Janet Teowarang, Desainer Surabaya dan Perjuangannya Membidik Pasar Australia_Berkarya Lewat Tren Berselimut Ideologi. Jawa Pos. 9 April 2017.Hal.29,39

Janet Teowarang memang desainer yang idealis. Sejak awal karir, dia sudah menentukan jalannya. Langkah demi langkah, capaian itu terwujud. Janet menjadi salah seorang desainer yang berkesempatan menjelajahi pasar fashion di Negeri Kanguru.

ASA WISESA BETARI

MENJADI desainer bukan sekedar meraup inspirasi untuk membuat baju. Diperlukan juga strategi matang untuk berbisnis. Menyediakan karya untuk membidik pasar dunia. Itulah cara Janet Teowarang, 39, dalam menembus pasar internasional dengan fashion. Tak sekedar ikut arus, Janet mempunyai prinsip sejak awal mendalami profesi desainer. Dia menyebutnya tren yang diselimuti ideologi.

Janet merupakan dosen Jurusan Fashion Design and Business Universitas Ciputra. Dia mengawali karirnya sebagai desainer sejak 2009. Awalnya terima order, Nurut aja mau orang apa, lalu aku disuruh buat baju. But that’s not my path (itu bukan jalanku, Red),” ujarnya.

Janet stress ketika harus melayani banyaknya permintaan yang aneh-aneh” dari pelanggan. Dia tak lagi sanggup membuat baju yang bertentangan dengan seleranya.

Mengintip Gaya Berbusana Orang-Orang Aussie

BERKARYA…

Sambungan dari hal 29

Kemudian, pada 2011 dia mengambil langkah tegas. Semua pelanggannya harus menurut denganya. “Aku nggak mau jahit baju yang modelnya lihat majalah,” katanya.

Dia mengakui, untuk menciptakan mode sendiri, diperlukan langkah yang berani. Risiko harus melepas pelanggan yang ingin menciptakan model baju sendiri pun diambil. Pada tahun itu pula Janet memulai prosesinya sebagai salah satu pengajar tidak tetap di alur studi Fashion Design and Business Falkutas Industri Kreatif Universitas Ciputra.

Kini Janet telah malang melintang di dunia fashion. Terutama fashion di ranah pendidikan, sesuai profesi yang masih dijalaninya hingga sekarang. Walau bergelut didunia mode, Janet mengaku bukan sosok yang narsistik dan fotogenetik. Cara berpakaiannya praktis. Celana panjang yang nyaman, rambut yang diikat kebelakang  dan minim aksesoris. Tak ada kesan yang menunjukkan ahli fashion yang selalu tampil glamor. Namun, Janet bisa merombak model-model sehingga menjadi terlihat outstanding dengan rancangannya.

Meski membangun karyanya di Kota Pahlawan, Janet tak membidik pasar dalam negeri. “Saya selalu menekankan kepada klien bahwa rancangan saya berbeda. Bukan seperti baju-baju yang banyak beredar di Surabaya,” terangnya. Rancangannya berkiblat ke tren fashion Australia.

Selama lebih dari tujuh tahun berkarya, Janet mengamati perkembangan fashion Australia. Meliputi gaya masyarakat dalam berbusana, rancangan para desainer asal Australia, hingga perputaran bisnis “Saya incar pasar Aussie. Jujur saja mereka lebih mengapresiasi karya saya,” terang dia.

Hasil pengamatan tersebut kemudian membawanya pada The Australia Awards Internasional Business Readiness-A Course for the Fashion and Textiles Sector Short Term Award. Acara itu dihelat Kedutaan Besar Australia di Indonesia yang juga bekerja sama dengan pemerintahan Indonesia. Di sana, para desainer tanah air dibekali ilmu dan pengalaman untuk melebarkan sayap di kancah dunia, terutama Australia.

Janet merupakan seorang diantara 25 desainer terpilih seIndonesia yang ikut short course. “Saya satu-satunya dari Surabaya. Desainer lain dari Jakarta,” terangnya. Beberapa label kenamaan semacam Ria Miranda, Daniyo Hiyoji, Jenahara Black Label, Day and Night, dan lain-lain turut ambil bagian bersama Janet yang mengusung label Allegra Jane. “Kebanyakan dari mereka sudah merambah panggung Jakarta Fashion Week. Cuma saya yang belum,” tambahnya, lantas tersenyum simpul.

