
Dua puluh enam tahun lalu, Christopher E Brown datang ke Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, untuk menyelam dan membuat usaha wisata. Namun, dia salah perhitungan karena peliknya masalah lingkungan di sana. Masalah itu yang mengikat hidupnya dengan tanah Buleleng.
Sekitar tahun 1991, saat Chris Brown datang pertama kali, Desa Pemutaran sebetulnya memiliki potensi sebagai obyek wisata penyelaman. Namun, kondisi terumbu karang di sana ternyata rusak parah akibat penambangan oleh warga setempat untuk dijual sebagai bahan bangunan. Sebagian lagi rusak akibat penggunaan bahan peledak oleh nelayan ketika mencari iklan.
Kerusakan terumbu karang itu menjadi rentetan dari kemalangan yang menimpa warga Desa Pemuteran. Untuk menjual terumbu karang sebagai kapur, butuh diolah di dalam tungku yang dibakar oleh api, bahan bakarnya dari kayu ayng diambil dari hutan.
Hutan habis, lau rusak. Hanya malapetaka dan kekeringan yang menanti mereka. Kemiskinan dan perusakan alam pada akhirnya membawa masyarakat Desa Pemuteran sampai pada titik yang ekstrem: kurang makan!
Di luar penyelaman, Chris menyusuri pantai Desa Pemuteran yang terletak di pesisir utara Bali itu. Beberapa kali dia menemukan kura-kura dan penyu diikat atau dikandangkan di rumah warga. Kura-kura dan penyu tersebut mau diperdagangkan demi aung untuk menyambung kehidupan.
“Gunung dan laut telah rusak. Mereka menjadi miskin dan lapar. Bukan larangan merusak alam yang dibutuhkan, melainkan kesadaran untuk memperbaiki dan membangun rumah bagi alam dan mereka sendiri,” kata Chris.
Mulailah Chris kembali berkeliling desa, berdialog dengan warga. Pekerjaannya sebagai ahli komputer, pemecah masalah dan komunikasi publik, serta penyusun strategi perencanaan di sebuah perusahan di Australia dia tinggalkan. Berbekal keahlian yang ia miliki dan kemampuan berbahasa Indonesia dasar, Chris menjawab panggilannya untuk mengembalikan harmonisasi alam-manusia di Pemuteran.
Kunci dari masalah kemiskinan dan kelaparan adalah membuat masyarakat bisa makan dan lepas dari kemiskinan sembari melestarikan lingkungan.
Prosesnya ternyata tidak mudah dan berlangsung lama, yaitu mulai 1991-1996. Ia menyentuh problem paling mendasar masyarakat, yaitu kemiskinan dan kelaparan. Dengan sabar, Chris terus-menerus mengingatkan bahwa kerusakan gunung dan laut mengakibatkan sumber-sumber makanan hilang.
Masyarakat perlu memperbaiki kerusakan tersebut secara mandiri agar sumber-sumber pangan kembali. Setelah sumber-sumber pangan itu kembali, masyarakat perlu menjaga dan terus-menerus melestarikannya.
Proyek penyu
Tidak hanya blusukan ke masyarakat, Chris juga mendirikan Reef Seen untuk mengonservasi terumbu karang dan penangkaran penyu. Chris menyadari, kalau hanya menyadarkan masyarakat melestarikan lingkungan tanpa ada imbal ekonomi sementara, usaha tersebut tidak akan berhasil. Berbekal dana pribadi dan donasi dari sebuah perusahaan di New York, Amerika Serikat, sebesar 4.000 dollar AS, ia memulai proyek penyu.
Menurut dia, Proyek Penyu tidak untuk mencari keuntungan. Proyek itu dibuat untuk membantu menyelamatkan dan melindungi penyu dan telur penyu sekaligus memberikan sumber pendapatan bagi penduduk setempat. Caranya adalah dengan membeli penyu atau telur yang ditemukan penduduk dengan harga lebih tinggi dari harga pasar.
Pada saat bersamaan, Chris sedikit demi sedikit menjelaskan pentingnya pelestarian penyu kepada penduduk. Penyu betina bisa kembali ke Pemuteran sampai empat kali dalam satu musim untuk bertelur. Sekali bertelur, jumlahnya antara 60 butir dan 150 butir. Telur-telur itu dipindahkan ke tempat penangkaran hingga menetas. Setelah menetas dan berusia 2-3 bulan, penyu-penyu kecil itu dilepaskan.
“Penduduk desa menyadari, mereka dapat menghasilkan lebih banyak aung dengan menjual telur kepada kami dan memastikan penyu betina kembali ke laut ketimbang menangkap, menjual, atau membunuhnya,” ujarnya.
Pendekatan budaya
Pendekatan dan dialog budaya dengan para tetua adat juga dilakukan. Aturan adat atau awig-awig menjadi kunci utama sebagai upaya mengonservasi alam. Hal itu terkait erat dengan ajaran Tri Hita Karana, yaitu menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Hyang Widi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa (Parahyangan), sesama (Pawongan), dan alam lingkungan (Palemahan).
Hasilnya, lahirlah aturan atau awig-awig Desa Pakraman Pemuteran. Aturan itu melarang masyarakat menggali terumbu karang untuk bahan bangunan, mencari ikan dengan bom dan racun, serta menangkap ikan hias untuk diperdagangnkan. Yang melanggar diberi sanksi, mulai dari sanksi edukasi, denda, hingga diasingkan dari desa adat.
Selain itu, Chris mengonservasi terumbu karang melalui program Reef Gardeners. Program itu diawali bersama masyarakat setempat dengan membersihkan bintang berduri (Acanthaster planci) yang merusak dan mematikan terumbu karang. Bintang laut itu menghasilkan kerusakan yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan pemutihan terumbu karang (bleaching).
Ia berupaya memperindah karang-karang di Pemuteran sembari melakukan transplantasi terumbu karang. Selain itu, ia membuat taman dewa dan pura di dasar laut. Ada lebih kurang 33 patung dewa yang dipasang di dasar laut dan menjadi salah satu destinasi penyelaman. Semua upaya itu melahirkan kemandirian ekonomi masyarakat setempat. Masyarakat bisa membuka usaha warung, restoran, dan jasa wisata (misalnya pemandu, instruktur selam, dan komunitas penari yang mengisi acara-acara di hotel-hotel besar).
Meski Chris adalah orang asing, kiprahnya mendatangkan apresiasi dari masyarakat. Kini mereka bahkan menyebutnya dengan nama lokal Bali “Pak Nyoman” sebagai simbol bahwa ia telah dianggap sebagai bagian dari keluarga Pemuteran.
Chris sudah terlanjur cinta dan tak bisa berpisah dengan Desa Pemuteran. “Saya berencana untuk meninggal di sini,” katanya sambil tersenyum.
Sumber: Kompas/27 Desember 2017/Hal 16
