,” ujarnya.

Putri juga mencoba mengenalkan produk kosmetik buatan Mustika Ratu ke pasar global melalui Yayasan Puteri Indonesia. Puteri Indonesia yang bertugas ke luar negeri akan dibekali kosmetik dari Mustika Ratu. Di sana secara tidak langsung mereka juga akan mempromosikan produk Indonesia ke teman=teman sesama ratu kecantikan. Dengan begitu, orang – orang di luar sana akan makan aware dengan produk kosmetik Indonesia.

“Kami juga secara konsisten sudah melakukan ekspor produk ke 20 negara. Kan selain hanrus defense dari serangan luar, kita harus offense. Salah satunya dengan cara invansi ke luar negeri,” kata dia.

Namun, lanjut Putri, kesuksesan produk Indonesia bersaing dengan produk impor rtidak akan bisa terwujud jika tidak ada sinergi antara para pelaku bisnis, akademisi, dan pemerintah. Tiga unsur yang dikenal dengan istila ABG (academics-business-government) itu harus bekerja sama. Dengan adanya pengembangan produk dari para akademisi, strategi dari para pelaku bisnis, dan regulasi yang mendukung dari pemerintah, bukan tidak mungkin Indonesisa bisa jadi the next Jepang atau Korea.

“Enggak apa-apa kita telat. Yang penting masih bisa eksis nantinya,” ucap wakil ketua umum bidang industri tradisional berbasis budaya Kamar Dagang dan Industri (Kadin) itu. (and/c9/sof)

 

Jawa Pos 14 Februari 2016

UC Lib-Collect