Pola asuh orang tua yang terlalu melindungi kadang-kadang mem- buat anak tidak belajar me- ngendalikan situasi. Dalam diam saja, semua sudah ter- sedia. Tidak perlu meminta, semua sudah ada. Jika demi- kian, untuk apa bersuara.
Santi belajar dari kepona- kannya yang harus menjalani terapi selama beberapa tahun sebelum akhirnya belajar me- ngeluarkan pendapat saat di rumah. Ketika mendapatkan teman-teman dekat yang me- mahami, keponakannya bisa berbagi cerita meski tidak banyak.
Santi bekerja sama dengan guru kelas Maya. Guru akan memberi stiker pada Maya jika ia bisa menjawab dan mengeluarkan pendapat tan- pa menunggu ditunjuk. Di rumah, stiker juga diberikan jika Maya bercerita tentang sekolah, tentang teman-te- mannya, atau tentang pera- saannya. Santi bersepakat, jika stiker itu terkumpul 10 dari guru kelas dan 10 dari rumah, Maya boleh berenang lebih lama di akhir pekan. Berenang menjadi kegiatan yang masuk Maya.
Meski belum tampak efek- tif, pemberian stiker itu membuat Maya mau bercerita. Ia juga selalu menempel stiker di agenda dengan mata berbinar.
Ermida menyarankan agar anak ber- bicara secara bertahap. Bila anak mau berbisik maka tetap dorong anak sampai akhirnya anak mau mengelu- arkan suaranya seperti orang normal.
“Anak bisa mengawali dengan berbisik, kemudian Berbicara dengan pelan pada kelompok kecil, sampai ke mudian Berbicara dengan keras di depan kelas. Berikan pujian setiap kali anak dapat melakukan suatu tahap bicara. “Katanya.
Cerita boneka, dongeng, bermain kelompok, atau ber-main peran ampuh mengatasi aksi diam. Metode bermain yang sangat tepat digunakan pada anak karena adanya hal yang menyenangkan bagi anak sehingga anak tidak sadar akan terlatih untuk berbicara di depan orang lain. (*)
Sumber: Surya 8 Oktober 2017. Hal 12

