
Penderita kanker kerap baru berobat ketika sudah memasuki stadium lanjut. Kondisi itu memperkecil peluang keberhasilan terapi. Kehadiran aplikasi untuk deteksi dini penyakit itu diharapkan bisa jadi solusi.
Pengendalian penyakit kanker di Indonesia tak cukup dengan cara konvensional. Apalagi, kanker juga menyerang kelompok masyarakat produktif berusia di bawah 40 tahun. Kehadiran aplikasi Deteksi Dini Kanker pada telepon pintar pun jadi inovasi solusi.
Secara nasional, menurut Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan, prevalensi kanker pada 2013 mencapai 1,4 atau 347,792 penderita. Adapun prevalensi kanker payudara 0,8 persen, disusul kanker leher rahim 0,5 persen. Prevalensi kanker tertinggi berada di Daerah Istimewa Yogyakarta (4,1 persen), Jawa Tengah (2,1 persen), dan Bali (2 persen).
Kanker terbanyak pada perempuan adalah kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks). Pada laki-laki, kanker terbanyak adalah kanker paru dan kolorektal. Kanker payudara menjadi jenis kanker terbanyak merenggut nyawa penderita.
Selain itu, kanker jadi penyakit katastropik kedua terbesar dalam Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) tahun 2017. Hal itu tak terlepas dari bertambahnya kasus kanker, terutama pada kelompok masyarakat berusia di bawah 40 tahun karena pola hidup tak sehat. Kasus terbesar adalah penyakit jantung.
Menurut catatan Kompas, peningkatan jumlah kasus kanker dapat dilihat tiga tahun terakhir. Pada tahun 2014, kasus kanker 710,216 pasien dengan biaya total ditangani JKN-KIS Rp 1,5 trilliun. Pada September 2017, jumlah kasus meningkat hingga 1,3 juta pasien dengan biaya ditanggung JKN Rp 2,1 trilliun.
Melonjaknya pasien kanker di era JKN-KIS menyebabkan pasien yang akan operasi, kemoterapi, dan radioterapi menumpuk di rumah sakit rujukan. Hampir 25 persen dari jumlah total dana Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk menangani penyakit katastropik. Total pembiayaan BPJS Kesehatan hingga September 2017 mencapai Rp 12 trilliun (Kompas, 21/1).
“Padahal, 80 persen penyakit tak menular bisa dicegah dengan deteksi dini dan periksa kesehatan berkala. Semakin dini kanker terdeteksi, peluang kesembuhan dan harapan hidup kian besar,” kata Ketua Perhimpunan Hematologi dan Onkologi Medik Ilmu Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin) Catharina Suharti di RS Umum Pusat Dr Kariadi, Kota Semarang, 7 Februari lalu.
Untuk memudahkan deteksi dini kanker, Perhompedin Cabang Semarang meluncurkan aplikasi Deteksi Dini Kanker yang bisa diunduh lewat Google Play. Aplikasi telepon pintar itu berupaya tanya jawab untuk mendeteksi kanker payudara, paru, usus besar, dan mulut rahim. Selain deteksi dini, aplikasi juga memuat berbagai informasi dan edukasi seputar kanker.
Ide Aplikasi
Penggagas aplikasi Deteksi Dini Kanker dari Perhompedin Cabang Semarang, Eko Adhi Pangarsa, mengatakan, mayoritas pasien berobat ke dokter saat kanker sudah stadium lanjut. Alasan mereka beragam, mulai dari terlambat deteksi dini, terhasut mitos kemoterapi, dan memilih pengobatan alternatif atau obat herbal yang akhirnya memperparah penyakit.
“Penderita kanker seperti tak pernah habis. Jawa Tengah kini peringkat kedua prevalensi kanker tertinggi dan peringkat pertama jumlah kasus kanker di Indonesia,” Kata Eko.
Di tingkat provinsi, pencegahan dimulai dengan program Kartu Menuju Sehat awal tahun 2016. Eko dan tim menyosialisasikan Kartu Menuju Sehat ke sejumlah daerah di Jateng untuk deteksi dini kanker. Meski mendapat respon positif, program itu dinilai memberatkan pemerintah kota atau kabupaten karena biaya cetak kartu mahal dan tenaga pendamping minim.
Ide mengoversikan Kartu Menuju Sehat ke bentuk aplikasi telepon pintar muncul dari Eko. Proses penggarapan aplikasi membutuhkan waktu sekitar enam bulan sejak Agustus 2017. Sejumlah dokter dan profesor bidang hermatologi dan onkologi medik di Kota Semarang ikut terlibat dalam pengumpulan materia informasi yang akan disajikan dalam aplikasi.
