SURABAYA – Salah satu penyebab kematian ibu adalah pendarahaan saat melahirkan. Ada berbagai factor pendarahan . Plasenta akreta merupakan faktor terbanyak penyebab pendarahan .
“Plasenta yang menempel kuat di Rahim bahkan bisa samapi melekat di kandung kemih itu disebut plasenta akreta,” jelas dokter spesialis kandungan RSUD dr Soetomo Dr dr Agus Sulistiyono SpOG(K).
Sejak 2015, Devisi Fektomaternal RSUD dr Soetomo mendata adanya 48 ibu hamil yang mempunyai indikasi plasenta akreta. Separo di antara mereka sudah melahirkan dan 14 ibu terbukti mengalami plasenta akreta. Sembilan di antara 14 pasien tersebut harus menjalani pangankatan Rahim Karena plasenta lengket hingga ke organ lain.
Ibu yang pernah menjalani operasi Caesar pada persalinan sebelumnya , menurut Agus , sangat berisiko mengalami plasenta akreta ketika hamil berikutnya. Selain itu, mereka yang pernah menjalani kuret atau operasi Rahim memiliki risiko serupa.
“Angka plasenta akreta tinggi Karena makin banyak yang menjalani operasi Caesar,” tuturnya.
Agus mengaku kerap menerima orang tua yang ingin anaknya lahir pada hari tertentu.Tentu caranya lewat operasi Caesar . Menurut dia, cara demikian tidak tepat , seharusnya operasi Caesar dilakukan jika lahir normal melalui vagina sudah tidak memungkinkan.
Dalam kehamilan normal, plasenta hanya menempel di dinding Rahim. Namun, tidak ada yang tahu bagaimana plasenta akan menempel.Masalah muncul jika plasenta menempel di dinding Rahim yang pernah teluka, entah Karena Caesar atau operasi lain . Pembuluh darah yang muncul bisa jadi menempel hingga ke lapisan otot Rahim . Yang terburuk, tembus ke organ lain di dekat Rahim seperti kandung kemih.
Ibu yang pernah mengalami Caesar sangat disarankan memeriksakan rahimnya . Seminggu setelah persalinan, bisa dilihat ada atau tidaknya cacat pada dinding rahim.Jika terdapat kecacatan , kehamilan selanjutnya harus dipantau.
Menurut Agus, pemantauan tersebut bisa dilakukan pada trissemester pertama kehamilan . Dokter bisa melihat di mana kantong kehamilan terjadi . Beruntung jika kantong kehamilan terjadi di dinding rahim yang tidak cacat.”Kalau berada di dinding rahim yang cacat, ibu dan dokter kandungan harus bekerja sama untuk . meminimalkan risiko pendarahan , “ tegas Agus.
Dokter selalu menyarankan kepada Ibu dengan risiko plasenta akreta untuk menjalani operasi Caesar ketika melahirkan . Apalagi jika plasenta menutup jalan lahir. Namun, jika tim medis yang menangani ibu yang melahirkan tidak siap, bisa jadi proses melahirkan tersebut akan berbahaya.
Yang harus disiapkan adalah persediaan darah selama operasi berlangsung.” Risiko pendarahaan hebat bisa terjadi sewaktu waktu ,” tutrnya. (lyn/c5/any)
UC- Lib Collect
Sumber : Jawa Pos, Sabtu 27 Januari 2016

