Sumber:https://surabaya.pikiran-rakyat.com/surabaya-raya/pr-3929981363/dari-sampah-jadi-emas-putih-riset-cangkang-telur-uc-surabaya-guncang-industri-kosmetik-dan-farmasi?page=3

Dari Sampah Jadi Emas Putih, Riset Cangkang Telur UC Surabaya Guncang Industri Kosmetik dan Farmasi

3 Februari 2026

PR SURABAYA  Limbah yang selama ini dibuang kini disulap jadi bahan premium bernilai tinggi, kolaborasi kampus, industri, dan program hilirisasi negara membuka jalan ekonomi sirkular kolagen halal Indonesia

Setiap hari, jutaan butir telur dikonsumsi masyarakat Indonesia, di rumah tangga, industri pangan, hingga usaha kuliner.

Namun di balik asupan gizi itu, menumpuk satu persoalan yang kerap luput dari perhatian: limbah cangkang telur.

Siapa sangka, “sampah” ini justru menyimpan potensi ekonomi besar yang siap mengubah peta industri kolagen nasional.

Terobosan datang dari Tim Peneliti Universitas Ciputra (UC) Surabaya yang berhasil mengungkap potensi ekstraksi kolagen halal dari membran cangkang telur (eggshell membrane/ESM).

Inovasi ini dinilai menjanjikan untuk sektor kosmetika, kesehatan, pangan, hingga farmasi, sekaligus menjawab isu kehalalan dan keberlanjutan.

Ketua tim peneliti, Joko Sulistyo, menjelaskan bahwa konsumsi telur nasional yang masif menyisakan limbah cangkang dalam volume besar setiap hari.

Sayangnya, sebagian besar berakhir tanpa pemanfaatan dan berkontribusi pada persoalan lingkungan.

“Di dalam cangkang telur terdapat membran tipis yang kaya kolagen dan senyawa bioaktif. Selama ini, nilai ekonominya nyaris tak tersentuh,” ujar Joko di Surabaya.

Kolagen Halal, Murah, dan Ramah Lingkungan

Selama ini, kolagen komersial umumnya bersumber dari sapi, ikan, atau babi, yang kerap memunculkan isu kehalalan, biaya produksi, dan keberlanjutan.

Kolagen ESM hadir sebagai alternatif strategis: berbasis limbah, efisien biaya, ramah lingkungan, dan jelas kehalalannya.

“Tren skincare, suplemen kesehatan, dan bahan aktif farmasi berbasis kolagen terus meningkat. Industri membutuhkan sumber kolagen yang halal, terjangkau, dan berkelanjutan,” tegas Joko.

Riset ini melibatkan dosen Mitha Ayu Pratama Handojo dan Agoes Tinus Lis Indrianto, didukung mahasiswa Belinda Manuela Angkadjaja dan Tuhfah Wikaputra, serta laboran Amelia Myristi Lolita.

Prosesnya dimulai dari pembersihan dan pemisahan membran, pengeringan suhu rendah, hingga ekstraksi enzimatik, menghasilkan sekitar 20 persen kolagen dari total bahan baku.

Tak berhenti di situ, bagian cangkang keras diolah menjadi bubuk kaya kalsium untuk penguat bioplastik ramah lingkungan.

Diakui dan Siap Dihilirisasi

Dampak inovasi ini tak hanya ilmiah. Proyek kolagen ESM meraih Inovasi Suroboyo Award 2025 kategori Agribisnis dan Energi Baru Terbarukan, menegaskan nilai ekonomi sekaligus ekologisnya.

Lebih jauh, riset ini lolos pendanaan Program Hilirisasi Riset Prioritas Kemdiktisaintek melalui skema Riset Sinergi, yang mendorong kolaborasi kampus–industri agar inovasi tak berhenti di jurnal.

UC Surabaya menggandeng PT Andara Cantik Indonesia (Sidoarjo) untuk mempercepat komersialisasi kolagen ESM sebagai bahan skincare dan serum.

Pada fase pengembangan berikutnya (2026), proyek ini direncanakan bekerja sama dengan PT Farming Jaya Bandung sebagai pemasok hingga 3.500 cangkang telur per hari, memastikan keberlanjutan rantai pasok dari hulu ke hilir.

Ekonomi Sirkular, Daya Saing Nasional

Jika rantai nilai ini terbangun penuh, Indonesia bukan hanya mengurangi limbah, tetapi juga mengekstrak nilai tambah yang sebelumnya hilang, memperkuat daya saing produk dalam negeri di pasar kosmetika dan kesehatan global.

“Ini bukti bahwa inovasi berbasis limbah bisa menjadi mesin ekonomi baru,” pungkas Joko.***