SALAH satu transportasi tradisional yang pernah ada di Surabaya adalah pedati atau cikar. Transportasi ini menggunakan tenaga hewan sapi untuk menarik gerobak. Transportasi ini dahulu menjadi andalan untuk mengangkut barang dari pelabuhan menuju ke suatu tempat di beberapa titik Kota Surabaya.
Sejarahwan Kota Surabaya Adrian Perkasa mengatakan, mulai kapan transportasi cikar ini ada di Surabaya belum diketahui pasti. Pihaknya menyebut untuk tempat yang paling banyak dijumpai pedati ada di kawasan sekitar pelabuhan. “Biasanya (pedati) mengangkut material bangunan, maupun hasil bumi,” ujar Adrian.
Sementara itu, Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika menambahkan, keberadaan pedati dahulu paling banyak memang dijumpai di sekitar pelabuhan. “Memang digunakan mengangkut barang kebanyakan atau komoditi perdagangan,” ucapnya.
Dia menerangkan, pada era tahun 1920-an, pedati masih menjadi primadona angkutan barang di Surabaya. Sementara untuk angkutan orang. sudah ada trem uap. Menurutnya. selain cikar dahulu di Surabaya juga ada dokar yang ditarik kuda.
“Kalau cikar era 1990-an masih dijumpai di Surabaya. Pernah saya melihat di kawasan Sidotopo, Jalan Kenjeran,” ungkapnya. Namun seiring perkembangan zaman, transportasi tradisional yang menggunakan tenaga penggerak hewan sudah ditinggalkan. Kemudian berganti kendaraan bermesin, seperti mobil dan truk untuk mengangkut barang. (rus/nur)

