Oleh F Rahardi (Pengamat Agribisnis)

Lima tahun lalu saya membuat tulisan berjudul “Peluang Bisnis Kopi di Indonesia”. Di tulisan itu, saya menunjukkan sebuah ironi, Indonesia sebagai penghasil kopi peringkat empat dunia, namun tingkat konsumsinya berada peringkat 101 dunia.

Waktu itu saya menggunakan data produksi dan konsumsi kopi Indonesia 2009. Produksi kopi Indonesia saat itu 791.000 ton biji kering, tetapi konsumsi kopi cumin 0,5 kilogram per kapita per tahun.

Kalau tingkat konsumsi kopi kita kalah dari Malaysia, masih bia di mengerti. Pendapatan perkapita penduduk Indonesia hanya US$ 3.604, sedangkan Malaysia US$ 9.360 per tahun. Jadi maklumlah kalau konsumsi kopi kita hanya 0,5 kilogram per kapita per tahun di peringat 101. Sementara Malaysia 0,9 kilogram per kapita per tahun di peringkat 82.

Tetapi jadi menyedihkan saat konsumsi kopi Indonesia kalah di banding Laos. Pendapatan perkapita Laos hanya US$ 1.925, tiap konsumsi kopinya, 1,4 kilogram, ada di peringkat 63 dunia.

Untungnya sejak lima tahun terakhir, pertumbuhan konsumsi kopi Indonesia sangat pesat. Pada 2017 ini, Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia di atas 1,5 kilogram per kapita per tahun. Berarti ada kenaikan sampai 200% selama delapan tahun terakhir. Peningkatan paling pesat terjadi dua tiga tahun terakhir.

Data-data nasional ini pararel dengan catatan Internasional Coffee Organization (ICO). ICO menyebut konsumsi kopi Indonesia 2000-2016 mengalami tren kenaikan. Pada 2000, konsumsi kopi Indonesia baru 1,68 juta bags (bungkus) atau 0,42 kilogram per kapita pertahun.menurut ICO, ada peningkatan konsumsi kopi lebih dari 174% selama 16 tahun dengan laju peningkatan paling besar sejak tahun 2011.

Industri pengolahan biji kopi menjadi kopi bubuk saset berperan sangat besar dalam peningkatan konsusmsi kopi masyarakat Indonesia. Kopi saset ukuran besar, umumnya berupa bubuk kopi tanpa gula dan susu/krim. Adapun kopi saset ukuran sekali seduh sudah di beri gula, atau gula plus susu/krim.

Belakangan muncul sebutan kopi putih (white coffee), yang di beri gula, susu/krim serta aroma (essence) kopi sangat kuat. Padahal, semua kopi saset yang di beri gula dan susu atau krim, bisa di kategorikan kopi putih.

Maraknya industri kopi saset, di barengi dengan “armada” panjaja kopi saset sedu dengan sepeda, atau kios kecil yang di DKI Jakarta di sebut “elang”.

Gerai kopi waralaba multinasional seperti starbucks,juga

Menjamurnya gerai kopi akan terseleksi secara alamiah. Sebagian besar akan tutup.

Ikut berperan mendongkrak konsumsi kopi nasional. Kemudian ada gerai kopi yang di beri embel-embel tiam.

Terminology tiam berasal dari kosakata Hokian di Malaysia, yang artinya gerai, atau rangan. Sejak itu, orang Indonesia terjangkiti “demam kopi”. Dimana-mana orang bicara kopi dan merancang strategi memasarkan kopi, lalu berlanjut ke budidaya. Sebagian besar dai antara mereka yang “hanyut” terbawa arus deras demam kopi ini, hanya mereka dengar dari mulut ke mulut.

Demam Tinggi

Untunglah, kita punya sebuah lembaga bernama Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) di Jember, Jawa Timur. Lembaga ini di didirikan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda tahun 1911 dengan nama Besoekisch Proefstation. Selain melakukan penelitian, Puslitkoka memberikan jasa pelatihan budidaya, pascapanen dan pengolahan komoditas kopi dan kakao untuk umum.

Tren kenaikan konsumsi kopi nasional tentu menggembirakan. Tapi “demam kopi” berupa maraknya gerai dan tingginya minat membudidayakan, akan mengulang “demam” komoditas agro lainnya. Masyarakat Indonesia pernah terjangkit demam membudidayakan cacing, jangkrik, ikan lohan, tanaman obat mahkota dewa, mengkudu, aglaonema. Anthurium daun dan lain-lain. Yang paling dekat ke belakang “demam” batu akik.

Namanya juga demam, pasti lebih banyak tak sehatnya. Menjamurnya gerai kopi di Indonesia akan terseleksi secara alamiah. Sebagian besar akan tutup dan hanya sebagian kecil yang bisa bertahan.

Laba paling besar dari bisnis kopi bukan pada budidaya, tetapi pengelolahan dan perdagangannya. Lebih spesifik lagi penyangraian biji kopi mentah (green beans). Pemilik modal mengincar bagian ini.

Kisaran harga kopi rakyat saat ini Rp 20.000- Rp 40.000 per kilogram (kg). biji kopi olahan berstandar puslitkoka berkisar Rp 80.000- Rp 150.000 per kg. kopi kualitas ekspor standar PT Perkebunan Nusantara Rp 200.000- Rp 250.000 per kg.

Setelah di campur, disangrai dan di kemas, kopi standar menengah harganya Rp 100.000 per kg, bisa di jual murah Rp 50.000 per ons atau Rp 500.000 per kg. ada kenaikan nilai tambah 1.000%, hanya dari aktivitas mencampur, menyangrai dan mengemas biji kopi.

Yang di bidik produsen kopi sangria bukan hanya gerai kopo tetapi perorangan pecandu kopi. Untuk mereka ini, pengusaha menyediakan penggiling kopi manual bersekala mini.

Seperti demam komoditas agro yang pernah melanda negri ini, demam kopi ini akan mencapai titik kulminasi, lalu normal lagi. Saya memprediksi 2018, demam kopi makin tinggi, dan belum jelas kapan terjadi titik kulminasi.

 

Sumber: Tabloit-kontan,27 November 2017