Cangkul. Kompas.19 Maret 2015.Hal.17

 

Cangkul merupakan alat pengolah tanah. Alat tersebut menjadi alat kerja petani. Cangkul menjadi simbol kerja keras dan jatuh-bangun petani dalam mengupayakan kehidupannya.

Di Jawa, simbol cangkul bermakna siap menghadapi dan mengatasi tantangan-tantangan yang menghadang, gerak badan, dan harapan agar usahanya berhasil. Kewirausahaan boleh dikata tidak terlepas dari filsofi cangkul. Dalam kewirausahaan ada kerja keras, tantangan dan risiko, upaya menghadapi dan mencari solusi atas tantangan tersebut, serta harapan atau optimisme.

Richard Cantillon (1680 – 1734) pencetus teori kewirausahaan dan penulis buku Essai sur la Nature du Commerce en General, menyatakan, petani bisa menjadi gambaran atau contoh wirausaha. “Petani adalah seorang wirausaha yang berkomitmen mengupayakan properti miliknya, lahan, dan pertanian agar menghasilkan uang secara berkesinambungan meski untung atau rugi. Petani juga menyerap banyak tenaga kerja dan membeli barang dari wirausaha lain (Quarterly Journal of Austrian Economics: How Entrepreneurship Theory Created Economics, Volume 16, No.4, 2013).

Dari gambaran itu, Cantillon menggarisbawahi bahwa wirausaha harus mempunyai komitmen untuk mengembangkan usahanya. Bisa jadi usaha mereka melaju menyeret sektor-sektor lain dan menyerap tenaga kerja. Namun, bisa pula usaha mereka berada dalam ketidakpastian untung atau rugi. Wirausaha adalah orang-orang yang selalu bergelut untuk menyesuaikan diri dan berani menghadapi risiko, bahkan kebangkrutan.

Kewirausahaan di Indonesia tengah bertumbuh. Berbagai bidang usaha disasar, seperti makanan dan minuman, penatu, pakaian jadi, jasa perjalanan (travel), dan pencucian mobil. Bahkan, perkembangan internet dan teknologi informasi mampu melahirkan kewirausahaan berbasis inovasi teknologi.

Saat ini, kewirausahaan di Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga. Jumlah wirausaha di Indonesia 1,65 persen dari total penduduk 250 juta jiwa. Adapun jumlah wirausaha di Singapura mencapai 7 persen dari jumlah penduduk, Malaysia 5 persen, dan Thailand 4 persen.

Pemerintah menargetkan wirausaha nasional tumbuh dari 1,65 persen menjadi 2 persen guna mendorong perekonomian dan menyerap 4 juta tenaga kerja. Upaya yang dilakukan adalah meningkatkan kepastian usaha, mendorong peningkatan omzet, jaringan pasar, dan penyerapan tenaga kerja. UKM juga tengah didorong agar naik kelas menjadi waralaba.

“Hal itu terjadi karena pelaku usaha yang merintis waralaba kurang mengetahui dan mendalami inti waralaba dan wirausaha,” kata ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia Anang Sukandar.

Usaha banyak bermunculan setiap tahun. Namun, sebagian besar usaha terhenti di tengah jalan karena belum benar-benar  matang. Di sisi lain, ada usaha yang sudah berkembang, tetapi tidak bisa meningkat menjadi waralaba. (Hendriyo Widi)

Sumber :  Kompas. 19 Maret 2015. Hal 17.