Branding Cerdas Bisnis Mahasiswa. Kontan. 30 Januari 2015.Hal.23

Oleh Budhi Wiryawan, Konsultan Marketing, Tinggal di Yogyakarta

Mahasiswa dan sajana fresh graduate menjadi kelompok pebisnis potensial baru yang tidak bisa disepelekan kehadirannya. Sebagian dari mereka adalah kelas atau kelompok masyarakat yang tidak begitu saja puas dengan kemapanan, berpikir untuk melahirkan konsep dan menghadirkan inovasi. Branding cerdas yang dibangun para mahasiswa ini lebih dari ikhtiar bagaimana industri kreatif selalu menjadi bagian dari kegelisahan mereka.

Pada tataran konsep dan ideologi, mereka tertarik menggeluti bidang bisnis lebih pada penumpahan ekspresi dan eksistensu, sekaligus pula eksplorasi pencarian bentuk usaha yang lebih menjanjikan. Belum pada konsep rancang bangun manajerial bisnis yang established.

Mahasiswa yang berbisnis, dan anak muda yang tertarik di duania usaha telah menjadi fenomena sosiologi di sejumlah kota besar di Indonesia. Kita lihat saja aktivitas anak-anak muda di kawasan Depok, Sleman, Yogyakarta. Ternyata kawasan ini menyimpan data dan potret unik. Di tempat ini berdiri 32 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Ratusan usaha dikawasan itu juga dikelola oleh sebagian besar anak muda.

Pelbagai pilihan jenis usaha yang menjadi lahan favorit kegiatan bisnis anak muda adalah fashion, TI, kuliner, dan event organizer, juga jasa-jasa konsultasi dan usaha berbasis edukasi.

Bagaimana menggeser image bahwa kelompok anak muda ini dalam waktu yang singkat dan dengan sistem yang baik mampu mengubah paradigma menjadi calon entrepreneur yang punya karakter, etika, ketahanan mental, motivasi kerja yang tinggi, dan memiliki karya-karya yang menumental. Sebab dengan cara ini, mereka akan mampu menginspirasi banyak orang untuk berbuat yang lebih baik. Inilah yang disebut kaidah daya ungkit.

Kaidah daya ungkit bisa mengatalisasi seluruh potensu dan innerpower yang ada disetiap anak muda untuk mengubah dari yang miskisn informasi, lemah dalam ketahanan mental, mispersepsi, dan miskisn kepekaan menjadi pribadi yang punya “greget” serta mampu membaca perubahan, tang terus-menerus disikapi secara cerdas. Branding cerdas mahasiswa harus dibangun sebagaimana penjabaran dukum kekekalan energi, bahwa energi tak bisa dimusnahkan, namun bisa dipindahkan dan ditransformasikan.

Pondasi berpkir mereka ketika memutuskan untuk berbisnis lebih pada pragmatisme membaca dan menerjemhkan peluang dengan menyatukan wawasan intelektual dan keilmuan. Selebihnya adalah intuisi, bakat, inovasi, kreativitas, dan keberanian memilih lahan usaha secara bebas.

Dongkrak daya ungkit

Mereka boleh dikatakan sebagai kelompok masyarakat yang progresif, karena tidak ingin terjebak pada ritual-ritual yang klasik dan menonton. Bahwa menjadi sarjana adalah menjadi orang yang bisa menentukan segala arah yang diinginkannya, dan memasukkan dirinya dalam strata sosial kelas menengah.

Stereotip dan cara memprovokasi mahasiswa selama ini gagal menerjemahkan mereka sebagai kelompok masyarakat baru yang akan mengubah seluruh stigma dan perubahan zaman. Kita biasa menyaksikan anak-anak muda kita pasca lulus sekolah/ kuliah menduplikasi kebiasaan yang dilakukan oleh para pendahulunya: melamar pekerjaan, menulis lamaran pekerjaan, lalu menunggu nasib baik. Siapa tahu nasibnya mujur, dipanggil, dan bisa ikut tes, kemudian direkrut menjadi karyawan di perusahaan tersebut.

Jika kemudian setelah berkali-kali gagal, baru harapan terakhir memilih jalan pamungkas mencoba buka usaha kecil-kecilan. Jadi pilihan menjadi pengusaha adalah pilihan terakhir.

Mengapa kemudian daya ungkit ini digerakkan untuk membalikkan pilihan dan cita-cita ini menjadi seorang entrepreneur? Filosofi daya ungkit lebih menekankan pada konsensus dan cara menaklukkan hidup, dengan memilih jalan yang diyakini memiliki tantangan dan prospek ke depan yang lebih menjanjikan.

Sayangnya, tidak setiap lembaga pendidikan tinggi punya kesempatan yang luas untuk memberikan bekal dan model, tak hanya skill, namun semacam medul dan ideologi entrepreneur kepada para mahasiswanya. Daya ungkit ini perlu untuk memotivasi dan memberikan daya mental yang tangguh, sebgaai prasyarat mutlak sesorang masuk di dunia usaha. Mereka perlu yakin, menjadi pelaku bisnis itu akan lebih punya kontribusi yang besar untuk melakukan perubahan.

Sumber : Kontan, 30 Januari 2015, hlmn 23