SURABAYA – Busana cheongsam yang dulu identik dengan Imlek kini berkembang menjadi busana ready-to-wear. Meski mempertahankan ciri khas kerah shanghai, cheongsam modern cenderung lebih kaya warna, motif, dan bahan.
Salah satunya adalah koleksi cheongsam bertema jacquard flowers yang dirilis desainer Melia Wijaya. Melia seolah melukis bunga-bunga pada kain-kain berwarna cerah. Misalnya, putih, biru, dan ungu.
Potongan yang simpel membuat cheongsam rancangan Melia nyaman dikenakan untuk beaktivitas sehari-hari. “Setelah Imlek pun, baju ini tetap bisa dipakai untuk hang out,” kata Melia.
Sebelum Melia merilis koleksinya, desainer Margaretha J. Juga mengeluarkan cheongsam dengan motif dan bahan yang lebih kekinian. Mempertahankan warna merah untuk menyiratkan suasana Imlek, Margaretha memilih bermain pada motif printing bunga sakura.
Sejumlah department store juga memajang cheongsam dari brand-brand fashion internasional. Head of Marketing Communication Grand Palace Department Store Renny Safitri mengungkapkan, cheongsam dengan permainan motif yang tidak sesuai pakem klasik sedang naik daun.
Bukan hanya motif yang lebih berani, bahan-bahan yang digunakan pun tak harus sutra atau satin, melainkan polyester atau katun agar pemakainya tidak gerah.
“Menyesuaikan dengan cuaca tropis,” bebernya.
Unsur modern terlihat dari potongan yang simpel. Model long dress dengan belahan samping yang tak terlalu tinggi juga membuat pemakainya lebih nyaman. Kombinasi kancing di bagian dada dipertahankan sesuai pakem. “Sehingga, meski modern, tetap kelihatan bahwa itu cheongsam,” tutur Reny.
Fashion blogger Katherin Laksamana menilai, tren tersebut merupakan imbas persaingan ketat di industri fashion. Karena itu, brand maupun desainer harus kreatif merilih fashion style. “Customer lebih tertarik membeli tampilan lebih berani dan modelnya lebih banyak,” jelasnya. (rid/c7/noe)
Jawa Pos 25 Januari 2016
UC Lib-Collect

