Bank semakin inovatif mengembangkan produk uang elektroniknya. Tidak hanya sebagai alat pembayaran, tapi sudah mulai menjadi benda koleksi.
Kesukaannya pada super hero asal Amerika Serikat (AS) membuat Hendriyapto rajin memburu seri uang elektronik emoney keluaran Bank Mandiri. Dua tahun terakhir ini, ia rutin menyambangi acara bank pelat merah itu demi menambah koleksi.
Meski sejatinya emoney merupakan alat pembayaran, tetapi tak pernah terbesit di benak direksi perusahaan tour and travel ini untuk menggunakan koleksinya ketika bertransaksi. Hendri lebih memilih untuk membeli lagi kartu e-money lain untuk kebutuhan sehari-hari. “Kalau untuk sehari-hari yang gambarnya biasa aja, jadi kalau hilang atau rusak tidak apa-apa,” ujarnya.
Baginya koleksi adalah koleksi, tidak akan digunakan untuk sehari-hari. Bahkan sampai sekarang saldo e-money koleksinya pun masih dibiarkan kosong, alias belum ditop – up sejak beli.
Selain mengoleksi emoney dengan gambar superhero Marvel dan DC, ia turut memburu superhero lokal Indonesia. Ada beberapa kartu seri superhero Bumi Langit yang kini sudah dimilikinya. “Bagi saya karakter emoney Mandiri itu menarik. Apalagi ini lagi musim superhero, jadi saya ngumpulin deh,” timpalnya
Uang elektronik dengan karakter tertentu sebenarnya bu kan hal baru. Tren ini sudah dimulai sejak tahun 2017. Beberapa bank produsen uang elektronik sudah mulai beramai-ramai meluncurkan kartu dengan beragam gambar yang disukai konsumen.
Namun semakin ke sini, desain uang elektronik semakin bervariasi. Tak hanya dijual eceran, kini ada pula yang menjualnya dalam bentuk seri dengan kemasan yang tak kalah apik. Produk ini dibuat eksklusif dan hanya diproduksi dalam jumlah terbatas.
Salah satu yang cukup menjadi perbincangan adalah kartu emoney seri Spiderman No Way Home’ yang baru dirilis pertengahan Desember ini. Peluncurannya bersamaan dengan pemutaran film tersebut di bioskop. Selain dikemas khusus, seri kartu emoney ini ha nya diproduksi sebanyak 500 unit.
Bukan sebatas untuk alat pembayaran, uang elektronik sudah menjadi sesuatu yang dinamis.
Thomas Wahyudi, Senior Vice President Transaction Ban king Retail Sales Bank Mandiri, bilang dalam peluncuran perdana sebanyak 250 unit seri emoney Spiderman No Way Home sudah habis terjual dalam 2 hari. Rencananya dalam waktu dekat akan kembali di rilis sisanya.
Menurutnya, strategi pengembangan e-money seperti sekarang ini memang bukan lagi semata-mata ditawarkan sebagai alat pembayaran. Dengan berjalannya waktu, tentu ada orang yang suka dan akhimya mengkoleksi. Di sinilah manajemen berusaha mengambil peluang dari para kolektor tersebut.
Thomas bilang pengembangan produk edisi koleksi ini juga dilakukan untuk membangun kedekatan dengan konsumen. “Kalau e-money untuk koleksi ini hanya sebagai gimmick,” ujamya.
Karena itulah sekarang manajemen berusaha mengem bangkan produk dengan menyematkan fitur pendukung Contohnya pada seri Bumi Langit, konsumen yang membeli seri tersebut bisa mendapatkan stiker WhatsApp. Lalu pada seri Spiderman No Way Home juga diberi nomer seri, sehingga yang membeli bisa benar-benar yakin kalau produk yang dibeli asli.
Diakuinya, dengan mengusung produk kolektibel, mau tak mau Mandiri memang di tuntut lebih menyesuaikan selera pasar. Mereka harus bisa menciptakan ide baru agar e-money bisa diterima pasar. E-money bukan hanya sebagai alat pembayaran tetapi juga berkembang menjadi sesuatu yang dinamis.
Biasanya manajemen akan merilis produk baru setiap 2 bulan sekali. Meski sudah ada jadwal rutin, tetapi tidak menutup kemungkinan mereka melakukan pengembangan yang mengkuti tren yang terjadi. Kalau memang peminatnya banyak, kartu yang dirilis bisa lebih banyak.
Biasanya proses pengembangan desain e-money dila kukan dalam waktu tidak sam pai 1 bulan. Selain inovasi sendiri, manajemen juga bekerja sama dengan pihak lain seperti dengan Disney saat merilis seri Harga melambung Avengers, Warner Bros saat merilis seri Justice League. Ke-mudian dari dalam negeri ada pula Bumi Langit saat merilis seri superhero lokal.
Untuk harga jualnya, e-money edisi seri ini dijual sedikit lebih mahal dari reguler. Edisi seri ditawarkan mulai Rp 250.000 hingga Rp 350.000, edisi eksklusif Rp 50.000 per kartu, sedangkan edisi reguler hanya Rp 25.000 per kartunya.
Di luar seri eksklusif, sampai saat ini manajemen tetap menerima pembuatan e-money co-branding. Siapa yang membutuhkan bisa memesan emoney dengan logo yang diinginkan. Proyek kerjasama ini ma- sih memegang porsi 15% dari total e-money Bank Mandiri.
