TEMPAT itu bernama Akuhalu. Sekilas apabila dilihat dari depan, pasti orang sudah ngeh bahwa tempat itu punya nuansa Bali. Sengaja, Ivonne Moniaga membuat nsepnya seperti itu agar memberikan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung. “Karena saya juga suka Bali,” ucap Ivonne, owner Akuhalu.
Dibuka pada November 2020, nama Akuhalu dipakai karena pandemi telah membuat orang “gila”. Mereka tak bisa kemana-mana. Ivonne pun menyajikan atmosfer Bali agar orang teringat nuansa Bali yang saat ini belum bisa mereka kunjungi.
Ornamen kecokelatan hadir pada kursi dan meja. Ada tanaman kaktus asli di berbagai sudut. Bukan sekadar pajangan. Di masing-masing pot ada tulisan nilai rupiah. Ternyata, kaktus kaktus kecil itu juga dijual.
Ivonne tak mau menyebut tempat itu sebagai kafe atau resto. Ia adalah warung dengan dekorasi terkonsep. Ivonne menyebutnya warung millenial.
Menunya bermacam-macam. Dari makanan lokal hingga barat yang disajikan dalam hot plate. Pengunjung juga bisa asyik cangkruk di situ. Banyak pengunjung tetap bersantai di situ setelah menikmati minuman dan aneka penganan. “Konsepnya memang pengin memadukan cafe dan resto menjadi satu tapi dengan harga warung,” ucap Ivonne.
Akuhalu pun juga menyediakan beberapa spot foto. Salah satunya dinding dengan banyak mini poster. Yang berhias lampu LED berwarna merah. Atau di halamam depan yang dilengkapi dinding expose dengan kaktus.
Agar pengunjung nyaman, musik tidak disetel terlalu keras. Salah satu yang menikmati suasana hari itu adalah Rian, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa). “Suka tempatnya, sih. Vibes-nya juga. Apalagi menu-menunya murah harganya,” ucap Rian.
Karena itu, para pengunjung pun tak semuanya berusia muda. Sejumlah pasangan paro baya juga terlihat datang di Akuhalu.
Bagi Ivonne, hal itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri ketika pengunjung betah. (Kevin Razaga)
Sumber: Harian DI’S Way. 23 Januari 2021.Hal.46-47

