Kawasan pemiagaan memarg identik dengan keramalan. Jalan Bibis Tama menjadi saksi kesibukan pernlagaan zaman dulu di Kota Pahlawan. Perahu-perahu lalu lalang di sungal Kalimas mengantarkan barang-barang dari Pelabuhan Kalimas menuju ke Bibis Tama.
RAHMAT SUDRAJAT
Wartawan Radar Surabaya
KAWASAN EMAS PERDAGANGAN: Setelah berkembangnya moda transportasi, Jalan Bibis Tama menjadi jalur transportasi darat komoditi perdagangan ke Stasiun Semut untuk diantarkan ke wilayah lain dengan kereta api.
PUSTAKAWAN Sejarah Chrisyandi Tri Kartikan mengatakan, Jalan Bibis Tama menjadi kawasan tersibuk karena menjadi kawasan lalu lintas perdagangan. Karena Jalan Bibis Tama juga dekat dengan Stasiun Surabaya Kota atau Stasiun Semut. Sehingga selain barang-barang dari perahu diantarkan ke gudang, juga diantarkan ke Stasiun Semut dengan melintasi depan sungai Bibis Tama.
“Ya, jadi kawasan tersibuk karena dekat dengan Stasiun Semut, sehingga melintas di kawasan Bibis Tama,” katanya.
kepada Radar Surabaya.
Chrisyandi menjelaskan, barang-barang yang didatangkan pun dari luar negeri. Sehingga perahu besar harus bersandar di pelabuhan Kalimas. Kemudian barang diturunkan ke perahu kecil untuk menuju ke depan Bibis Tama.
“Ya tidak mungkin (kapal) bisa masuk ke dalam (sepanjang sungai Kalimas). Jadi perahu kecil yang biasanya masuk melewati Jembatan Merah dan sekitarnya termasuk melintas di Bibis Tama.” jelasnya.
Perahu kecil tersebut, lanjutnya membawa barang untuk diantarkan ke daerah yang dekat di wilayah sepanjang sungai di Surabaya. Namun seiring berjalannya waktu, transportasi sungai untuk mengantarkan barang dari pelabuhan mulai hilang perlahan. Perubahan itu menurut Chrisyandi sejak ada tram uap hingga kendaraan darat lainnya.
Apalagi di sepanjang Jalan Bibis Tama dulunya merupakan jalan yang masih bermakadam. Perubahan jalan dari makadam ke aspal juga berpengaruh pada berpindahnya transportasi perahu untuk barang transportasi atau kendaraan darat.
“Sejak ada trem uap, trem listrik dan kendaraan darat ditambah mulai,” mulai beraspal jadi lalu lintas perahu untuk angkut barang di Kalimas sudah tidak adalagi jelasnya. (bersambung/nur)
Sumber: Radar Surabaya. 27 Januari 2021. Hal.3,7

