
Halau Rasa Jenuh Selama Bersekolah di Rumah
SURABAYA, Jawa Pos– Memasuki munggu keempat kegiatan sekolah daring, rasa jenuh mulai dirasakan sebagian siswa. Hal tersebut disebabkan perubahan drastis dari yang terbiasa pergi ke sekolah kini berlajar mandiri di rumah. “Ini memang salah satu isu ya di kalangan remaja. Mereka harus beradaptasi dengan situasi,” ujar Ersa Lanang Sanjaya SPsi MSi.
Dosen dan peneliti bidang pernikahan serta pengasuhan anak tersebut melihat perbedaan itu cukup menantang bagi mahasiswa remaja. Sebab, mereka harus bisa mengatur diri sendiri dan memotivasi diri. Tujuannya, proses belajar tetap bisa berjalan maksimal. “Biasanya, ada dorongan dari guru, lalu lihat kondisi teman juga akhirnya terdorong. Sekarang semuanya sendiri,” ujar Ersa.
Selain itu, perbedaan suasana menjadi faktor yang turut berpengaruh. Ersa mengatakan, otak manusia menyukai keteraturan. Karena itu, hilangnya rutinitas pergi ke sekolah bisa memicu stres baru. “Biasanya bangun pagi, mandi, pakai seragam, lihat gedung sekolah. Itu terasosiasi sebagai ‘kondisi sekolah’ itu begini,” jelasnya.
Nah, keadaan di rumah begitu berbeda, “Dekat dengan kasur atau karena ada orang tua di rumah, jadi disuruh ini-itu,” ucapnya. Itu membuat kondisi psikologis anak tidak berada pada titik “saya sedang sekolah.” Akhirnya, hal tersebut berdampak pada kesiapam anak untuk menyerap pelajaran di rumah.
Faktor lain yang bisa menimbulkan stres adalah tidak adanya teman. “Ini masalah remaja banget ya. Itu masa di mana butuh teman sebaya atau peer group,” tutur dosen Psikologi Universitas Ciputra tersebut. Hilangnya interaksi itu membuat kebutuhan sosial anak tidak terpenuhi.
Selain itu, stres bisa terjadi saat pembentukan identitas remaja tidak terakomodasi. Identitas tersebut hadit dari aktivitas remaja sehari-hari yang kemudian mendapat pengakuan sosial. Misalnya, identitas sebagai anak band, pemain basket, atau pencair suasana di antara kawan-kawan. “Nah, ini bisa jadi hilang saat mereka tidak lagi bertemu di lingkungan sosialnya,” urainya saat dihubungi kemarin (15/4).
Terakhir, Ersa juga mengemukakan kemungkinan terjadinya konflik dengan orang tua selama di rumah. “Apalagi, remaja ini saat kritis-kritisnya terhadap sesuatu,” ungkapnya.
Untuk menghadapi tekanan yang dirasakan remaja, ada beberapa tip yang bisa dicoba. Pertama, Ersa menekankan pentingnya jadwal teratur dan menaatinya. Dengan demikian, siswa bisa membangun kondisi “aku sedang bersekolah”. Hal itu juga bisa diterapkan untuk lokasi. Tentukan area mana di rumah yang digunakan untuk belajar, beristirahat, atau berkumpul dengan keluarga. Dengan demikian, di ruangan tersebut terbangun asosiasinya dengan mood belajar.
Tip ketiga adalah kerja sama antara orang tua dan sekolah. Orang tua harus bisa mengakomodasi kebutuhan anak dengan membangun suasana kondusif pada jam-jam bersekolah di rumah. “Jangan malah disuruh belanja, bantu kerjakan ini-itu,” imbuhnya.
Berikutnya, pemenuhan kebutuhan sosial melalui daring. “Bisa chat, video call sama teman,” katanya. Namun, Ersa mengingatkan pentingnya komunikasi positf. Jangan sampai ada bercandaan yang saling mem-bully. “Kan kita tidak lihat gesturnya langsung. Jadi, bisa salah tangkap,” tuturnya.
Untuk mempertahankan identitas diri remaja, siswa juga harus melakukan kegiatan favorit. Misalnya, berlatih basket atau main musik di rumah. “Yang penting kegiatan positif atau coba hal baru seperti memasak,” ucap Ersa. (dya/c7/nor)
Sumber: Jawa Pos. 16 April 2020. Hal. 15
