Fransiska Firlana

Bagi sebagian masyarakat Indonesia yang awam, makan bunga segar punya kesan mistis. Pasalnya, pikiran orang sebatas pada kembang setaman untuk mengirim doa. Hanya saja, belakangan bunga segar jadi tren dunia kuliner. Bunga konsumsi atau yang istilah kerennya edible flower makin digandrungi. Petaninya juga mulai banyak.

Edible flower biasanya dipakai untuk garnish, salad, puding, hiasan kue kering, hiasan cake, bahkan untuk isian permen. Fungsi utamanya menang sebagai bahan untuk mempercantik makanan, tapi juga dianggap punya khasiat.

Edible flower bisa disajikan secara segar, atau kering (pressed edible flowers). Kendati disebut kering, bunga ini tak kehilangan warnanya.

Jenis edible flower yang popular antara lain pansy dan viola. Bunga cantik yang kebanyakan ditemukan di Eropa ini memiliki citarasa dan khasiat yang berbeda. Pansy yang biasa jadi campuran salad ini memiliki sensasi dingin layaknya daun mint dan sedikit grassy. Bunga ini memiliki sifat anti bakteri, anti jamur, anti oksidan, dan membantu menurunkan tekanan darah.

Sementara viola memiliki rasa manis dengan kekhasan flora taste dan sering dijadikan pendamping salad. Viola dianggap membantu menurunkan tekanan darah tinggi.

“Meski satu jenis, kalau mah kotanya berbeda warna taste nya juga bakal berbeda,” jelas Eva La Maradova, pemilik Eve Edible Flower. Eva bilang, taste bunga juga seperti sayuran. Ada yang manis, grassy, pahit, asam, dan ada yang netral.

Eva yang mulai membudidayakan edible flower sejak akhir tahun 2016 bilang, pecinta bunga ini di Indonsia makin banyak. “Dulu saya menanam secara hidroponik karena coba-coba dan awalnya belum kepikiran menjual bunga nya,” jelas Eva yang membudidayakan bunga pangan di Bandung ini.

Lantas, ada kolega Eva yang berminat untuk membeli bu nga hasil panenan itu.

Dari situlah permintaan akan kuntum edible flower yang fresh berdatangan. Eva yang tadinya hanya menanam di balkon rumahnya, terus menambah lahan di teras dan halaman rumahnya. Belakangan, ia membuat kebun di Garut. Dalam sehari. Eva yang di bantu 9 karyawannya memanen 1.500-2.000 kuntum bunga. Eva menjual bunganya dengan sistem paket. Satu paket berisi 50-60 kuntum bunga dengan harga Rp 75.000 hingga Rp 80.000 per paket. Dalam sebulan omzet yang didapat sekitar Rp 60 juta – Rp 70 juta. Saat hari besar, ia bisa meraih Rp 100 juta per bulan.

Eva yakin bisnis budidaya edible flower terus berkembang. Sebab, penikmatnya bukan lagi sebatas pengunjung restoran di hotel bintang 4 atau bintang 5. Edible flower juga semakin banyak dipesan konsumen end user.

Hal itu juga dirasakan oleh pemilik Edible Flower Jogja. Trio Chandra Purbasiwi atau lebih dikenal dengan nama Chef Chondro Kirono. Mantan chef di hotel berbintang ini pilih berganti profesi jadi petani bunga karena melihat potensinya di Indonesia

Menurut Chandra, sekalipun pembudidaya edible flower bermunculan tapi belum begitu banyak jumlahnya. Di sisi lain pasarnya besar di Indonesia.

Selain untuk memasok kebutuhan resto dan hotel, edible flower diminati para pelaku usaha cake, puding, dan kue kering UMKM. Konsumen perorangan pun semakin banyak. “Sudah mulai ada kebiasaan hidangan tanpa bunga terasa ada yang kurang,” jelas Chandra yang membuka kebun di daerah Kaliurang, Yogyakarta ini.

Chandra giat melakukan edukasi terkait konsumsi edible flower ini melalui akun Instagramnya. Selaku chef yang memiliki keahlian sebagai food stylist dan food design creator. Chandra selalu pakai edible flower ke hidangannya.

“Saya ingin mengedukasi bahwa edible flower ini tidak melulu harus di menu western tapi menu khas Indonesia pun bisa disandingkan dengan edible flower,” jelas Chandra.

Akun IG Chandra memang banyak menampilkan makanan khas Indonesia dengan edible flower. Misalnya onde-onde pandan, dadar gulung, kethoprak Jakarta, jenang krasikan, dan gulai ikan.

Chandra yang kini memiliki kebun seluas 200 meter persegi akan terus mengembangkan produksinya. Saat ini Chandra menjual edible flower jenis viola panenannya seharga Rp 125.000 per paket. Satu paket viola berisi 100 kuntum. Sedangkan pansy, dijual dengan harga Rp 100.000 per paket isi 30 – 35 kuntum bunga. “Marginnya lumayan banget, minimal 50%,” jelasnya.

Bebas pestisida

Jika Anda tertarik menjajal usaha ini, tentu harus punya tenaga yang menguasai budidaya edible flower. Menurut Eva, tanaman ini susah-susah gampang dalam perawatannya sekalipun bisa tumbuh di mana saja. “Sekalipun bunga ini dari Eropa tapi cocok di daerah tropis juga. Kalau gagal melakukan pembibitan, biasanya memang kualitas benihnya kurang bagus,” jelas Eva yang sampai sekarang belanja bibit impor.

