Desain Kontemporer Inspirasi dari Batik dan Ganongan.Jawa Pos 4 Februari 2014.hal.40

Agus Koecink Matangkan konsep Ruang Asia Museum Prancis

Agus Sukamto alias Agus Koecink, seniman Surabaya, didapuk mendesain Ruang Asia di Museum d’Histoire Naturelle De Rouen, Rouen, Perancis. Itu berawal dari beasiswa belajar dan riset singkat ke museum tersebut pada 2010 dan 2011.

Agus Koencink tak terbang sendirian ke negeri angur tersebut. Dia akan berangkat bersama istrinya, Jenny Lee, yang seniman keramik. Ya, mereka berdua sudah terpilih mendesain Ruang Asia Museum d’Histoire Naturelle de Rouen, Rouen, Perancis.

“Sekarang tinggal, mengomunikasikannya secara teknis dengan pihak museum. September nanti finalisasi. Kami berdua pergi kesana,” ujar Agus Koencink

Ruangan seluas 4×7 meter persegi itu akan dibagi menjadi lima tema. Isinya adalah benda-benda etnografi dari negaar-negara asia. Mulai Tiongkok, Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Laos, Filipina. Semuanya diklasifikasikan menjadi lima tema tersebut. Yakni, pertunjukan dan ritual, rutinitas dan cara berpakaian, tema khusu Indonesia, Burung-Burung Asia, dan shell room yang memanjang kekayaan laut.

Pihak museum menginginkan desain ruangan mengarah ke gaya kontemporer. Iulah tugas Agus dan Jenny. Mereka harus memilih barang yang dipasang, lalu ruangan.

Agus dan Jenny sudah diajak memasuki gudang museum yang menyimpan barang-barang etnik asia. Koleksinya beragam dan tertata rapi. Mulai keris, angklung, wayang, boneka Tiongok, prisai perang dari Kalimantan, hingga satu peralatan tradisi masyarakat Thailand. Di situ mereka memilih barang yang bakal didesain dan masuk dalam museum.

Saat itulah seniman dua sejoli tersebut diuji. Sebab, setiap barang, sudah punya data detail dan disimpan secara rapi oleh menajemen museum. Agus dan Jenny bertugas memadupadankan barang-barang itu agar terlihatharomonis ketika dipasang.

Sebagai seniman Indonesia, Agus mendapatkan banyak inspirasi dari kekayaan budayaIndonesia. Misalnya, paa tema Burung-Burung Asia. Koleksi burung itu tidak hanya dijajar rapi. Agus membuat sentuhan berbeda dengan melukis latar belakang pajangan burung itu dengan motif batik. Di tempat tertentu juga akan ada besi yang muncul untuk tempat buruang yang diawetkan.

Sentuhan Indonesia juga terasa lantaran Agus akan menghias musem tersebut dengan sosok-sosok yang menyerupai tokoh punakawan wayang, yakni Semar, Gareng, Petruk, serta Bagong. Dia juga membawa sesosok patung dengan wajah ganongan (ujang ganong), salah satu figur dalam kesenian reog.enurut Agus, semua hiasan yang didesain memang terinspirasi dari kebudayaan Indonesia. Karena itu juga, pihak museum memberikan kesempatan kepadanya untuk mendirikan satu tempat dengan tema Indonesia. Kini tugas Agus dan Jenny adalah memantapkan penampilan agar kebudayaan Indonesia terpatri abadi di Museum luar Negeri. (ina/c2/dos)

 

Sumber: Jawa-Pos-4-Februari-2014.hal_.401