SURABAYA, Jawa Pos – Kristal-kristal yang disematkan dalam perhiasan buatan Michiellina Evelyn Soefianto terlihat berkilau dan jernih. Teksturnya halus dan berbentuk heksagon. Kristal perhiasan itu tidak berasal dari penambangan hasil bumi langsung seperti berlian atau emas, melankan dari tawas atau alumunium sulfat.

Michiel membuat butiran-butiran kristal itu dengan mencampurkan serbuk tawas dengan air panas selama 24 jam. Dalam jangka waktu tersebut, bubuk tawas berubah jadi gumpalan kecil kristal. “Itu masih bibit, belum mulus cantik,” jelasnya.

Setelah itu, bibir kristal direndam dengan air panas selama 24 jam. Bentuknya jadi lebih besar dan warnanya lebih jernih. “Jika kristal tampak bening, artinya atom-atom pada tawas dan air sudah menyatu sempurna,” paparnya.

Dengan kreasi tersebut, Michiel ingin menciptakan perhiasan dengan harga yang lebih terjangkau, namun tetap cantik. “Apalagi, usaha menambang emas dan berlian ini sulit sekali. Penambangnya jadi pekerja berisiko tinggi,” ucap mahasiswa semester VIII Fashion Product Design Universitas Ciputra itu.

Sebelum menggunakan tawas, Michiel sempat melirik beberapa bahan lain yang dapat mengkristal. Di antaranya, boraks, gula, dan protasium. Akhirnya, tawas dipilih karena keamanannya. “Biasa digunakan sehari-hari juga,” tuturnya. (dya/c18/tia)