Nama Damien Chazelle (32) mulai menarik perhatian public sejak film “Whiplash” yang ia tulis dan sutradarai meraih tiga Oscar pada 2014. Tiga tahun kemudian, Damien kembali ke panggung Oscar lewat “La La Land” dan menuai lebih banyak piala. Ia bahkan menjadi orang yang merebut piala Oscar untuk kategori sutradara terbaik.
Oleh herlambang jaluardi
Whiplash bercerita tentang ambisi remaja bernama Andrew neimann (Miles Teller) untuk menjadi drumer utama di orkes jazz sekolahnya. Ia digembleng fletcher (JK Simmons), konduktor bengis yang tak segan meneror psikologis dan fisik muridnya.
Tergambar di film itu betapa drum senar dan simbal terciprat darah Andrew ketika memainkan pola double swing bertempo cepat. Kerut muka penuh amarah fletcher menggambarkan betapa ambisi juga memiliki rupa buruk.
Whiplash menuai tiga piala Oscar 2014, yaitu peran pendukung terbaik untuk JK Simmons, penyuntingan film terbaik bagi Tom Cross, serta penggarapan suara terbaik untuk Craig mann, Ben Wilkins, dan Thomas Curley. Damien masuki nominasi penulisan naskah adaptasi terbaik, tetapi gagal membawa Oscar.
Gambar amat berbeda muncul di La La Land. Film berdurasi 128 menit ini begitu berkilau, terang, dan indah__representasi tepat atas Hollywood yang glamor. Nuansa itu adalah latar bagi mabisi Mia (Emma Stone) menjadi aktris serta Sebastian (Ryan Gosling) menjadi pianis jazz.
Kisah La La Land agak klise. Pergulatan meraih bintang Hollywood sudah sering di filmkan dan dituturkan, seperti Sunset Boulevard (1950) dan Mulholland Drive (2001). Berbalut tarian dan nyanyian, serta porsi romantika yang besar, rupa ambisi dalam La La Land terasa mnais.
La La Land mejadi favorit banyak orang, termasuk Academy Awards yang memberinya 14 nominasi, menyamai rekor Titanic pada 1997. Enam piala di tuai film ini. Namun, gelar film terbaik jatuh pada drama Muram Moonlight yang berlatar daerah Kumuh Miami.
Walau begitu, Damien dinobatkan sebagian sutradara terbaik pada usia 32 tahun lebih 1 bulan. Rekor sutradara termuda sebelumnya dipegang Norman Taurog atas film skippy (1931), yakni 32 tahun 8 bulan.
La La Land adalah film panjang ketiga Damien. Sebelum whiplash, ia menyutradarai dan menulis naskah Guy and Madeline on A Park bench (2010), yang juga bertema music jazz. Damien ketagihan jazz karena pengaruh ayahnya, Bernard Chazelle, professor ilmu computer di Princeton University.
“Dia adalah penggemar berat music jazz,” ujarnya. Ibunya Celie Sayre, adalah professor sejarah di The College of new Jersey.
Bagi Damien, jazz merupakan sebuah bentuk seni yang memberi porsi besar pada improvisasi. Pola jazz yang rumit, dengan disiplin yang cenderung mengikat pemainnya, justru membuka kemungkinan berkelit dari tekanan seperti itu.
Meskipun mengaku film adalah kecintaannya, Damien memilih bermusik jazz ketika SMA di Princeton. Ia jadi drimer di band sekolah yang rajin ikut kompetisi itu.band sekolahan itu menjadi tiket menuju ketenaran di antara anak muda sebayanya, bahkan mahasiswa kampus-kampus dikotanya.
Konduktor band itu bertabiat mirip karakter Fletcher di film Whiplash. “Sebagian drummer, aku tak lagi bermain untuk menyenangkan penonton atau menyenangkan diriku sendiri. Aku bermain untuk memuaskan si konduktor, “ katanya.
Kembali ke film
Setelah lulus SMA, Damien berusaha merengkuh lagi kecintaanya pada film. Sejak kecil ia bercita-cita membuat film. Makanya, dia memilih mendaftar ke Harvard Film School bareng sahabat sekaligus teman satu bandnya, Justin Hurwitz.
Salah satu karya Damien dan Justin adalah film panjang Guy and Madeline on a Park Bench. Film hitam-putih itu, selain sebagai proyek tugas akhir, juga diikutsertakan ke Tribeca Film Festival. Aktor Stanley Tucci membantu menayangkan filmnya di bioskop-bioskop kecil.
