Bangga Berbahasa Daerah Sejak Muda

19 Maret 2022. Hal. 5

Budaya bertutur dalam bahasa daerah biasanya pudar atau hilang pada generasi tertentu. Alasannya beragam, mulai dari kawin campur, bahasa tidak lagi digunakan, hingga globalisasi. Lantas, bagaimana agar bahasa daerah tidak hilang dan punah?

Siswi SMP Negeri 2 Boyolali, Jawa Tengah, Bunga Salsabila, beberapa kali diundang stasium televisi. Sosoknya sebagai food vlogger yang medok menarik perhatian publik. Sebab, tak banyak vlogger yang berbicara bahasa Jawa secara penuh dan konsisten di setiap konten

Kanal Youtube Bunga Salsabila per Jumat (18/3/2022) telah mengunggah 759 video. Pelanggannya lebih dari 40.000 akun. Kolom komentarnya, antara lain berisi kekaguman warganet atas kemampuan Bunga berbahasa Jawa halus.

Menurut Bunga, saat ini tidak banyak anak muda yang mau menggunakan bahasa daerah mereka. Sebagian anak muda lebih gemar belajar bahasa asing. Ia khawatir bahasa daerah perlahan hilang lantas punah.

“Saya berharap konten yang saya buat bisa menjadi motivasi teman-teman agar bangga berbahasa daerah. Saya sendiri punya cita-cita menjadi guru bahasa Jawa,” kata Bunga pada diskusi daring berjudul “Revitalisasi Bahasa Daerah”, kamis (17/3).

Menurut pengurus Perkumpulan Pendidik Bahasa Daerah Indonesia sekaligus guru bahasa Sunda di SMP Negeri 4 Subang, Jawa Barat, Risnawati, tidak semua generasi muda mau berbahasa daerah. Selain dianggap kurang “prestisius”, anak muda pun kesulitan karena bahasa daerah bervariasi. Ada bahasa halus yang hanya digunakan ke orang yang lebih tua atau yang dihormati. Ada pula bahasa sehari-hari yang hanya digunakan sesama teman.

Kendala lain adalah adanya anggapan bahwa pelajaran bahasa daerah tidak “sepenting” pelajaran wajib lain. “Saya menginventarisasi 40 kata dasar berbahasa Sunda yang bisa digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari. Kata-kata itu dijadikan lagu, lalu kami nyanyikan bersama di kelas sebelum pelajaran,” kata Risnawati.

Pelajaran Bahasa Sunda di kelas pun berlangsung cair. Kadang pelajaran dilakukan sambil berbincang santai. Topiknya boleh apa saja.

“Menurut saya, pembelajaran tidak terbatas pada sekat ruang kelas. Kapan pun anak butuh konsultasi atau bertanya, akan saya layani,” kata Risnawati.

Media belajar

Menurut Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi E Aminudin Aziz, bahasa ibu (dalam hal ini bahasa daerah) dapat menjadi media belajar yang efektif bagi anak. Menurut sejumlah survei, penggunaan bahasa ibu meningkatkan capaian belajar anak.

Ini tampak dari Survei Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (SIPPI) di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Survei tahap awal dilakukan pada September-Oktober 2019.

Laporan survei menyatakan, 83 persen anak sekolah di sana menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Pada survei akhir, kelulusan asesmen literasi dasar pada siswa yang belajar dengan bahasa ibu lebih tinggu daripada yang berbahasa Indonesia. Proporsi peningkatan kelulusan siswa yang berbahasa ibu sebesar 2,93 kali, sementara yang berbahasa Indonesia 2,5 kali.

Aminudin mendorong agar generasi muda tidak hanya berbahasa Indonesia, tetapi juga berbahasa daerah. “Orang yang dwibahasa atau multilingual memiliki daya pikir yang lebih kompleks dan cepat dibandingkan dengan orang yang monolingual,” katanya.