LITERASI kesehatan perlu dipahami semua pihak sehingga imbau-imbauan pemerintah untuk memberantas Covid-19 bisa segera terwujud. Terutama untuk mencegah munculnya klaster-klaster penularan lokal akibat mobilitas masyarakat yang sepatutnya tidak terjadi.
“Sebagus apa pun kebijakan yang dibuat apabila tidak diikuti dengan partisipasi aktif dari seluruh masyarakat, maka tidak akan terimplementasi dengan baik untuk memberikan dampak positif,” ungkap Juru Bicara Satgas Penanga nan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito.
Dia mengaku sebelumnya berkali-kali mengingatkan bahwa tradisi mudik dan halalbihalal Lebaran secara tatap muka bisa ditunda hingga pandemi reda. Atau, opsi alternatif dengan menyelenggarakannya secara virtual.
Namun, masih ada sebagian masyarakat yang nekat melakukan perjalanan ke luar kota. “Seperti yang sudah saya peringatkan sebelumnya bahwa kegiatan kegiatan tersebut berpotensi meningkatkan penularan dan berdampak pada meningkatnya kasus positif Covid-19 di Indonesia,” kata Wiku.
Dia menambahkan, masyarakat seharusnya bisa belajar dari pengalaman libur panjang pada hari-hari besar atau libur nasional sebelumnya yang selalu mening katkan angka penularan Covid-19. “Masyarakat harus lebih patuh terhadap protokol kesehatan dan berhati-hati,” tuturnya.
Menurut dia, kolaborasi pemerintah dengan masyarakat, tokoh masyarakat, beserta tokoh agama merupakan hal yang penting agar penularan Covid-19 bisa dicegah dan masyarakat dapat segera terbebas dari pandemi. Hal itu bisa terlaksana jika kebijakan pemerintah dalam mengatasi pandemi berjalan efektif. (als/c6/wir)
Sumber: Jawa Pos. 29 Mei 2021. Hal.5

