
Tangisan Serafina Huan (4 bulan) begitu kencang terdengan, Sabtu (3/2) menjelang siang. Ibu bayi itu, Debora Banu (38), mencoba menenangkan dengan membawa Serafina ke ruang tamu. Pipi kanan sampai pelipis bayi itu tertutup tumor ganas dengan bentuk tak beraturan.
Rumah berdiding batako beukuran 6 meter x 8 meter itu mulai lapuk. Di ruang tamu duduk ayah Serafina Huan. Messakh Huan (40), bersama empat kerabatnya. Para kerabat datang dari Rote dan Soe untuk menjenguk Serafina yang tengah sakit.
Sebuah sepeda motor tua, Honda Astrea buatan tahun 1999, parkir di depan rumah yang terletak di bibir Sungai Liliba. Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Untuk menjangkau rumah ini, dari jalan besar harus turun lewat jalan setapak dengan kemirngan sekitar 50 derajat. Jalan tanah sepanjang 700 meter dan lebar 2 meter itu dipadatkan warga secara swadaya.
Debora terus menimpang Serafina sambil berdiri di ruang tamu. Ia berbisik halus untuk menenangkan Serafina sebulan terakhir, bayi itu tak pernah tidur pulas, baik siang maupun malam. Sementara itu, saurdara kembar Serafina, Rofina Huan, tengah tidur lelap di kamar.
“Badan Serafina panas sekali, terutama di bagian tumor. Semalam dia tak bisa tidur sampai pagi. Beta sama suami terpaksa bergantian jaga dia,” kata Debora.
Serafina dan Rogina lahir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) WZ Johannes, Kupang, 3 Oktober 2017. Keduanya dilahirkan lewat operasi caesar. Ini merupakan kelahiran kelima bagi Debora Banu.
Untunglah, sampai saat ini Rofina tumbuh sehat.
Bintik hitam
Pada Serafina semula ada bintik hitam kecil di pipi yang disangka hitam sebagai tanda lahir oleh dokter. Namun, bintik hitam itu kini bertumbuh menjadi tumor.
Menurut dokter, demikian kata Debora, tumor kulit yang diderita Serafina jenis ganas. Awalnya bintik hitam berubah menjadi benjolan sebesar biji jagung. Dalam waktu empat bulan, benjolan hampir menutup hampir seluruh permukaan pipi kanan, menjalar ke pelipis, batang hidung, dan kepala bagian kanan. Kulit pipi, batang hidung, sampai pelipis menjadi tebal dan urat-urat halu menonjol.
Dari sisi kanan, mata dan mulut Serafina tidak tampak karena terhalang bejolan di pipi yang menyerupai bantal dengan bentuk tak beraturan.
Menurut Debora, meski sakit, Serafina tetap mendapat air susu ibu. Baik Serafina maupun Rofina belum diberi makanan lain.
Messakh menuturkan, Serafina dan Rofina merupakan anak keempat dan kelima. Mereka sedang dalam pembuatan kartu BPJS Kesehatan. Tida anak lain sudah mengikuti program BPJS Kesehatan. Mereka adalah Anita Huan (17), kelas II SMA; Marlina Huan (15), kelas III SMP; dan Sok Agustinus (10) kelas III SD.
Tak ada biaya
Messakh yang bejerha serabutan ini mengatakan bingung terkait pengobatan Serafina. RSUD WZ Johannes, Kupang, tidak mampu melakukan operasi tumor itu karena peralatan terbatas. Mereka hendak merujuk Serafina ke RS Dr Soetomo, tetapi masih menunggu kartu BPJS Kesehatan Serafina.
Obat dari dokter sudah habis dikonsumsi. Kini, Serafina diobati secara tradisional dengan cara menempelkan ramuan tertentu di bagian kulit yang menonjol.
Selain kartu BPJS Kesehatan, Messakh juga dipusing dengan biaya untuk membawa Serafina ke Surabaya.
“Tiket pesawat Kupang–Surabaya pergi-pulang, penginapan, dan kendaraan menuju rumah sakit pun butuh biaya. Total anggaraminimal 25 juta. Ini belum termasuk operasi tumor dan proses pemuliha,” kata Messakh.
Sumber: Kompas.4-Februari-2018.Hal_.11
