Lahan belakang rumah Didiek Sunaryudi ini disulap layaknya agrowisata. Puluhan pohon jambu air tumbuh subur dan berbuah lebat.
SURABAYA, kawa Pos- Butuh lima tahun bagi Didiek untuk memahami buah bernama latin Syzygium samarangense itu. Semua asosiasi otodidak. Di Rumah Kawasan Medokan Ayu, Didiek mengembangkan banyak jambu air dengan teknik tanaman buah dalam pot (tabulampot). Bukan tanpa alasan metode tersebut dipilih. Salah satu penyebabnya, kondisi tanah di wilayahnya merupakan bekas tambak.
Kedalaman setengah meter, alr sudah bercampur garam. Payau. Praktis, kondisi tersebut tidak baik untuk tumbuh kembang tanaman. “Meskipun bisa, ketinggian tanah harus ditambah dulu, tetapi itu kurang praktis,” katanya.
Apa yang dimulai sekarang dimulai dari nol. Pekerjaannya dulu lebih banyak berkutat pada hal teknis dan interlor Kejenuhannya membawa Didiek untuk mulai akrab dulu sempat mengembangkan tanaman buah. “Awal mangga. Namun, kurang maksimal kalau dikembangkan dari segi bisnis. Lalu, saya mulai tertarik dengan jambu dan hingga sekarang sekarang” ujar content creator Surabaya Flora Gallery itu. Banyak jenis jambu air yang pria 58 tahun tersebut tanam.
Namun, Didiek lebih banyak Mulai jenis lokal hingga huar. Misalnya, cakra merah, citra jumbo, black kingkong, mutiara hitam, madu deli, hingga madu merah. fokus pada jambu air berwana merah. Hal itu tidak lepas dari faktor lingkungan yang mendukung. “Ternyata dekat daerah pesisir malah bisa membedakan warna merah buah lebih maksimal,” katanya.
Kawasan pesisir Surabaya Timur sangat ideal. Ada pengaruh angin laut yang membuat warma merah juga di perbukitan pantai. lebih merekah. Hal itu sudah banyak dibuktikan, baik oleh Didiek maupun negara lain. “Sebut saja Taiwan, perkebunan jambu ada di dekat pesisir. Kemudian, di California perkebunan delima Wama merah buah sangat bagus,” ujamya.
Soal kemahirannya merawat jambu air, Didiek mengaku membaca banyak referensi dari luar negeri. Banyak jurnal yang dibuka untuk umum oleh pemerintah. Misalnya, Talwan dan Amerika. Pelan-pelan dia menerjemahkan agar paham seperti apa nutrisl yang pas dan dibutuhkan untuk tanaman ini.
Silang jenis dia lakukan untuk meramu kombinasi yang menghasilkan buah premlum. Dengan rasa manis, renyah, dan segar. Tentu, warna merah cantik menjadi modal untuk ditawarkan kepada pembeli. Salah satunya, saya berhasil menyambungkan 23 jenis jambu air dalam satu pohon. Sekarang mulai berbuah 10 jenis, “katanya saat menunjukkan koleksinya Jumat (22/1).
Jaga Nutrisi dan Kurangi Jumlah Buah
Teknik penanaman dengan tabulampot sekilas terlihat gampang. Namun, ada yang perlu diimplementasikan bagi penghobl yang ingin menerapkan sistem tersebut. Tujuannya, nutrisi pohon tercukupi dan menghasilkan buah yang istimewa.
Didik menanam jambu air dengan berbagai ukuran media tanam. Ada yang berukuran setengah meter atau 30 sentimeter saja. Namun, Didiek tidak menggunakan planter bag sebagai media tanamnya.
Hal itu menyulitkan tanam. Sebab, minimal dua saat penggantian media tahun sekali harus diganti dengan ukuran yang lebih besar. “Saya menggunakan połycarbonate, lebih praktis. Bisa dipakai berulang- ulang, pemasangannya pun gampang.” katanya.
Media tanam menggunakan rumus 1: 2: 3. Yakni, satu bagian untuk tanah. Kemudian dua bagian untuk kompos. Terakhir, tiga bagian untuk campuran sekam bakar dan cocopeat.dll Nah, faktor terpenting adalah menentukan nutrisi untuk pohon.
Didikmeramu sendiri kebutuhan untuk tanamannya itu. Misalnya, kompos. Dia menggunakan racikan eceng gondok yang dirajang ditambah cairan EM4.
Kemudian, nutrisi organik yang terbuat dari fermentasi buah, susu, dan telur. “Nah, waktu mempersembahkan nutrisi juga perlu diperhatikan. Idealnya dilakukan pagi maksimal jam 09.00. Lalu, sakit setelah pukul 16.00, “katanya.
Saat berbuah, pertumbuhannya juga perlu dipantau. Jika ingin hasilnya maksimal, Didiek selalu mengurangi jumlah buah dalam satu dompol. Rata-rata 3-5 buah saja. Agar nutrisi pohon ke buah terkonsentrasi di sana. Jika terlalu banyak, rasa kurang maksimal. “Hasinya seperti yang bisa dilihat. Rata-rata per kilogram hanya berisi tiga jambu. Dengan tekstur buah yang renyah, manis, dan segar, “ujamya. (Gal / c13 / nor)
Sumber: Jawa Pos. 24 Januari 2021.Hal.16

