Sebagai penggemar Coto Makassar, kedai di Senen ini bisa masuk dalam opsi. Berdiri sejak tahun 1995, pemiliknya mena warkan rasa autentik.
Indonesia kaya beragam kuliner khas. Salah satunya datang dari Makassar, dengan sajian khas coto makassar. Nah, enaknya tinggal di sepu taran kota besar, tak perlu pergi jauh ke Makassar untuk mencicipi makanan ini. Salah satu coto makassar dengan rasa autentik dapat ditemui di Jalan Kramat Raya, Senen.
Bernama Coto Makassar Senen asuhan Syamsul Daeng Ngawing, kedai ini mulai buka tahun 2003 di lokasi sekarang. Pemilik Coto Makassar Senen, Syamsul Daeng Ngawing ber- kisah, kedai ini sebenarnya sudah dirintis 1995 di Kalijodo. “Jadi sejak saya buka kedai sampai sekarang, sudah pindah tiga kali,” terang Syamsul.
Syamsul buka kedai coto makassar bukan tanpa alasan. Dia bilang, kedai ini adalah usaha turun temurun dari nenek. Dia merupakan generasi ketiga penerus dan membuka kedai sendiri saat merantau ke Jakarta. Tempat makan ini cukup sederhana, ada 2 tempat para pengunjung bisa menyantap makanannya. Keduanya berse berangan dan terpisah oleh jalan. Syamsul mengatakan, usahanya berkembang sehing ga kedainya bisa diperluas.
Saat Kontan menyambangi kedai ini, hampir seluruh meja yang tersedia, udah terisi. Setelah mendapatkan tempat, kami pun langsung memesan ma kanan. Di sini, pengunjung bebas memilih isi coto, boleh kombinasi atau satu macam. Jenis yang tersedia dari daging, otak dan jerohan seperti jantung, ginjal, paru dan hati sapi. “Itu sesuai selera orang yang mau makan. Kami sediakan semuanya,” kata Syamsul.
Syamsul menyebut, keunggulan coto makassar adalah penggunaan dagingnya yang lengkap karena semua bagian sapi digunakan. Mulai dari daging, hati, jantung, ginjal, paru, otak, bahkan lidah.
Pilihan kami jatuh pada coto makassar dengan isi daging saja dan es pisang ijo. Di sini, pengunjung bisa memakan coto ditemani gogos, burasa, atau ketupat. Selain es pisang ijo, untuk menu pelengkap lainnya, ada jalangkote, es pallu bun tung, juga es markisa.
Tak menunggu lama, seporsi coto makassar pun diantarkan ke tempat kami. Disajikan dalam mangkuk kecil, dengan – warna kuah coklat pekat, coto makassar ini bearoma mengggoda. Meski disajikan dalam mangkok yang kecil, ternyata isi dagingnya melimpah.
Saat disantap, gurih kaldunya langsung terasa. Namun, rasanya masih sedikit hambar. Anda sendiri harus menyesuaikan rasanya sesuai dengan selera. Di setiap meja sudah tersedia garam, sambal, jeruk nipis, hingga kecap.
Begitu disesuaikan dengan selera, rasanya benar-benar lezat. Tekstur dagingnya sedikit keras namun masih mudah dikunyah. Bumbunya pun meresap hingga ke daging. Bila di santap dengan burasa yang gurih atau ketupat, rasa coto ini masih lezat.
Nah, sambal di tempat ini cukup unik karena dicampur tauco. Rasanya pedas serta sedikit asam dan asin hingga menambah kekayaan rasa.
Beralih ke es pisang ijo dengan es serut yang menumpuk. Saat dicoba, sensasi dingin dan manis langsung terasa. Bubur sumsumnya lembut, ditambah dengan pisang ijonya yang manis dan tak kalah lembut.
Rasa autentik
Kelezatan coto makassar ini diakui oleh salah satu pengunjung, Fatah yang sudah jadi pelanggan sejak 2014.
Menurut dia, rasa coto makassar di sini tetap konsisten. Dia menyukai penyajian coto nya yang dalam mangkok kecil tetapi penuh dengan daging. Rasa kuahnya gurih, tak seperti coto makassar di tempat lain.
Dia berpendapat, Coto Makassar Senen merupakan tempat yang menawarkan rasa asli.
“Untuk cotonya di sini favorit banget. Saya sudah coba beberapa tempat, di sini yang menurut saya paling autentik dan enak,” ujar Fatah.
Syamsul bilang, dia masih menggunakan resep turun temurun dari neneknya. Jadi, coto makassar yang diraciknya memiliki rasa autentik. “Banyak penjual coto di Jakarta, tetapi beda rasanya,” ujarnya.
Syamsul mengaku tak pernah mempromosikan kedainya. Pengunjung di sini, biasanya dapat info dari mulut ke mulut serta media sosial.
Nah, kedai ini buka setiap hari mulai pukul 07.00-10.00 WIB. Anda juga bisa memesan melalui layanan pesan antar makanan online, yakni GoFood dan GrabFood.
Seporsi coto makassar di ini banderolnya Rp 30.000, ada pun es pisang ijo Rp 20.000 perporsi, dan harga satu burasa Rp 4.000.
Butuh Lebih dari 1 Kuintal Daging Sapi
Buka dari pagi hingga malam hari, kedai Coto Makassar Senen asuhan Syamsul Daeng Ngawing membutuhkan lebih dari 50 kg daging sapi di hari kerja dan lebih dari 100 kg pada hari libur.
“Sabtu-Minggu dan hari libur biasanya habis lebih dari 1 ekor sapi. Itu lebih dari 100 kg,” ujar Pemilik Coto Makassar Senen, Syamsul Daeng Ngawing.
Menurut Syamsul, kebutuhan daging hingga satu kuintal itu, lantaran pengunjung yang datang terus menerus. Pada hari libur, kebanyakan pengunjung kedai ini adalah kalangan keluarga, sehingga jumlahnya lebih banyak. Sedangkan pada hari biasa, pembeli dari pegawai kantoran. Meski begitu, Syamsul tak menampik bahwa usaha yang dijalankannya ini sempat mengalami penurunan penjualan lantaran pandemi Covid-19, “Ya, kami terkena dampaknya juga. Penurunan penjualan sampai separuhnya,” kata Syamsul
Penjualan yang menurun ini, dialami Syamsul selama setahun sejak Covid-19 menyerang Indonesia. Menurutnya, saat t itu banyak orang yang belum berani untuk makan di luar. bersyukur penjualannya masih dibantu secara online.
Meski terkena dampak, Syamsul mengatakan tetap bertahan di tengah pandemi. “Kami bertahan saja. Mau bagaimana lagi, kan keadaannya begini,” kata Syamsul.
Hampir 2 tahun pandemi berlangsung, Syamsul menyebut penjualannya sudah kembali stabil seperti sebelumnya
Sumber: Kontan. 17-23 Januari 2022. Hal. 24

