
Jumat malam, 16 April 1999, di sudut Terminal Joyoboyo, Surabaya, Jawa Timur, yang remang. Anak-anak “jalanan” telah siap dengan lilin menyala dan alat musik sederhana. Didit Hari Purnomo, sahabat anak-anak itu, datang menuntun Budha Ersa, sang istri, yang ditutup kain.
Saat lain dibula, Ena terkejut kurena di depinnya analk atak Dmemeangt lin dan bernyanyi selamat ulang tahun diiring muusik sederhana. Ersa pan larut dalum ta ngis bahaia meendapat kejuitan dari suami tercinta. “Bu, ini kado untukm dari anak-anak. Selama ini, etsagun wji alm sisihkan untuik meneki,” ce rita Didit.
Pertunjukan sederhana yang kosan itu menyempurnakan hadiah untuk Ersa. Hari itu pula secara resmi berdiri Rummah Belajar Anak Negeri bangun oleh Didit dan komunitas Sanggar Alang-alang. Rumah seder- hana di pinggir Kali Surabaya itu di- seniman untuk anak-anak yang di- telantarkan sehingga udah tahan hidup di jalanan menjadi peng amen, pengemis, dan atau pencuri.
Dan mengajari anak-anak merupalan jurnalis TVRI Surabaya yang sudah ngetop dengan tayangan program human interest “Rona-Rona”. Lewat tayangan itu, Didit sempat beberapa kali bersentuhan dengan banyak anak yang ditelantarkkan dan hidup di ja- Mendatangi, menemani, sibukan lain Didit di luar rutinitas lain.
Didit tergugah untuk melanjutkan atak-anak itu, Sejak tahun 1996, selepan bekerja, Dilit menyempatkan diri mampir ke Terminal Joyoboyo untuk dan Bertemu dengun bertem anak-anak.
Termiinul Joyhnya when it, menjali salah satu kantong kemis- kinan dengun kberadaan anak-anak yang munijadi selandanan, pengemis, dan pengamen. Selain ajakan rupobr, sering saya sisipkan snl ke- Hopanan, luebersihan, dan apuna, Me- reka juga saya ajari bermain alat sutra kata kelaki yang akrab dengan patysgilan Didit Hape itu.
Saat menyelami kehitupan mak amk itu, di sisi lain, Didit ne casa tak mudu dan kurang gesit lag ili world jurnalistil Dia pun hemudian ingin folas putla job sial loe manusiaan sebogai nalhabat anak-anak yangg ditelanturkan.
“Ini sajadah panjang saya, ibelah saya lapada Allah, din semoga tidak beralkhir meski aya sadah tidak ada laui di dunia.” ujanya.
Kurun 1996-199 nearu berada dalim masa ulit alabal hantaman krisis ekonomi. hlu gelombang re formasi, Kehidupan masyarakat kian susah schingga perhatiun terhadap unak-anuk berkurang Semnkin ba nyak keluar terutam yug tidak manipu menjadi abai terhadap anak-anuk. Merasa terpuksa bertahan hidup di jalatnin dengan mana depun tidak tentu.
“Saya menganggap mereka sebagai korban kejahatan seksual dan narkotika,” katanya. Saya tidak mau mereka menjadi diselatnatkan dari kehidupan jalanan.
Menbangun sanggar sederhana di tepi Kali Surabaya dekat Terminal Untok mewadahi anak-anak, Didit Joyoboya Didit menyewa laham dan bangunan sederfana milik PT Kereta Api Indonesia (Persem). Di sanggar. anak-anak diajak belajar berbagai pe- ngetabuan dan keterampilan hidup.
Selepas masa nemaja, mereka harus secara mandiri asuh pen- lanan, mereka tiduk akan berani ada di syarakat. Yang sukses menjawab antara mencari penghidupan sendiri di ma- didikan tinggi atau mendapat peket- jaan. “Jika ada yang kembali ke ja- Surabaya karera pasti malu dengan teman-teman sangar.” kata didit.
Bukan pecundang
Nama alang-alang untuk sanggar- untuk mengambarkan anak-anak jalanan ibarat alang-alang, pembohong dan dianggAp gulma, Masyarakat memandang mbereka kotor, tidak berpendidikan, kurang ajar, tidak berpendidikan, tida berguna, dan kerap menggangu.