Film itu memang tidak menghasilkan uang. Namun, Damien berhasil mendapatkan kontrak Gersh Agency karena kualitas ceritanya di anggap mumpuni. Ia lantas pindah ke Los Angeles, pusat industry film US.
Di tempat baru ini ia mneulis beberapa naskah. Salah satu naskahnya adalah Gtand Piano (2013) yang dibintangi Elijah Wood. Awalnya, Damien hendak menyutradarai sendiri film itu. Namun, ia diminta unutk fokus menulis film drama musical impiannya sejak kuliah, yang kelak diberi judul La La Land.
Ia frustasi karena naskah itu tak kunjung selesai. Orang-orang disekitarnya juga seperti meremehkan “dongeng Hollywood” rekaannya tersebut. Damien memutuskan menyusun naskah lain, yang disebutnya sebagai cerita kecil namun focus.
Maka, ia mulai menulis pengalamannya sebagai pemian drum orkes jazz sekolahan, yang ia beri judul Whiplash. Naskah itu kelar dalam waktu 10 hari saja. Damien mneyimpan naskah itu selama setahun, untuk merenungkan kritik dan masukan yang ia terima.
“ Pada akhirnya aku tak tahan, bertahun-tahun ting di LA tanpa menghasilkan film sendiri. Aku serahkan naskah itu kepada agenku,” kata Damien kepada MovieMaker.
Jason Reitman, sutradara juno dan Up in The Air, adalah satu dari sedikit orang penting Hollywood yang menyukai naskah Whiplash. Reitman menyarankan Damien membuat versi pendeknya dulu demi menarik perhatian produser. Awalnya Damien enggan karena merancang Whiplash sebagai film panjang.
Damien luluh juga. Atas rekomendasi Reitman, Damien mengajak JK Simmons dan merampungkan film berdurasi 18 menit itu. Versi pendek Whiplash diikutkan pada festival film pendek Sundance 2013, dan menang. Dari kemenangan itu, Damien dapat tambahan dana 3,3 juta dollar AS dari Bold Films untuk membuat versi panjang seperti idamannya.
Damien dan timnya menggelar shooting selama 19 hari. Ia bekerja seperti orang gila, terutama pada hal-hal detail. Setiap hari bisa seratus kali ganti pegaturan (setup) kamera. Produksi film umumnya hanya 25 hingga 30 kali setup.
Pada pekan terakhir masa shooting, Damien mengalami kecelakaan mobil. Ia tetap datang kelokasi shooting keesokan harinya. “Tak ada ruang untuk kesalahan sekecil apa pun, juga kecelakaan,” ujarnya.
Whiplash akhirnya tayang perdana di Festival Sundance 2014, diikuti Cannes Film Festival. Selanjutnya, film itu memberinya tiga Oscar.
Setelah itu, ia segera merampungkan proyek ambisiusnya: La La Land. Jalannya lebih mudah. Ia mendapat modal 30 juta dollar AS demi menuntaskan ambisi membuat film seperti The Umbrellas of Cherbourg (1964), kesukaannya itu.
Sejak dilepas 25 Desember 2016, La La Land telah menghasilkan uang sebanyak 141 juta dollar AS. Tak Cuma Oscar, film ini menempatkan Damien sebagai salah satu sutradara muda terbaik Hollywood saat ini.
Tantangan Damien berikutnya adalah menyutradarai film yang bukan berasal dari naskahnya sendiri. Film itu berjudul Firs Man, tentang astronot Neil Armstrong . lewat film yang bakal dibintangi Ryan Gosling itu, sangat mungkin Damien makin mengangkasa.
(IMDB/THETELEGRAPH.CO.UK)
Damien Sayre Chazelle
- Lahir : Providence, Rhode Island, AS, 19 Januari 1985
- Orangtua: Bernard Chazelle (ayah), Celia Sayre (ibu)
- Pendidikan : Harvard University
- Filmografi :
- Whiplash (Sutradara, Penulis Naskah, 2014)
- 10 Cloverfield Lane (Screenplay, 2016)
- La La Land (Sutradara, Penulis Naskah, 2016)
- Beberapa penghargaan :
- Academy Awards : Best Director (La La Land)
- Bafta Awards : Best Director (La La Land)
- Golden Globe Awards :
- Best director (La La Land)
- Best screenplay (La La Land)
Sumber: Kompas.3 Maret 2017.Hal.16