Inovasi uang elektronik sebagai produk koleksi juga dilakukan oleh Bank BCA melalui kartu Flazz. Beberapa kartu yang dilucurkan juga banyak diburu para kolektor. “Karena desainnya mengena pada konsumen, Flazz banyak juga yang dijadikan koleksi masyarakat,” terang Herra F Haryn, Executive Vice President Secretariat & Corportae Communication BCA.
Di penghujung tahun 2021, misalnya. BCA merilis 3 desain kartu Flazz edisi Natal. Ketiga kartu edisi khusus ini bisa diperoleh di marketplace dan beberapa kantor cabang seharga Rp 50.000. Harganya sedikit lebih tinggi jika dibandingkan Flazz edisi reguler yang dijual selalu ada. seharga Rp 25.000 per kartunya.
Herra bilang pihaknya memang sudah sejak awal me- ngembangkan uang elektronik dengan desain yang cukup beragam. Ide mereka, biasanya datang dari momen seperti Natal atau Lebaran, meskipun ada pula yang hasil kerja sama dengan pihak lain seperti Disney dan Warner Bros.
Hingga akhir November 2021, manajemen sudah merilis lebih dari ribuan desain Flazz. Adapun jumlah kartu yang beredar sudah mencapai lebih dari 20 juta kartu.
Meski tampaknya kolektor uang elektronik ini masih relatif sedikit, produk uang elek tronik sudah banyak diperju albelikan lagi di pasar sekunder. Harganya pun bisa dibilang lebih tinggi dibanding harga aslinya.
Tengok saja di beberapa marketplace. Kartu e-money Spiderman Homecoming misal nya. Saat diluncurkan tahun 2017 harganya 1 seri berisi 4 kartu masih dijual seharga Rp 150.000, tetapi jika melihat di marketplace sekarang harga nya sudah naik menjadi Rp 325.000.
Tak hanya diperjualbelikan lagi, Thomas bilang e-money juga sempat laku terjual dalam suatu lelang amal dengan nilai yang cukup besar. Kala itu seri edisi The Legend yaitu Yayuk Basuki, Rudy Hartono dan Christian Hadinata yang sudah ditandatangani bisa terjual hingga Rp 5 juta. “Kalau sepengetahuan kami sekarang ini kolektor emoney itu datang dari beragam kalangan, ada remaja, pegawai kantoran hingga ibu rumah tangga,” bebernya.
Walaupun konsep kolektibel dalam produk uang elektronik ini hanya sebagai pelengkap, tetapi ia cukup optimis prospek kedepan masih cukup positif. Tetap ada saja kebutuhan sehari-hari yang membutuhkan e-money. Meski mungkin por sinya kecil tetapi kebutuhan ini
Menurutnya walaupun bentuknya kartu, tetapi tetap saja konsepnya shless. Masyarakat masih membutuhkan untuk melakukan transaksi sehari-hari seperti naik kereta atau membayar parkir. “Di Singapura dan Hongkong saja mereka tetap pakai kartu untuk bayar MRT,” cetusnya.
Justru menurut Thomas kecenderungannya akhir-akhir ini, orang juga menjadikan e-money semacam tabungan untuk menyimpan dananya. Mereka sudah tak segan lagi memasukkan dana yang cukup besar ke sana.
Membangkitkan Emosional
Uang elektronik kini tak hanya menjadi sekedar alat pembayaran. Tampilannya yang cukup bervariasi dan kekinian membuat uang elektronik banyak diburu konsumen untuk dikoleksi. Bank pembuatnya pun tak segan mengeluarkan dalam jumlah terbatas demi meningkatkan eksklusivitas produk tersebut.
Pengamat pemasaran Inventure, Yuswohady, melihat ini sebagai suatu strategi yang wajar. Untuk bisa tetap menarik perhatian kon seumen, memang produk harus diperbaharui dan dibuat relevan dengan situasi yang sedang terjadi. “Kalau tampilannya polos, kartunyammenjadi tidak menarik,” ujarnya.
Menurutnya, apa yang saat ini dilakukan oleh bank penerbit kartu uang elektronik adalah cara untuk membangkitkan emosional konsumen. Maka, mereka tidak menonjolkan aspek fungsionalnya sebagai alat pembayaran, tetapi berusaha menggerakkan pangsa pasar yang memiliki minat khusus.
Meski begitu, Yuswo melihat strategi ini bukan tanpa tantangan. Kini pihak bank produsen juga harus menghadapi milenial sebagai penguasa pasar yang sudah mulai condong ke digital. “Milenial itu enggak akan ke situ, mereka bukan mengejar yang berbasis kartu tetapi lebih menyukai segala hal yang bisa dikontrol menggunakan ponselnya,” paparnya.
Setidaknya di tengah situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang, konsumen masih belum terlalu melirik produk yang berbentuk fisik. Namun ketika pandemi mulai mereda, segala bentuk produk fisik akan kembali dilirik. Saat itulah pendekatan kolektibel baru akan terasa pengaruhnya.
Hanya saja secara jumlah, tidak akan banyak. Konsumen yang gemar mengkoleksi uang elektronik diprediksi tidak akan sebanyak konsumen yang menggunakannya sebagai alat pembayaran. Pasarnya akan tetap unik dan terbatas. Di sinilah pihak pembuat dituntut untuk bisa selalu kreatif mengeluarkan produk yang bisa diterima pasar.
sumber: Kontan Mingguan. 3-9 Januari 2022. Hal.12-13

