Jalan Bibis Tama menyimpan banyak kenangan. Salah satunya sebagai pusat perniagaan ekspor impor yang amat terkenal di zamannya.
(Rahmat Sudrajat, Wartawan Radar Surabaya)
JALAN Bibis Tama, dijelaskan di edisi sebelumnya, ukuran jalannya tiak begitu panjang. Namun di situ ada kawasan perniagaan yang justru menjadi akses utama. Seiring berjalannya waktu, pintu bangunan yang menghadap ke sungai Kalimas, akhirnya berpindah menghadap ke Jalan niaga yang saat ini dikenal dengan nama Jalna Veteran.
Pustakawan Sejarah, Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, di kawasan sekitar Bibis Tama, seperti Jalan Niaga, ada banyak usaha. Ada perusahaan tekstil, percetakan hingga perusahaan ekspor dan impor. Barang impor tersebut didatangkan dari berbagai negara. “Ada dua perusahaan tekstil, ada satu percetakan, dan sekitar lima hingga tujuh perusahaan ekspor dan impor di kawasan tersebut,” katanya.
Chrisyandi menjelaskan, barang impor seperti disel motor, mesin tenaga listrik, peti uang (brandkast), mesin kilang beras dan sebagainya, diperdagangkan di kawasan itu. “Salah satu perusahaan impor yakni Javastaal-Stok-vis N. V. Mereka mengimpor barang dari luar negeri seperti diesel motor dan lain sebagainya,” jelasnya.
Kawasan Bibis Tama tersebut merupakan perniagaan yang menjadi bagian dari kehidupan ekonomi Surabaya saat itu. Karena lokasi tersebut juga berdekatan dengan stasiun Semut. “Jalur jalannya pendek (Bibis Tama, Red). Tapi buat lewat juga,” imbuhnya.
Chrisyandi mengatakan, bangunan gedung di Bibis Tama sedikit berbeda dengan Jalan Niaga (Jalan Veteran). Bibis Tama saat ini sebagai jalan belakang untuk menuju tempat parkiran. “Kalau dulu bangunannya menghadap ke depan sungai, sekarang sudah menghadap Jalan Veteran. Jadi sedikit gedungnya.” (*/opi/bersambung)
Sumber: Radar Surabaya. 25 Januari 2021. Hal.3

