Oleh Arvan Pradiansyah – Motivator Nasional di Bidang Leadership & Happiness

 

Hari sudah menjelang sore. Matahari akan segera menuju peraduannya. Saat penduduk bersiap pulang dari ladang, terdengar teriakan panik seorang anak gembala. “Tolong . . . tolong . . . harimau . . . harimau . . . !” Anehnya penduduk tetap tenang. Teriakan itu tak mendapat tanggapan dari siapa pun.

Keesokan harinya, penduduk desa terkejut mendapati si anak gembala sudah tinggal kerangka yang rusak dengan sisa cabikan yang mengerikan. Mengapa penduduk desa begitu tega membiarkannya diterkam harimau?

Rupanya, ada cerita di balik ketidak pedulian penduduk. Suatu hari, saat sedang bekerja, anak gembala iseng mempermainkan penduduk. Ia berlari kencang ke arah ladang sambil berteriak : “Harimau . . . harimau . . . harimau . . . selamatkan kerbau!”

Penduduk terkejut. Segera mereka bangkit dengan membawa cangkul, golok, garu dan benda tajam apa saja yang bisa diraih untuk mengusir harimau.

Namun, ternyata tak ada apa-apa. Alih-alih menemukan harimau, pendudukk malah menemukan si pemuda yang sedang tertawa terbahak-bahak. “Hahaha…, kalian kena tipu. Tidak ada harimau, hahaha…”

Penduduk sangat kesal, tetapi mereka tak dapat berbuat apa-apa selain menggerutu, Si gembala tersenyum puas. Namun, bukannya menyesal atas tindakannya, keesokan harinya ia kembali melakukan hal yang sama. Dengan tergopoh-gopoh ia kembali berlari ke ladang dan berteriak, “Harimau datang … harimau datang… awaaaasss…..!”

Penduduk segera berdatangan. Namun, mereka kembali kecewa. Tak ada harimau. Yang ada hanya anak si gembala, sedang tertawa tergelak-gelak karena sekali lagi telah dapat mempermainkan penduduk.

Itulah sebabnya, ketika harimau benar-benar datang di hari berikutnya , tak ada seorang pun yang percaya, apalagi memberikan bantuan.

Pembaca yang budiman, pepatah lama mengatakan: Tell a lie once and all your truth become questionable. Berbohonglah dan semua kebenaran Anda akan dipertanyakan orang. Kebohongan menghancurkan segala-galanya. Contoh di atas adalah kebohongan yang bersifat tradisional, lantas bagaimana dengan kebohongan yang memanfaatkan teknologi canggih yang saat ini kita kenal dengan istilah hoax?

Hoax sesungguhnya adalah hasil dari apa yang dikenal dengan istilah citizen journalism. Berbeda dengan jurnalisme konvensional di mana hanya orang-orang tertentu yang berwenang menulis dan menyebarluaskan berita, sat ini semua orang bisa menulis berita apa pun dan menyebarluaskan sesuka hatinya. Orang bisa menulis apa saja tanpa dilandasi kaidah-kaidah jurnalistik, etika penulisan , ataupun pertimbangan moral dan kebenaran. Kekuasaan kini terdapat di “jari tangan” setiap orang. Tak mengherankan, pepatah “Mulutmu Harimaumu” kini telah bertransformasi menjadi “Jarimu Harimaumu.”

Penyebaran hoax  juga berbeda dengan cerita si anak gembala yang menyebarkan berita bohong semata-mata karena iseng. Hoax pasti memiliki tujuan tertentu dan tujuannya selalu berdimensi ekonomi-politik. Itulah sebabnya, hoax tumbuh subur ketika sedang ada isu politik tertentu, seperti persaingan dalam pilkada atau pilpres.

Dari sudut pandang happiness, hoax sesungguhnya adalah ancaman yang sangat berbahaya bagi kualitas hidup dan peradaban manusia. Mengapa demikian? Karena, hoax menjauhkan kita dari sendi kehidupan terpenting: kebenaran.

Peradaban sesungguhnya dibangun di atas tida landasan: kebenaran, kebaikan dan keindahan. Di atas semuanya, dasar dari segala dasar kehidupan adalah kebenaran.. Karena itu, ketika orang tak dapat lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah, kehidupan kita sedang mengalami bencana yang serius. Tanpa kebenaran, keluarga akan hancur, bisnis akan runtuh, peradaban akan rusak. Karena itu, pemalsuan informasi seperti ini sesungguhnya betul-betul merupakan kejahatan serius yang menjauhkan manusia dari kebahagiaan.

Kebahagiaan itu sendiri senantiasa membutuhkan kebenaran sebagai fondasi dan landasan utamanya. Orang yang hidup di landasan yang salah pasti tidak bahagia, bahkan Tuhan sudah mendesain kebenaran yang melekat langsung di dalam diri kita. Bukti dari hal tersebut ada pada tubuh kita sendiri yang segera berontak terhadap ketidakbenaran. Ketika kita berbohong sekujur tubuh kita berontak: mata tak berani melihat, tangan menutupi mulut, jantunng berdebar-debar, berkeringat, hidung menjadi gatal, dan sebagainya. Fitrah manusia memang selalu rindu kebenaran.

Landasan kehidupan adalah kebenaran. Landasan kebahagiaan juga kebenaran. Namun, mengapa banyak orang yang menyebarkan hoax yang jelas-jelas menjauhkan dirinya dari kebahagiaan?

Inilah yang sering menjadi kerancuan. Orang menjadi rancu antara kebahagiaan (happiness) dan kesenangan (pleasure). Hoax tidak menghasilkan kebahagiaan, tetapi hanya kesenangan. Senang karena bisa menyalurkan kebencian, senang karena bisa mengekspresikan ketidaksukaan kepada orang lain.

Mengapa hoax  bisa begitu merajalela saat ini? Tentu saja karena usaha yang begitu keras dari mahluk yang bernama iblis. Iblis adalah penyebar hoax pertama dalam sejarah umat manusia. Iblislah yang menyebarkan berita bohong mengenai pohon keabadian. Iblis sesungguhnya adalah The Father of Hoax.

 

Sumber: SWA.-Edisi-09.-27-April-9-Mei-2017.-Hal-98