Bagi sebagaian besar orang, bangunan kuno memberikan kesar angker dan menakutkan. Namun lain dengan mereka pencinta sejarah. Yang melihat bangunan kuno seasyik nongkrong cantik di mal penuh gemerlap lampu.

Ismaul Choiriyah (Wartawan Radar Surya)
ITULAH mengapa banyak sekali komunitas pecinta sejarah yang doyan blusukan ke kampung-kampung juga bangunan-bangunan lama. Karena selain belajar sejarah, tujuan sebenernya adalah untuk menuntaskan hasrat dan kecintaan pada keunikan bangunan lama. Dengan mengamati dengan seksama, mendiskusikannya tipis-tipis lalu mengabadikan keindahan bangunan itu ke dalam bidikan kamera.
Tak perlu dalam sekali mengerti sejarahnya. Cukup tahu, jepret detail sana detail sini. Berimajinasi tentang suasana yang lalu sudah cukup. Begitu saja sudah memberi kepuasan tersendiri.
Seperti yang dilakukan oleh Komunitas Pernak Pernik Surabaya Lama  (PSL) Sabtu pagi (5/10). Alih-alih duduk di depan layar televisi di rumah, mereka memilih mengeksplor kota tua Surabaya. Setidaknya dua puluh anggota komunitas mengikuti agenda blusukan rutin semi dadakan kala itu. Mereka mengunjui bangunan-bangunan lama di kawasan Surabaya Utara.
      Blusukan  di mulai dari Jalan Rajawali. Yang di era koloial menjadi pusat pemerintahan Surabaya. Sembari blusukan, Chrosyandi Kartika, selaku Ketua PSL menjelaskan berbagao catatan sejarah mengenai tempat-tempat yang dikunjungi. “Di aini dulu ada gedung residen. Tmpetanya bersebelahan dengan Bank Mandiri, berseberangan dengan jembatan merah,” ujarnya.
Selain menjadi pusat pemerintahan, di Jalan Rajawali dulunya adalah kawasan perkantoran. Di antaranta adalah keberadaan Bank Escompto yang kini dikenal dengan Bank Mandiri.
Blusukan pun berlanjut digang-gang kecil dibelakang Bank Mandiri. Di jalan kecil yang bisa muat satu mobil ini juga terdapat banyak bangunan peninggalan era kolonial dengan beberapa bangunan yang mendapatkan plakat cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya.
Satu yang paling berkensan adalah bangunan toko sirup yang sudah ada sejak tahun 1923 Siropen Heritage namanya. Yang awalnya merupakan pabrik limun rumahan yang di dirikan oleh J.C Van Drongelen. Yang masih produksi hingga sekarang.
“Di sini, dulu ada banyak rumah-rumah yang fungsinya di jadikan sebagai rymah tinggal para karyawan pabrik. Dibuat dekat dengan pabrik di kawasan sini agar tidak menempuh waktu lama untuk bekerja,” ujarnya.
Meski lelah mengitari kawasan kota tua selama 2,5 jam, lelah itu tidak ada arti. Karena masing-masing orang dapat memanjakan mata menikmati bangunan-bangunan indah yang sulit ditirukan saat ini (*/nur)