Sementara, dalam pengalanan hidup dan peliputan ke beberapa tempat di Nusantara dan mancanegara, Didit alang-alang Ada yang merajut atau menenun rerumputan ini menjadi sandal, tikar, dan busana Ada pula menjumpai manfaat besar yang menjadikan rumput berdaum ta jam ini sebogai atap numah, bahkan balan obat untuk mengucangi bendungan pak kanker. Dari sana, Didit ber- anggapan, sebenarnya alang-alang pu- nya banyak manfaat besar jila di- tangani oleh orang yang tepat dan berjiwa seni. “Saya yakin begitu pula dengan anak-anak jalanan. Jika, mereka adalah penenang bukan pecundang” kata pencinta wa yang suluh ini.
Berbekal kayalinan itu, Didit ber- sama keluarga dan relawan dengan setia mendidik anak-anak untuk men- jadi manusia yang tanggah dan siap hidup dengan baik di masyarakat.
Dalam kurun hampir dua dasa-warsa, jerih payah Didit dan kawan-kawan kerap berbuah manis. Ti- dak sedikit anak-anak didikan sanggar memuai prestasi dalam pendidikan, kesenian, dan olahraga. Deretan piala yang dipajang di rak sanggar adalah bukti bahwa anak-anak yang bergabung dengan pecundang itu ternyata para peme- nang Ada yang juara puisi, musik, tinju, sepak bola, lukis, atau sains. Mereka alang-alang pemenang sejati.
Aktivitas di sanggar juga menghiosi skripsi, tesis, disertasi, dan jurmal ilmiah di berhagai kumpus domestik dan luar negeri Clepang Australia, Austria, Palestina, Mesir). Sanggar membula diri sebagai obyek pene- litian ilmiah. Namun, para peneliti juga harus memberikan andil dengan menjadi relawan sepanjang masa pe- nelitian dan mengenallcan budaya bangsa.
Saat ini, sanggar mendidik 159 anak dari keluarga miskin atau yang yatin piatu. Anak-anak dari keluarga mam- pu tidak berhalk masuk sanggar. Anak berusia sampai 5 talhun termasuk ka tegori pendidikan anak usia dini PAUD), sampai 15 tahun diberi petdidikan anak usia sekolah (PAUS), dan sanpai 18 tahun yang berada dalam usia remaja PAUR). Kegiatan belajar berlangung Senin sampai Jumat sore.
Di samping menemani anak-anak di sanggar. Didit pada hari Senin, Rabu, dan Jumat bermain gender di Shangri-la Selasa dan Kamis meng- ajar angklung di Sekolah Inklusif Ga- luh Hanilayani Surabaya untuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Didit jua mengembangkan sang- ar ke Kumpung 1001 Malam Surabaya. Sanggar Alang-alang dikenm- bandan bukan lagi sebogai rumah belajar anak negeri (RBAN), mela- inkan menjodi bimbingan ibu dan anak negeri (BIAN). Dibantu Ersa, Saya yakin peran sangat penting ibu sebagai penyelamat kelidupan.
Didit jua mengembangkan sang- ar ke Kumpung 1001 Malam Surabaya. Sanggar Alang-alang dikenm- bandan bukan lagi sebogai rumah belajar anak negeri (RBAN), mela- inkan menjodi bimbingan ibu dan anak negeri (BIAN). Dibantu Ersa, Saya yakin peran sangat penting ibu sebagai penyelamat kelidupan.
“Anak-anak tidak akan telantar jika ibu mampu menghidupi lkeluarga de- ngan keterampilan kecakapan kata pengigum Soekarno, Soetomo, dan Ki Hadjar Dewantara itu.
Untuk menjalankan sanggar, Didit tak punya resep oespleng dalam ma manajemen, termasuk pembiayaan. Sanogar hidup dari sebagian honor Didit bermain gender, bantuan, hah- kan saweran orang-orang “Tidak ada pakemnya. Entah mengapa selalu ada jalan mendapat rezeki untuk mem- buat sanggar tetap hidup” ujar peng- gila sayur bayam, sambal, dan tem- pe-tahu goreng itu.
Meski tetap berusaha aktif men-dampingi sanggar, Didit masih me nyimpan mimpi lain, yakni bisa mem- buat banyak wayang anglerek untuk memopulerkan mainan anak dari kar- dus dan digerakkan dengan benang itu.
Didit juga masih ingin melanjutkan rutinitas setiap seusai shalat Subuh, yakni menebar beras sebagai pakan burung-burung liar di kediaman di Perumahan Dinas TVRI Surabaya.
Sumber: Kompas 5 Juli 2017. Hal 16