Sebanyak 25 desainer yang lolos itu adalah hasil penyaringan dari ratusan label yang terdapat di Indonesia. Baik yang mendaftarkan diri maupun yang dipilih tim juri panel dari Australia. Janet salah seorang desainer yang mendaftarkan diri.

Ditengah kesibukannya menjalankan proyek fashion sekaligus mengajar, Janet mempersiapkan proposal pendaftaran. Selama seminggu, dia mengisi segala hal tentang rancangannya. Misalnya, penjabaran tentang keunikan desain baju, pangsa pasar, planning bisnis, termasuk kontribusinya untuk pasar fashion di Indonesia dan Australia. “Sangat detail,” katanya.

Proposal yang sudah siap dikumpulkan akhir Januari. Lalu, pertengahan februari Janet menerima pengumuman. Sejak ditetapkan sebagai kandidat yang lolos, Janet diberi waktu sepuluh hari untuk mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin dibutuhkan saat menjalani short course di Australia. Tahap itu disebut pre-course dan berlangsung di Jakarta.

Pada 11-24 Maret, Janet dan kawan-kawan digenjot untuk menjadi desainer kelas dunia guna membuka pasar di Australia. “Kami sudah memiliki karakter masing-masing. Intinya, bagaimana mempersentasikan kualitas desainer Indonesia di sana,” katanya. Semua biaya ditanggung penyelenggara acara. “Kami tak keluar biaya. Kecuali untuk belanja,” tambahnya.

Setelah menyelesaikan pre-course di Jakarta, para desainer diboyong ke Australia. Acara berlangsung di tiga tempat, yakni Melbourne, Sydney, dan Brisbane. Agenda tambahannya jalan-jalan ke Noosa, Queensland, salah satu objek wisata alam yang eksotis. Acara itu juga bekerjasama dengan Queensland University of Technology Australia.

Banyak hal yang membuka mata Janet saat mengikuti kegiatan tersebut. “Kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Dosennya adalah pakar fashion di Australia,” jelas ibu dua anak itu. Pelajaran yang dipaparkan dimulai dengan membahas tekstil, lalu pelabelan, hingga cara berpakaian orang Australia. Referensi fashion juga didapat dari agenda Melbourne Fashion Festival 2017.

Kesempatan untuk memasuki pasar Australia terbuka. “Salah satu took ritel yang menjual karya desainer asal Australia menawarkan kerja sama jelasnya. Pemilik took yang berlokasi di Sydney itu memberi Janet celah untuk memajang rancangannya.

Namun, Janet masih merahasiakan kapan dirinya mengambil langkah tersebut. “Itu salah satu project saya ke depan. Agak kaget juga karena barang yang ada di toko dia itu semua Autralia punya,” tambahnya.

Kesempatan tak berhenti di situ. Setelah menjalani short course di Australia, Janet dan 24 desainer lain masih memiliki pekerjaan rumah (PR). Sepulang ketanah air, mereka harus menggarap proyek yang sudah dibeberkan sebelumnya. “Para desainer yang berpatisipasi bisa berkolaborasi untuk menciptakan project. Kalau saya sih sendirian. Soalnya, nggak ada yang cocok sama konsep saya,” jelasnya.

PR para desainer akan kembali dipresentasikan pada post-course yang dihelat Julia tau September. “Mungkin akan digabungkan dengan Jakarta Fashion Week mendatang,” tambahnya. Desainer yang sudah mengikuti pelatihan dibuat website oleh Australia Awards pada http://benang.com.au/.

Sebagai seorang desainer, Janet memiliki karakter yang pakem. Walau idealis, dia tak menutup mata untuk melihat tren yang berkembang di masyarakat. Lulusan Raffles Design Institute, Singapura, itu memiliki karakter yang kuat pada rancangannya.

Baju buatan Janet identic dengan gaya urban. Banyak rancangan yang menampakkan kesan edgy dengan permainan potongan motif. Setidaknya karyanya sudah merambah artis perfiliman seperti yang dikenakan artis cantik Aurilie Moeremans dan Pamela Bowie pada film Melbourne Rewind. “Ini adalah langkah kecil untuk belajar. Dan ilmu ini yang akan saya terapkan juga untuk mahasiswa-mahasiswa saya,” ucapnya.

Sumber : Jawa Pos. 8 April 2017. Hal. 29,39