BEBERAPA rumah mode memang sudah berani menggelar peragaan busana tunggal offline, Seperti Dior, saat meluncurkan koleksi Cruise edisi fall/winter 2021 pertengahan Juni lalu. Namun, untuk event besar seperti fashion week, penyelenggara masih memilih hati hati. Alhasil, Paris Fashion Week Menswear untuk musim spring/ summer 2022 yang digober pada 22-27 Juni lalu masih mengadopsi konsep hybrid.

Ya, penyelenggara (PFW) menggabungkan pergelaran virtual dengan live show yang pengunjungnya terbatas. Hanya undangan yang bisa menyaksikan. Moski begitu, molihat karya yang bergantian disiarkan di website resmi PFW itu, seluruh dunia mode sepakat. Kreativitas para desainer benar-benar sudah berada di level yang berbeda. (Retna Chri-Ajib Syahrian)

Burberry

Selamat tinggal motif tartan yang lendarin. Selamat tinggal motif monogram yang kekinian. Picardo Tisci, creative director Burberry, tampaknya ingin meluapkan kebebasan sebebas bebasnya. la merilis koleksi desain yang jauh berbeda dari biasa. Ada sih, inspirasi dari trench coat dan carcoat Burberry yang klasik itu. Tapi semuanya didekonstruksi menjadi item baru yang sangat fresh. Elegan, tapi jauh dari kosan formal.

Tisci, misalnya, membabat habis longan outwear khas Burberry itu. Dan membentuknya menjadi outfit ala warrior. Morodefinisi longan ragian yang biasa kita lihat dalam baju-baju olahraga Dan berhasil membuat siluet halter neck menjadi super-macho. Rompi kulit, serta vest yang detailnya mirip jakot antipeluru membuat koleksi itu makin tampak edgy.

Seluruh koleksi dibuat dalam palet warna natural. Yakni beige, putih, merah, merah marun, hitam, dan biru langit. “Itulah hal-hal indah yang bisa kita lihat selama lockdown,” kata Tisci

Louis Vuitton

Salah satu level kreativitas di atas awan itu diperlihatkan Virgil Abloh, desainer menswear Louis Vuitton. mempresentasikan koleksi pada Kamis malam lalu. Deretan busana spring/summer 2022 dikemas dalam karya sinema berjudul Amen Break. Yang mengangkat tema rave culture, seni bela diri, serta menabrak batas batas gender.

“Film ini merefleksikan sebuah momentum historis dalam budaya dan seni masyarakat kulit hitam,” ujar Abloh dalam pernyataan resmi, yang dikutip Refinery. “Ketika musik elektro (EDM, Red) dan hiphop lahir bersamaan seperti anak kembar dari telur yang sama. Dan membius seluruh dunia dengan pesonanya, papar desainer 40 tahun itu.

Koleksi itu dipenuhi warna neon dan cutting mencolok. Di antaraya rok berpotongan lebar (ya, itu untuk pria), topi-topi tinggi, padded jacket, culottes, dan beberapa t-shirt yang terinspirasi jersey tim football. Plus headphone berbulu yang imut sekali. Namun ada benang merah yang menyatukan meroka. Yakni motif kotak-kotak yang ada hampir di seluruh piece.

“Permainan catur itu sangat mirip dengan kehidupan,” kata Abloh kepada Vogue. “Intinya ada pada dua entitas yang selalu bertempur dalam cara yang strategis. Juga bagaimana bidak yang sama terbagi bagi oleh warna di atas papan. Yang itu membuat mereka secara inherent bertentangan,” tambahnya.

Item kunci lain yang diperlihatkan di koleksi kali ini adalah tas-tas berbentuk persegi. Yang berbahan kain jacquard dari benang polyester daur ulang. Ada pula dua suits hasil kolaborasi dengan seniman New York Jim Joe. Satu suit berwarna hitam. dengan bordir dan dihias bebatuan, Serta suit full-body warna pink dengan motif papan catur.

