Pilih Ikuti Kata Hati. Jawa Pos. 21 April 2015.Hal.24

“Just follow what your heart said.” Kalimat itulah yang selalu menjadi pegangan dr Dewindra Widiamurti dalam setiap mengambil keputusan. Termasuk keputusan untuk terjun sebagai volunteer hingga mengantarkannya sebagai emergency health coordinator ebola operation di International ebola operation di Inernational Federation Societies ( IFRC) Liberia.

Hati Winda, begitu Dewindra biasa disapa, terpanggil dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan saat bencana alam tsnunami Aceh, Desember 2004. Dia menceritakan, kala itu, tsnunami memora- porandakan Aceh. Sebagai lulusan FK Universitas Hang Tuah Surabaya hati perempuan 37 tahun itu merasa  terketuk. Dia terpanggil untuk membantu secara langsung korban tsunami. Secara bersamaan, Palang Merah Indonesia ( PMI) membuka lowongan tenanga medis yang bakal ditempatkan di Aceh. Saat itu Winda sempat ragu. Pasalnya, ketika itu Aceh Merdek ( GA) dan pemerintah daerah.

Setelah berkonsultasi dengan kaluarga, keraguan Winda pupus. Hatinya semakin mantap untuk terjun dalam medical response team di PMI pusat.

“If I were you, If I were younger I will definitely go there to help. Your late mom will do the same.” Kalimat Nusantara SpR, itu semakin membuat dirinya yakin. Singkat cerita, perempuan kelahiran Surabaya tersebut tiba di Serambi Makkah pada 1 Februari 2005. Dia merasa sudah tidak ada tanda- tanda kehidupan di Aceh.

Tentang mandi dan terbatasnaya sumber air bersih, Winda punya satu cerita yang selalu diingatny. Saat dirinya ditempatkan di Calang, Aceh Jaya, mandi sangat suit. Ada kamar mandi darurat berdinding terpal dan tanpa atap. “jadi, kalau mau mandi, mesti lihat dulu ada orang di atas atau nggal. Mandi pun mesti jongkok karena badan saya lumayan, hahaha..” beber kehidupan perempuan yang memfavoritkkan rujak cingur itu.

Keadaan berangsur normal sejak Juni. Klinik PMI tetap buka sampai Oktober. Setelah itu, klinik ditutup. Petugas kesehatan pun kembali ke daerah masing- masing. Yang dikhawatirkan,kalau klinik darura PMI tetap berjalan, orang tidak akan datang ke klnik “normal”. “Karena itu, PMI harus ‘mundur’ agar sistem kesehatan di Aceh kembali sebagaimana sebelum bencana,” ungkapnya.

Beberapa bulan kemudian, Winda bergabung sebagai liaison team antara PMI dan IFRC ( International Federation of Red Cross and Red Cresent Societies). Kemudian, akhir 2012 IFRC di Timor Leste menghubungi Winda. “Saya bimbang. Sebab, saat itu saya mulai berkarir menjadi penyanyi. Tapi, di sisi lain, menjadi delegasi PMI adalah salah satu impian besar saya,”ucapnya.

Akhirnya, dia memutuskan untuk bergabung di IFRC Timor Leste dan berkarir selama 15 tahun. Selanjutnya, dia bergabung dengan ebola operation di Liberia itu melalui proses melamar kerja. Sekarang dia dipercaya dalam posisi emergency health coordinator. Dia membawahkan empat orang. Tiga orang berasal dari Kenya dan seorang dari Pakistan.

Musik Itu Napas Kehidupan

Dikelilingi berjuta aktivitas, dr Dewindra Widiamurti selalu punya trik jitu untuk menghilangkan kebosanan.

Apakah dokter tidak pernah merasa  jenuh?

Sebagai manusia, jenuh itu wajar, hehehe.. Cuma yang paling penting kita bisa me-manage jenuh itu.

Bagaimana caranya?

Yang paling penting dalam situasi kerja yang penuh tekanan seperti ebola operation ini, saya haruss tahu kapan waktu bekerja, beristirahat, dan bersosialisasi. Buat saya sih, walau sulit sekali, dalam seminggu biasakan sehari tidak membicarakan pekerjaan. Continue talking with your family back home atau sama teman-teman di luar Liberia. Baca berita dari belahan dunia lain, main music, berenang. Saat di Timur Leste , aku ketemu sama musicians dari Brasil, Australia, dan Kuba group band and performed in various café and hotel in Dili.

Dokter jago menyanyi jazz. Benarkah?

                Music and singing is like the air I breath. It’s in my blood. Waktu di Dili, Timor Leste, our band had regular performance in several café and hotel.

Kalau saat ini?

                Sekarang udah gak main music lagi alias jarang tapil. Jadi, jarang berlatih. Paling hanya nyanyi sendiri sama main gitar. Sya bela-belain beli gitar di sini (Liberia, Red) demi memberantas kebosanan. Atau, kadang kalau sedang di sebuah restoran, saya suka bermain piano dan bernyanyi.

Mengapa jazz favorit?

                Aku suka jazz itu karena dinamis, ia nggak konstan, it allows you to explore more. Like life for me.. never get bored of this. Sebenarnya selain jazz, aku suka pop, RnB, groovy kind of music, classical tunes. Cuma emang  yang paling nggak pernah bosan ya jazz.

Sudah buat album?

                Saat ini sudah ada satu minialbum. Aku menulis semua lagu dalam album. Sampai sekarang, aku masih menulis lagu. Apalagi kalau sedang dapat inspirasi. Tapi, sekedar hobi buat dikumpulkan saja. (bri/c7/nda)

 

Sumber:  Jawa Pos, 21 April 2015