Inovasi dan Kreativitas Warga Bubutan Angkat Perekonomian Keluarga
Berkat Batik Okra, Jumlah Warga Miskin di Kranggan Turun
21 Oktober 2024. Hal.18
Kondisi ekonomi menurun saat pandemi Covid-19 membuat masyarakat Kecamatan Bubutan menjadi kreatif. Segudang inovasi diciptakan untuk bangkit dari keterpurukan. Di antaranya, batik Okra dan kampung kue.
SAAT pandemi, warga RW 1, Kampung Kranggan, Kelurahan Bubutan, memang mendapatkan bantuan sosial (bansos). Namun, mereka tak mau hanya bergantung pada bantuan tersebut. Ketua RW 1 Ridi Sulaksono mengajak warga membuat batik tulis. Yaitu, batik Okra (Orang Kranggan). Yang membatik adalah kalangan ibu-ibu yang belajar otodidak. Hanya melihat dari media sosial. “Mereka ingin membantu suami untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,” ucap dia.
Pelan, tapi pasti upaya kerasnya menuai hasil manis. Beberapa batik Okra berhasil dibuat. Setiap lembar batik berukuran 2×2 meter dijual bervariasi. Mulai Rp 200 ribu sampai Rp 400 ribu. “Selain ke pengunjung yang datang, batik dijual beberapa hotel di Surabaya,” ujarnya.
Karena tergolong batik tulis, harga batik Okra cukup mahal. Hal tersebut membuat penjualan menurun. Namun pihaknya tidak menyerah.
“Saya pun meminta ibu-ibu menjadi pengajar batik,” paparnya. Pelatihan pun dibuka. Setiap peserta dikenakan biaya Rp 50 ribu. Dan ternyata, pelatihan membatik banyak diminati.
“Kami juga kerap diminta memberikan materi dan pelatihan di kampus-kampus di Surabaya dan Sidoarjo. September lalu, mahasiswa dari luar negeri datang untuk belajar batik. Mulai Malaysia, Filipina, Kamboja, Vietnam, Singapura, hingga Brunei Darussalam,” ujarnya.
Dengan adanya batik Okra, jumlah keluarga miskin di RW 1 Kampung Kranggan menurun drastis. “Saat ini tinggal 10 KK saja,” paparnya. Meski program berjalan baik, Ridi mempunyai pekerjaan rumah yang belum selesai. Yakni, ingin mengajak para generasi muda bisa ikut serta dalam pelestarian batik Okra.
Tidak hanya Kampung Kranggan yang berinovasi. Warga RW4, Kelurahan Jepara, Bubutan, pun mengembangkan usaha kuliner dengan membentuk Kampung Kue. Pengurus Paguyuban Kampung Kue Mariyana Fitriyah mengatakan, sebagian besar warga RW4 merupakan pengusaha kue. “Baru membentuk paguyuban pas pandemi. Dengan adanya paguyuban, penjualan produk bisa semakin jelas dan merata,” kata perempuan akrab disapa Ayu kemarin (20/10).
Tergabung dalam satu paguyuban membuat para warga saling gotong royong. Berbagai cara mereka lakukan agar produk tetap laku. Yaitu, menurunkan harga jual dan membuat promosi seperti buy one get one.
Saat ini pihaknya fokus dalam pengembangan bisnis. Tidak hanya bergerak pada pembuatan aneka kue dan roti. Warga mulai bergerak pada kuliner lainnya. Seperti ayam goreng krispi, bakso, nasi madura, dan ayam rica-rica. “Kami juga bekerja sama dengan pihak lain. Seperti minimarket dan membuka outlet di Tergabung dalam satu paguyuban area publik,” lanjutnya. (ian/ai)