Dior Homme

Creative director Dior, Kim Jones pernah berkolaborasi dengan sejumlah seniman. Mulai Peter Doig, Raymond Pettibon, dan Daniel Arsham. Tahun ini, ia mengambil langkah berbeda. Koleksi spring/ summer dihasilkan lewat kolaborasi dengan rapper Travis Scott.

la menciptakan koleksi yang menggabungkan citra swag Scott, dengan item-item warisan Christian Dior. Peragaan busananya sendiri bertajuk Cactus Jack Dior. Mengambil nama label Scott, Cactus Jack. Alhasil, koleksi kali ini jadi hypebeast banget. Salah seorang model yang mengenakan vest rajut bermotif klasik Dior. Dengan saddle bag Dior yang imut itu dipasang sebagai tas pinggang.

Ada pula jumper, Bermuda, hingga kemeja oversized yang supernyaman. Dalam motif dari arsip Dior maupun lukisan karya Scott. Sementara palet warnanya cukup luas. Mulai dull pink, café brown, dusty grey, creamy white, hingga biru pucat dan hijau neon.

Hermes

Show Hermes kali ini mengambil tema Vitality Regained. Mereka menampilkan busana pria dalam nuansa yang lebih segar. Creative director Veronique Nichanian memilih warna-warna corah dan cutting busana yang summer banget. Cocok buat liburan ke kawasan Mediterania mungkin bersantai atau berjemur di yacht.

Parka, Bermuda, hingga kemeja berwarna biru elektrik dan hijau pucat dengan motif Mors et Gourmettes yang klasik, vest. hingga sweter rajut berwama kuning dan blush pink memenuhi koleksi kali ini. Untuk melengkapi tema bersantai di kapal posiar, Nichanian melengkapinya dengan aksesori yang sesuai. Misalnya belt dari tali, Serta tas yang dibuat dari potongan kanvas maupun kulit. Tak lupa dia juga merilis sandal kulit sapi dan boxer boots dari kanvas.

Konsep ini diharapkan Nichanian dapat memberikan referensi pakaian pria yang lebih vibrant dan dinamis. “Ini hanya soal membuka dirimu terhadap cara pandang yang baru. Untuk lebih berani bermain, dan menemukan kembali. Karena i kita harus menjalani kehidupan yang kaya, yang berlipat ganda,” papar perempuan 67 tahun itu.

Yohji Yamamoto

Bukan Yohji Yamamoto kalau tidak aneh. Dalam Paris Fashion Week kali ini, ia mengangkat kembali gaya berpakaian harajuku yang superpopuler di era 90an sampai awal 2000an. Inspirasinya diambil dari peragaan busananya sendiri pada 1985, Palet warna hitam dan putih gading menjadi benang merah. Namun ada beberapa piece yang menampilkan merah dan abu-abu. Semuanya berpotongan oversized.

Karakter yang coba la bangun dari show kali ini adalah kegelapan, kesendirian, hingga depresi. Namun, Yamamoto tidak sedang mengglorifikasi kesehatan mental. Visinya justru sebaliknya. Ia berharap, suasana penuh tekanan dan kesedihan yang dirasakan akhir-akhir ini dapat disikapi dengan baik. Salah satunya dengan berkarya.

Wooyoungmi

Eksistensi rumah mode yang berbasis di Paris ini makin kuat saja. Kali ini, sang owner sekaligus desainer utama, Woo Young-mi mengusung gala yang terinspirasi dari buku dan novel yang kerap la baca. Mulai dari The Man in the Red Coat karya Julian Barner, hingga Belle Epoque Paris. Alhasil, koleksi dia didominasi capelets yang dilengkapi hoodie, korset dan rompi tanpa lengan, serta oversized coat.

Buat Woo Young-mi, koleksi ini menjadi representasi jembatan fashion bagi laki-laki dan perempuan. Dia menyebutnya genderless shared wardrobe. Kebanyakan pakaian dibuat untuk pria. Namun cutting-nya yang loose membuat semua plece bisa dikenakan perempuan. Dia memilih bahan nilon, denim, dan wol, dalam palet warna terang dan belge.

 

Sumber: Harian Disway. 29 Juni 2021. Hal. 46 – 47