Bukan Sekedar Cekrak-Cekrik. Jawa Pos.8 Oktober 2014.Hal.44

Belajar cari objek street photography

Surabaya-rasanya, fotografi kian mudah dipelajari. Kamera kian canggih dan terjangkau saku. Membidik objek, ambil gambar, krik! Rampung. Tetapi, kamera tetaplah alat. Tang menentukan hasil akhirnya adalah kemampuan dan kepekaan fotografer dalam menangkap dan menciptakan foto.

Itu diungkapkan Agus Leonardus, fotografer kawakan kota Gudeg. Lelaki 59 tahun tersebut menjadi pembicara seminar street photograpgy di Spazio Hall tadi malam (7/10). Seminar itu adalah rangkaian acara pameran foto mooi indie:portrait of life yang diadakan PT Intiland Development Tbk dan Komunitas Matenesia.

Agus mengungkapkan, secara teknis, kamera terus berkembang dan menciptakan terobosan anyar. “yang berkembang adalah teknis. Tetapi, secanggih apapun, kameranya tidak akan bisa mencari objek sendiri,”katanya. Kepekaan mencari objek tersebut sangat diperlukan seorang fotografi yang menekuni aliran fotografi jalanan alias street photography. Sebab, objek dalam aliran itu identic dengan sesuatu yang spontan atau momentum tertentu. Kemampuan seseorang dalam mencari objek sangat bergantung dengan intelektualitas, wawasan, dan latar belakangnya. Sebab, dalam street photography seseorang bebas mengambil gambar apapun. Street photography tersebut tidak identic dengan manusia,”ucap alumnus jurusan akutansi Universitas Gajah Mada itu.

Jadi, seseorang bebas menentukan objek yang difoto dengan tema kehidupan. Syaratnya, fotografer tidak boleh asal ambil. Mereka sebaiknya mengetahui objek yang sedang mereka potret. Misalnya, saat mengambil foto wayang atau tarian. Fotografer sebaiknya melakukan wawancara singkat sebelum mengambil foto. Dengan begitu, mereka tahu bagian mana yang bercerita atau gerakan mana yang bagus untuk di jepret.”Tidak asal cekrak-cekrik, fotografer dituntut mempelajari objek,”tutur laki-laki yang mempelajari fotografi sejak 1977 tersebut.

Selain itu, etika fotografi tidak boleh dilupakan. Saat membidik manusia yang sadarakan difoto, fotografer sebaiknya tersenyum sebagai tanda permisi untuk mengambil gambar. Jika objek membalas dengan senyuman, fotografer baru bebas mengambil foto. Setelah itu, fotografer sebaiknya menemui objek dan meminta izin lagi secara langsung. “Jangan lupa sekalian melengkapi data. Tanya nama dan usianya untuk keterangan foto, agar foto kita lebih hidup, “jelasnya.

Agus pun merasa beruntung. Sebab, dia besar di Jogjakarta yang merupakan gudang seniman. Hal tersebut membuatnya bebas mengambil foto para seniman sesuka hati. Tetapi tidak berarti dia tidak pernah mendapatkan respon jelek dari objek. Fotografer dengan street photography selalu menpunyai tantangan. Sebab, kebanyakan objeknya adalah orang-orang di jalanan dengan aksi spontan.

Dia mencontohkan pengalamanya di Vietnam. Saat bertemu dengan tukang tambal ban perempuan, dia membidiknya. Responsnya pun ramah. Sayangnya dari belajang, dia malah ditimpuk suami perempuan tersebut. “Saya juga pernah berdebat dengan satpam salah satu stasiun di solo yang tidak memperbolehkan saya mengambil gambar,”paparnya.

Karena merasa berada di tempat umum, Agus tetap kukuh mempertahankan pendapatnya. Dia menganggap stasiun adalah ruang public. Tidak ada aturan yang melarang fotografer untuk mengambil foto. Dalam momentum seperti itu,fotografer sebaiknya tetap bernegosiasi dengan argument rasional. Benar saja, kepala stasiun akhirnya berterima kasih.”fotografer juga harus terbiasa bernegosiasi. Jangan Cuma jadi fotografer yang terlena dengan teknologi,”katanya. (ina/c20/dos).

 

 

 

 

Tip-tip street photography

  • Minimalkan manipulasi atau rekayasa saat memotret
  • Pakai speed tinggi. Setidaknya 1/250 detik. Kecepatan itu relatif aman sehingga foto tidak shake (goyang)
  • Pakai diafragma kecil. Misal f/8. Tujuannya bidang tajam foto semakin lebar. Hasilnya, ketajaman foto tidak meleset dari fokus.
  • Beri senyuman pada objek foto. Itu dimaksudkan untuk bilang permisi dan minta izin. Bila objek tidak berkenan sebaiknya cari gambar lain.
  • Kalau tiidak diperkenankan memotret di depan umum, padahal objek begitu menarik, cobalah bernegosiasi.

 

Sumber: Agus Leonardus

Grafis: Rizky/ jawa pos

UC LIB-COLLECT

Sumber: Jawa Pos, Rabu 8 Oktober 2014