
Darmin (57) hanya mengenyam pendidikan formal hingga kelas II sekolah dasar. Namun, petani asal Blok Randu, Desa Sekarmulya, Kecamatan Gabuswetan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, itu mampu menjadi pemulia padi yang sukses. Sejak 2003, ia telah 20 kali menyilangkan berbagai varietas padi. Itu semua bisa dilakukan karena ia mencintai pertanian.
Oleh Defri Werdiono
Rabu (6/12) itu, Darmin menyambut peserta Apresiasi Perlindungan Varietas Tanaman 2017 yang bertamu ke gerainya di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Ia pun menjelaskan detail sejumlah galur padi hasil silangannya.
Saat itu, Darmin baru saja menerima Apresiasi Perlindungan Varietas Taaman untuk kategori Pemulia Tanaman dari Kementrian Pertanian. Penghargaan itu diberikan atas inisiatifnya menyilangkan berbagai varietas padi – selama belasan tahun. Jenis-jenis padi, seperti ciherang, kebo, pandanwangi, dombret, jalwaraman, patmawati, dan gundil, telah ia kawinkan sehingga memunculkan galur baru.
Darmin menyebut hasratnya untuk membuat varietas baru padi muncul sejak 33 tahun lalu. Pada 1984, Darmin muda bertanya kepada petugas penyuluh lapangan pertanian di daerahnya mengenai hal tersebut. Namun, ia tidak memperoleh jawaban yang memuaskan. Baru pada tahun 2002, ia mendapat pengetahuan dan pengalaman tentang pertanian organik dengan metode sistem intensifikasi.
Setahun kemudian, Darmin mendapat informasi tentang penyilangan padi dari Program Inisiatif Petani untuk Ekologi Perikehidupan dan Demokrasi (Yayasan Field). “Karena sudah arep-arep (berharap) sejak 1984, saya langsung ikut training of trainer di Yayasan Field. Alhamdulillah akhirnya saya mulai ngerti tentang penyilangan,” tuturnya.
Pada 2003, Darmin mulai mempraktikkan ilmu yang baru diperolehnya. Ia menggunakan metode penyilangan tradisional dengan cara memotong (kebiri) bunga jantan yang belum mekar pada pucuk tanaman padi muda. Lalu, ia menaburkan serbuk sari dari varietas lain pada pucuk yang telah ia potong.
Kegiatan itu dilakukan setiap hari pukul 08.00-10.00. Namun, kegiatan itu bergantung penuh pada sinar matahari. Apabila matahari tidak bersinar, ia memanfaatkan lampu listrik. Darmin memanfaatkan satu-satunya lahan miliknya seluas 600 meter persegi untuk aktivitasnya. Awalnya, Darmin menyilangkan varietas ciherang (betina) dan kebo (jantan). Setelah itu, ia menyilangkan varietas-varietas lainnya.
Tidak semua persilangan membuahkan hasil memuaskan. Ada persilangan yang berhasil separuh, ada juga yang gagal total. Dari 25 butir hasil persilangan ciherang dengan kebo, misalnya, hanya 13 hasil penyerbukan yang jadi. Begitu pula ketika menyilangkan ciherang dengan jalawaraman, dari 20 butir yang kebiri hanya 5 bastar yang jadi. “Gampang-gampang susah menyilangkan padi,” katanya.
Sepanjang 2003-2005 Darmin melakukan 17 kali persilangan dan 3 kali pada 2013. Ada ratusan galur yang dihasilkan dari persilangan tersebut. Namun, Darmin biasanya mengambil tiga-lima galur dari tiap persilangan. Alasannya, kalau semua diambil, cukup repot karena semua ditangani sendiri.
Galur hasil silangan kemudian disimpan dalam lemari pembeku di Bank Benih di rumahnya. Dengan begitu, galur akan tahan 5-8 tahun dan bisa ditanam kembali suatu saat nanti.
Menjaga semangat
Menyilangkan padi butuh proses. Selain telaten, Darmin berusaha terus menjaga semangat. Dari 20 kali persilangan, ada 5 galur yang dikembangkan Darmin. Sisanya tetap tersimpan dalam Bank Benih. Dari kelima galur tersebut, dua di antaranya diperkenalkan kepada Kementrian Pertanian. Keduanya adalah Pemuda Idaman (PI) dan Gadis Indramayu (GI). Sementara tiga lainnya akan diajukan seusai musim panen tahun depan.
PI merupakan hasil persilangan pada jenis ciherang dan kebo tahun 2003 dengan produktivitas mencapai 10,5 ton per hektar. Adapun GI hasil silangan ciherang dengan pandanwangi tahun 2004 dengan produktivitas 11,4 ton per hektar. Jika PI disebut-sebut memiliki rasa agak pera, maka GI memiliki rasa pulen dengan bulir bagus.
Setelah berhasil menyilangkan puluhan varietas, Darmin – yang pernah diajak studi banding ke Filipina oleh Yayasan Field tentang pertanian organik dan pemulian tanaman pada 2005 – punya pemikiran untuk menciptakan varietas padi yang memiliki produktivitas tinggi. Tujuannya, agar petani di wilayahnya tidak kekurangan pangan dan meningkat pendapatannya.
“Persilangan sudah, sekarang saya terus menanam galur hasil persilangan saya. Hasilnya saya seleksi lagi yang berkualitas dan saya gunakan untuk benih. Sisanya baru digiling untuk makan,” katanya.
Oleh Darmin, bulir gabah yang bagus tersebut disimpan. Jika ada petani lain yang berminat, ia pun mempersilakan mereka menanam dengan mengganti biaya produksi. “Mereka bisa menanam dengan catatan benih dari saya tidak boleh diperjualbelikan lagi,” ucap Darmin.
Darmin pun tidak ingat lagi berapa jumlah petani yang memanfaatkan benih darinya. Mereka tidak saja sebar di Jawa Barat, tetapi juga di daerah lainnya di Indonesia.
Karena kiprahnya di bidang persilangan padi, ia kerap dipanggil menjadi narasumber seminar di beberapa tempat. Ia juga sering menerima kunjungan kerja petani dari luar daerah, termasuk luar negeri, seperti Australia, Belanda, dan Afrika. Selain petani, ada juga pihak perusahaan swasta yang datang untuk sekadar bertanya.
“Sejauh ini belum ada perusahaan yang mengajak kerja sama. Saya sendiri sebagai petani tidak berpikir ke arah sana. Saya hanya senang membantu petani. Saya cinta dengan dunia penyilangan meski saya tidak punya latar belakang pendidikan formal tentang pemuliaan tanaman,” kata Darmin.
Darmin mengakui, pemulia varietas kecil seperti dirinya masih menghadapi kendala berupa aturan, yakni sertifikasi benih baru. Benih baru bisa diperjualbelikan setelah ada sertifikat. Namun, untuk mengurus sertifikat, biayanya sangat tinggi. Karena itu, ia bermaksud bekerja sama dengan pemerintah agar galur yang ia hasilkan bisa terdaftar sehingga bisa menjadi varietas baru.
Sumber: Kompas.-9-Desember-2017.-Hal.-16
