Selain kawasan perkantoran dan tempat hiburan orang Eropa, Jalan Bibis dulu juga merupakan kawasan perniagaan. Jalan yang dulunya makadam atau tanah ini sering dilewati oleh pedati yang ditarik oleh sapi untuk mengantarkan barang niaga dari pergudangan yang ada di jalan tersebut.

(Rahmat Sudrajat, Wartawan Radar Surabaya)

KAWASAN tersebut merupakan perniagaan yang menjadi bagian dari kehidupan ekonomi Surabaya saat itu. Adanya perniagaan di sana sering kali membuat kawasan tersebut dilintasi oleh pedati. Pedati tersebut membawa atau mengangkut barang-barang besar dari gudang. “Biasanya pedati mengangkut barang-besar yang hendak diantarkan ke stasiun, kan daerah perniagaan,” papar Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya.

Chrisyandi menuturkan, selain itu di sekitar kawasn Bibis Tama juga merupakan kawasan perniagaan, sehingga Jalan Bibis Tama juga untuk perlintasan pedati yang membawa komoditi perdagangan yang hendak di kirim ke daerah lain menggunakan transportasi kereta. Karena lokasi tersebut juga berdekatan dengan Stasiun Semut. “Jalur jalannya pendek (Bibis Tama) jadi buat lewat juga,” imbuhnya.

Bangunan-bangunan di sana dulu pintu utamanya menghadap ke jalan tersebut sebelum berganti menghadap ke barat atau membelakangi kawasan sungai Kalimas itu. Terlihat gaya bangunan nieuwe bouwen atau persegi panjang. Sehingga fungsi bangunan lebih diutamakan untuk menyimpan barang.

Pengamat Sejarah Kota Surabaya Purnawan Basundoro menjelaskan, Jalan Bibis Tama merupakan jalan tua yang digunakan sebagai gudang. Karena berdekatan langsung dengan Kalimas yang merupakan sungai utama untuk lalu lintas perdagangan.

“Karena posisinya dekat sekali dengan sungai Kalimas yang pada masa itu terdapat pelabuhan di dekat Jembatan Merah atau Willenmskade, sehingga menjadi gudang untuk menyimpan komoditi perdagangan,” jelasnya. (*/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 23 Januari 2021. Hal.3