Cetak Purna TKI Jadi Entrepreneur. Jawa Pos Radar Banyuwangi. 23 April 2014.Hal.34

Tidak sedikit warga Banyuwangi yang tergiur menjadi tenaga kerja di negara tetangga karena iming-iming penghasilan yang lebih tinggi. Mereka harus rela meninggalkan rumah yang nyaman serta keluarga untuk memenuhi nafkah. Namun, setelah menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negara yang diinginkan dan pulang ke tanah air, mereka kembali menjadi pengangguran dan tidak memiliki penghasilan.

BERLANTAR keadaan itulah, Pemerintah kabupaten (Pemkab) Banyuwangi menggandeng Bank Jatim mengundang sekitar 500 TKI purna atau mantan TKI selutuh penjuru Banyuwangi untuk diberi pelatihan dan keterampilan berwirausaha di Aula Bank Jatim kemarin (22/4). Mereka dijemput menggunakan 8 unit bus khusus yang disediakan oleh Bank Jatim. Tidak tanggung-tanggung, Bank Jatim mengundang mitranya yakni, Universitas Ciputra yang terkenal sebagai universitas pencetak wirausaha sebagai infrastruktur.

Pemimpin Bank Jatim cabang Banyuwangi, Hermanto melalui perwakilan Bank Jatim Surabaya, Purboyo Sinugroho yang hadir dalam acara tersebut menuturkan, program pemberdayaan ini memang baru untuk Bank Jatim. “Ini bermula dari kerja sama kami dengan Ciputra karena mereka memiliki program penelitian yang mendalam tentang TKI,” tuturnya. Pelatihan TKI puna ini, katanya akan dilakukan melalui program edukasi keuangan dan wirausaha yang akan disampaikan oleh pihak Universitas Ciputra.

Para TKU purna akan dilatih dan dibekali keterampilan agar bisa menjadi wirausaha baru. Sehingga mampu meningkatkan taraf hidup sekaligus membuka peluang lapangan kerja baru bagi orang lain. “Kami harap melalui kesempatan ini bisa memberdayakan TKI purna sehingga bisa memiliki tumpuan penghasilan untuk melanjutkan hidup,” katanya.

Rencananya, kegiatan yang berlangsung hingga Jumat (24/4) nanti akan menjaring 50 TKI purna untuk diberi pelatihan lenjutan oleh pihak Ciputra. Penjaringan tersebut berdasar minat dan usaha yang sedang mereka miliki saat ini. “Selama diberi pelatihan lanjutan, mereka akan kami pantau terus. Jika mumpuni dan terlihat sebagai entrepreneur sejati, kami akan fasilitasi mereka modal untuk mengembangkan usaha mereka,” bebernya.

Dikonfirmasi di tempat yang sama, Kepala Dinas Sosial Ketenaga kerjaan dan Transmigrasi (Dinsonaketrans) Banyuwangi Syaiful Alam Sudrajat menuturkan, program ini sejalan dengan tujuan Pemkab untuk mencetak wirausaha sebanyak-banyaknya.

“Pemberdayaan TKI purna ini selain agar mereka (TKI purna) tidak kembali ke luar negeri, juga untuk menciptakan entrepreneur yang mampu menyokong pertumbuhan ekonomi daerah,” cetusnya.

Sementara itu, pelatihan yang juga dihadiri Biro Kesra Gubernur Sri Rahayu, Administrasi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat kabupaten Banyuwangi Wiyono, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pertambangan (Disperindagtam) Hary Cahyo Purnomo dan Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi, Sulihtiyono ini mendapat respon positif oleh para TKI purna yang hadir.

Siti Maslikah, 45, dari Tegalpare, Kecamatan Muncar mengatakan, sangat berterima kasih kepada Pemerintah Daerah dan Bank Jatim karena telah memberikan keterampilan kepada para TKI purna. “Dengan adanya kegiatan ini kita bisa mengenal akses-akses untuk mengembangkan usaha kami,” tukas perempuan yang pernah bekerja di Singapura, Kuwait, dan Arab Saudi ini.

TKI lainnya, Setyorini, 39 asal Tapanrejo, Muncar, pun demikian. Ia sanget berterima kasih atas fasilitas yang diberikan Pemkab dan Bank Jatim. “Dari sini kita bisa belajar mengelola keuangan dan permodalan,” ujar wanita yang pernah bekerja di Korea ini. Ia berharap pelatihan ini bisa mewujudkan keinginan TKI purna untuk menjadi wirausaha.

“Daripada kami bekerja ke luar negeri lagi, kami lebih memilih untuk mengelola uang yang kami punya di tempat tinggal kami. Kami bisa menghidupi keluarga kami dan masyarakat,” beber wanita yang memiliki usaha bakpia ini.

Muhammad Khotib asal Sukorejo, kecamatan Bangorejo, sangat setuju dengan kegiatan ini. “Acara ini sangat baik. Kami memang butuh didampingi untuk membangun pemikiran kami bahwa menjadi wirausaha di negeri sendiri itu lebih menjanjikan dan bermanfaat dari pada bekerja di negara orang,” ujar pria yang pernah bekerja di Brunei Darussalam ini. (cin/*/als)

Sumber : Jawa-Pos.23-April-2015.Hal.34