Bisa Masak Itu Seksi dan Menguntungkan. 28 Januari 2014.Hal.60

SURABAYA – Perempuan karir harus jauh dari dapur? Eitts, Tunggu dulu! Ternyata, dari 100 pria yang ditanya Jawa Pos, hampir 85 persen di antaranya setuju perempuan yang bisa masak itu seksi di mata mereka. Jadi, tunggu apalagi, yang belum bisa masak sendiri belum terlambat lho untuk mulai belajar. Apalagi kegiatan masak-masak kini semakin mudah dan populer seiring dengan berkembangnya teknologi. “Asal tahu triknya, bekerja di dapur itu sangat menyenangkan,” kata pengusaha kuliner Gabriella Debbie.

Namun, perempuan yang akrab disapa Debbie tersebut menjelaskan, sebelum terjun ke dapur, seorang perempuan harus tahu minatnya itu dimana. Apakah di hot kitchen yang khusus membuat makanan berat. Atau lebih mengambil spesialisasi di bidang kudapan seperti cake atau viennoiserie. “Itu penting. Sebab, kalau minatnya sesuai dengan passion, atau chemistry-nya klik, tentu kita tidak akan cepet bosan,” ujar alumnus Food Science Melbourne University tersebut.

Setiap spesialisasi punya karakter sendiri. Viennoiserie misalnya, yang lebih banyak berhubungan dengan tepung dan bahan-bahan kering lain seperti gula, butter, krim, dan susu. Produk jadinya, antara lain, roti bulan sabit asal Prancis atau croissant, apple strudel, salmon mousse puff, salmon and spinach croustade, chicken curry puff, serta quiche.

Dengan bisa memasak, perempuan yang baru saja melepas masa lajangnya itu menuturkan bahwa kaum perempuan akan merasakan banyak manfaat. Selain mampu membahagiakan pasangan dan keluarga, kemampuan memasak bisa dijadikan pegangan hidup. “Perempuan sekarang kan harus mandiri. Buktinya, dari niat awal hanya iseng, sekarang usaha ini sangat menjanjikan dalam hal income,” jelas owner Gadon Viennoiserie tersebut.

Hal senada dikatakan business planner Yovita Lesmana. Menurut dia, perempuan modern memang harus bisa melakukan semua hal sekaligus. Termasuk urusan masak-memasak. Sebab, jika dikelola dengan baik, kemampuan yang satu itu juga dapat menjadi sumber pendapatan yang mumpuni. “jadi, ketika suami menghasilkan kesulitan ekonomi, perempuan bisa menjadi penopang yang baik,” katanya. (nji/c14/dos)

Sumber: Jawa Pos, 28-Januari-2014.Hal_.60