Keseharian hidup Daniel Dan (69) sebagian besar dijalani di areal seluas 4 hektar.  Di atas lahan Kelurahan Wehulir, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, seluas 5.000 meter persegi di antaranya dimanfaatkan untuk pusat pembibitan anakan kakao.  Selebihnya di lahan 3,5 hektar dipadati pohon kelapa, pisang, umbian, dan jagung.  Setiap tiga bulan sekitar 55.000 anakan kakao keluar dari lahan 5.000 meter persegi itu dan dibagi ke 21 kecamatan di Sikka dan kabupaten tetangga.

Kornelis Kewa Ama

Jumat (16/2) pukul 10.20 Wita.  Di tengah guyuran hujan lebat, diselimuti kabut tebal, Daniel Dan masih memanjat pohon kelapa dengan ke tinggian bervariasi, 5-20 meter.  Sebelumnya, dia baru selesai merapikan jumlah anakan kakao yang dipajang berjajar mengikuti panjang lahan.  Dia menjatuhkan buah dan daun-daun kelapa tua sebelum jatuh menimpa anakan kakao.

“Usia saya 69 tahun, tetapi saya tetap memanjat pohon kelapa. Kalau saya tidak kerja, termasuk memanjat kelapa, mudah terserang penyakit. Pekerjaan saya sehari-hari menyiapkan polybag  , menanam bibit kakao sebanyak mungkin, kemudian dijual ke pemerintah daerah, pengusaha, dan masyarakat, “kata Daniel. la memulai usaha pembibitan anakan kakao sejak 1998 atas inisiatif tangkan dari Jember, Jawa Timur, bunan Sikka.  Saat itu ia mendapatkan 1 kilogram kakao, sekitar 200 biji, dengan harga Rp 150.000.  biji di itu dibudidayakan di segi.  Namun, tidak semua tumbuh dan menghasilkan.  Tanaman kakao yang berhasil tumbuh dan menghasilkan sebanyak 41 pohon, “Tahun 2002/2003 tanaman itu berbuah,” katanya.  sendiri.  Bibit kakao waktu itu dida- melalui Dinas Pertanian.

Dari 200 biji anakan kakao ini, 50 sekeliling pekarangan rumah, termasuuk di areal seluas 5.000 Permeter

Daniel memetik buah kakao yang sudah matang dan menjemurnya.  Duabit unggul dalam polybag untuk pembibitan anakan.  Sementara biji kakao yang kurang bagus untuk dibibitkan, Daniel manfaatkannya untuk kebutuhan pribadi atau dijual di pasar.

Tahun 2005, ia menjual sekitar 32.000 anakan kakao ke Pemerintah Kabupaten Sikka melalui mitra kerja pemda.  Saat itu satu anakan dijual dengan harga Rp 1.500, tetapi kepada masyarakat dijual Rp L000 per anakan.  Saat itu tanaman kakao termasuk langka di kalangan masyarakat Sikka.  Sementara itu, antusiasme petani Sikka membudidayakan anakan kakao sa ngat tinggi.

“Saat itu hanya saya yang menye- diakan bibit anakan kakao di Sikka,” katanya.  Bahkan, pada 2001, orang menyebut Daniel sebagai raja anakan kakao.  Masyarakat lokal memberikan julukan tersebut karena menganggap dia sebagai orang pertama yang melakukan pembibitan kakao di Sikka tahun 1998.

“Saya dikenal di seantero Sikka. Namun, slowlahan, bibit kakao juga dibudidayakan orang di sekitar setelah usaha melihat saya ini berhasil, “kata Daniel.

 Mengganti bibit

Rupanya masyarakat lebih suka datang ke tempat Daniel yang sudah dikenal luas sebagai penyedia bibit anakan kakao, Orang mengenal bibit anakan kakao dari Daniel sebagai bibit yang bagus karena jika ditanam selalu berhasil tumbuh dengan baik hingga berbuah.  Selain itu, Daniel juga berani mengganti bibit anakan kakao yang gagal tumbuh.  Pengganbuh itu pun tanpa biaya.  Pelanggan hanya cukup melaporkan kegagalan tumbuh-tumbuhan kakao yang gagal tumbuh-tumbuhan anakan kakao untuk pria mendapatkan penggantian bibit.  beli lima bidang tanah di wilayah pegunungan, yakni Desa Baomekot.

Berkat kemampuan usaha pembibitan anakan kakao, Daniel memhektar.  Sebagian tanah sudah dita- Kecamatan Hewokloang, 30 kilometer arah timur Maumere yang luasnya 2-7 hektar.

“Total lima bidang tanah itu 21 nami kakao, cengkeh, vanila, kemiri, pisang, dan kopi. Tanaman ini dikelola oleh anak saya yang pertanma,” SMP melaporkan sendiri dengan harga Rp 250 per biji.  Bibit kakao yang dijual beli Daniel.  kakao, tetapi juga bibit kakao. la tidak hanya menjual sebuahakan diambil dari biji terbaik.

Anakan kakao milik Daniel tidak hanya diminati di Sikka, tetapi juga dibeli oleh pengusaha dari Flores Timur dan Ende.  Kini kakao di dua kabupaten itu berkembang cukup bagus.  Lahan kakao di Sikla terluas di NTT, yakni 22.520 hektar, urutan kedua Kabupaten Ende 16.521 hektar, dan Flores Timur 16.321 hektar.  Tahun 2016, Pemkab Flores Timur melalui mitra kerja mengambil 45.000 anakan dengan harga Rp 5.000 per anakan.

Semua anakan yang disiaplkan Daniel selalu laku terjual.  Ada beberapa anakan yang patah atau kerdil tidak diminati pembeli.  Anakan ini biasa-biasa saja cuma-cuma kepada masyarakat yang datang ke tempat itu.

Daniel mengaku mendapat kete- rampilan tambahan dari petugas penyuluh pertanian dan perkebunan Pemkab Sikka, seperti cara menyi-apkan tanah di polybag, memasukkan bibit kakao ke dalam polybag, menyiram, dan membasmi hama atau kutu putih yang sering menye- rang anakan  kakao.  “Kakao mudah terserang hama kalau tidak dirawat,” katanya.

Menurut Daniel, dia kesulitan air jika musim kemarau.  Padahal, jika jarang disiram, anakan kakao mudah terserang hama.  Untuk itu dia membeli air dengan harga Rp 70000 per tangki.  “Setiap hari saya butuh dua mobil tangki khusus untuk menyi- ram anakan kakao. Belum ada udara dari perusahaan daerah masuk di wilayah ini. Kalau ada pun, saat muisim kemarau selalu mengering” kata Daniel.

Daniel juga mengajak anak usia sekolah dasar dan menengah di lingkungannya untuk menanam ka- kao.  Ia biasa membagi gratis tanaman kakao kepada setiap anak yang datang ke tempat pembibitan atau lewat di jalan.  Setiap siswa diberi 10-15 batang anakan kakan pada usia tujuh tahun, memasuki.

Kepada anak-anak, Daniel berpesan agar mereka wajih menanam dan merawat tanaman itu sampai dewasa.  Jika mereka menanam 11-12 tahun, kakao sudah dapat me reka panen.

“Ternyata sukses, Beberapa siswa SMP dan SMA datang ke tempat ini melaporkan bahwa mereka sudah bisa memanen kakao yang saya bagi- kan 3-4 tahun lalu, Mereka bercerita dengan semangat penuh. Saya pun bangga karena mereka sudah bisa memanen apa yang mereka tanam sendiri  , “kata Daniel.

 

Sumber: Kompas.19-Maret-2018.Hal_.16