Aplikasi Deteksi Dini Kanker berupa tanya jawab seputar faktor risiko, tanda, dan gejala dari empat jenis kanker. Saat aplikasi dibuka, layar telepon pintar akan menampilkan empat menu deteksi dini kanker paru, payudara, serviks, dan usus besar. Pengguna aplikasi diminta memilih salah satu menu deteksi dini, lalu menjawab sekitar 20 pertanyaan.
“Materi deteksi dini kanker dibuat sesederhana dan semudah mungkin agar masyarakat paham. Mereka tinggal menjawab pertanyaan ‘ya’ atau ‘tidak’ dari pertanyaan itu,” Kata Eko.
Pertanyaan untuk kanker payudara misalnya “Apa Anda menggunakan kontrasepsi hormonal?” atau “apakah ada pembesaran kelenjar getah bening di atas ketiak atau tulang selangkangan?”. Sejumlah pertanyaan dilengkapi gambar dan grafik untuk memudahkan pemahaman. Setelah semua pertanyaan dijawab, keluar hasil deteksi dini ada atau tidaknya faktor risiko, tanda, dan gejala kanker dalam tumbuh.
Semakin dini kanker terdeteksi, peluang penyembuhan kian besar. Penderita kanker stadium satu memiliki harapan hidup hingga 95 persen. Namun, jika kanker stadium lanjut dan menjalar ke organ lain, peluang kesembuhan hanya 20-40 persen. Kanker stadium lanjut membuat terapi kian sulit dan panjang.
Semua pertanyaan deteksi dini yang disusun mengacu pada pedoman American Cancer Society. Keunggulan aplikasi ini adalah tak hanya mampu deteksi dini, tetapi juga memuat edukasi seputar kanker.
Menu informasi menyajikan penjelasan antara lain tentang pola hidup bersih dan sehat, alur pemeriksaan inpeksi visual asam asetat (IVA), mamografi, endoskopi, dan cara mengurangi risiko kanker. Referensi informasi utamanya dari Kementerian Kesehatan dan Komisi Penanggulangan Kanker Nasional.
Tim bekerja sama dengan ahli teknologi informasi dalam pembuatan aplikasi. Materi informasi di aplikasi terus diperbarui seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kanker. Eko dan tim akan menambah menu deteksi dini kanker prostat, informasi makanan sehat, dan kemoterapi. “Informasi tertuama untuk menghapus mitos di masyarakat. Aplikasi bagi sistem Apple IOS disiapkan,” Ujarnya.
Kaum Muda
Kelompok masyarakat usia di bawah 40 tahun jadi target pengguna aplikasi Deteksi Dini Kanker. Mereka masuk angkatan produktif yang akrab dengan telepon pintar. Di sisi lain, kesibukan dan mobilitas tinggi membuat mereka lupa mengonsumsi makanan sehat. Padahal, salah satu penyebab utama kanker adalah pola hidup dan makanan tak sehat.
Terkait tingginya kasus kanker di DIY, misalnya, kata Suharti, sejumlah riset menyebut, hal itu dipicu konsumsi gula berlebih. Kanker bisa dihindari dengan memperbanyak konsumsi buah dan sayur idealnya 2,5 mangkok sehari. Konsumsi makanan sehat tanpa pengawet harus diimbangi olahraga serta deteksi faktor risiko dan gejala kanker.
Aplikasi Deteksi Dini Kanker resmi diluncurkan Perhompedin Cabang Semarang, 4 Februari 2018, di Kota Semarang, bertepatan dengan peringatan Hari Kanker Sedunia. Peluncuran aplikasi turut dihadiri Ketua Yayasan Kanker Indonesia Aru W Sudoyo dan Ketua Cancer Information and Support Center Semarang Cahyaning Puji Astuti.
Menurut Aru, aplikasi itu bisa membantu penderita kanker yang masih ragu ke dokter atau malu bertanya ke komunitas. Selama ini, banyak pasien memilih pergi ketempat pengobatan alternatif atau pengobatan herbal sehingga baru datang ke dokter saat kondisi parah.
Aplikasi ini membuat pengendalian kanker lebih mudah, murah, dan efisien. Harapannya, kesadaran warga untuk deteksi dini kanker meningkat.
(Karina Isna Irawan)
Sumber: Kompas.12-Maret-2018.Hal_.14