Benih yang baik, biasanya memiliki usia 1-2 bulan. Jika setelah dua bulan, biasanya benih tidak akan tumbuh karena sudah rusak. Karena itu, paling sulit dalam bisnis adalah mendapatkan benih yang bagus.

“Kalau beli online, ada yang tawarkan murah biasanya susah tumbuh. Bukan kita yang tidak bisa menanam tapi karena usia benihnya yang sudah kelamaan,” kata Eva.

Chandra menambahkan, setelah penyemaian benih, tanaman yang tumbuh akan bisa berbunga dan dipanen setelah usia 4 bulan. Setiap hari akan panen terus,” jelas Chandra.

Untuk regenerasi, setelah tanaman berusia enam bulan ada baiknya lanjut melakukan penyemaian dan pembibitan generasi selanjutnya. Sebab kebanyakan, tanaman ini hanya bisa intens berbunga dan tumbuh dengan sehat hanya sampai usia setahun. Jadi Anda harus menyiapkan regenerasi.

Seperti tanaman lain, edible flower ini juga rentan dihinggapi hama. Alhasil, makin rimbun tanaman, Anda harus semakin waspada. Sebab rimbunnya tanaman jadi rentan untuk berlindung hama, seperti ulat.

Di sinilah pekerjaan rumah budidaya edible flower. Mengingat bunga ini jenis tanaman konsumsi, tentu harus aman. Artinya, edible flower harus bebas obat kimia anti hama. Maka untuk memberantas hama, Anda mesti melakukan sidak manual setiap hari.

Selain itu, sebelum melaku kan penanaman, Anda harus mengenal dahulu jenis-jenis edible flower. Awalnya, lakukan ujicoba menanam bunga ini secara terbatas. Anda bisa memanfaatkan balkon atau teras rumah yang tak langsung kena matahari.

Chandra mengungkapkan, setelah sukses dalam ujicoba, Anda bisa membuka kebun yang sesungguhnya.

Modal yang diperlukan untuk membuka kebun seluas 100 meter persegi, menurut hitung an KONTAN ini, sekitar Rp 20 juta Rp 30 juta. Modal ini selain untuk membeli benih, media tanam, juga untuk membuat peneduh bagi tanaman. Peneduh biasanya terbuat dari bambu yang ditutup dengan insect net.

Nah, yang tak kalah penting dari usaha ini adalah proses pengemasan. Mengingat bunga ini punya fungsi utama sebagai dekorasi makanan tentu harus tampil segar dengan mahkota yang sempurna saat sudah di petik. Untuk itu, Anda harus melakukan pengemasan dengan hati-hati dan kemasan yang aman.

“Pastikan bunga disimpan dalam chiller untuk mempertahankan kesegaran mahkota. Suhu tidak boleh terlalu dingin dan tidak boleh panas tentu nya,” jelas Chandra Sekalipun bunga ini rentrusak dalam proses pengirianan, tapi selama pengemasannya baik, produk akan sampai di tangan konsumen dengan aman.

Chandra yang berbasis di Yogyakarta, misalnya, sampai punya pelanggan di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jakarta. Eva yang tinggal di Bandung bisa memasok hingga luar kota bahkan kirim keluar negeri karena kemasan aman.

Tidak Hanya Dimakan

Awal pandemi Covid-19, membuat hampir semua bisnis terhuyung. Tak terkecuali bisnis edible flower. Sebelum tahun 2020, pasar terbesar edible flower adalah dari hotel dan restoran. Namun karena ada aturan pembatasan sosial berskala besar, hotel dan restoran nyaris tak beroperasi. Alhasil pemintaan edible flower dari mereka pun anjlok.

Pemilik Edible Flower Jogja, Trio Chandra Purbasiwi mengaku terpaksa membuang semua panenan dari kebunnya karena tak terserap pasar. “Kalaupun kita pres atau keringkan, ya malah bikin biaya operasional sebab permintaan bunga kering maupun basah sama sekali tidak ada, selama dua bulan pertama pandemi covid-19, ” jelas Chandra. Jadi ketimbang memakan biaya, pilihannya ia harus rela membuang panenan.

Hingga akhirnya Chandra memutar otak untuk membuka celah pasar edible flower. Dia mulai menawarkan ke produsen asesoris dan home decor. Dan ternyata sambutannya baik. Edible flower yang kategori pressed bisa terserap untuk membuat asesoris berbahan resin. Jenis ini dimanfaatkan untuk kalung, anting, dan hiasan lain.

Pressed edible flower juga bisa dimanfaatkan sebagai ornamen dalam home decor seperti pigura dan sejenisnya. Sementara itu, Tanti Sadek, pemilik Edible Flower Surabaya yang sudah sejak tahun 2017 menjadi reseller juga masih bisa mendapatkan orderan sekalipun permintaan dari hotel dan restoran di Surabaya terhenti.

“ Banyak yang work from home. Mereka ini ingin eksis dengan hidangan rumah yang dipajang di media sosial. Jadi, orderan yang masuk ke kami berasal dari konsumen ritel,” jelas Tanti. Tren puding edible flower juga membuka peluang pemintaan di sektor UMKM. Para pelaku usaha makanan mulai kreatif dengan menyajian menu hampers untuk hari raya di masa pandemi dengan hiasan edible flower. Alhasil, peluang untuk edible flower masih besar.

 

Sumber: Tabloid Kontan. 7-13 Februari 2022. Hal. 14-15