Gaya Industri untuk Rumah Tropis Maureen Nuradhi
Dinding Bernapas, Lebih Sejuk
Menonjolkan material bangunan yang dulu pakemnya justru harus ditutupi adalah penjelasan senderhana dari gaya industri. Dinding unfinished menjadi elemen utama untuk menghadirkan gaya desain gaya interior tersebut di hunian Maureen Nuradhi.
Tata Cahaya Aksentausi
Palet warna abu-abu industrial akan terasa dingin dan kaku saat malam, ketika pencahayaan alami menghilang. Pertimbangan itu membuat Maureen memilih tata cahaya berjenis aksentuasi. Cahaya lampu diberikan pada bagian-bagian yang membutuhkan saja dan bagian yang ingin ditonjolkan keindahannya.
Apa tidak terkesan remang? “justru itu saya suka, sedikit misterius. Tidak perlu semua terlihat. Biar yang jelek nggak kelihatan kan, haha,” jawab Jean, sang suami berkelakar. Dua buah hatinya ternyata lebih menyukai konsep tersebut. Bila mereka ingin menonton film seolah di gedung bioskop, lampu ruang keluarga di sisi atas televisi saja yang dinyalakan. Ingin mirip kafe? Matikan yang di dekat televisi, lalu nyalakan pendant dan lampu sekitarnya.
Dengan penyalaan aksentuasi, setiap bagian rumah menjadi punya irama gelap terang yang silih berganti. Mereka memilih cahaya putih kekuningan untuk keseimbangan kehangatan ruang. “sebab, warnanya sudah dingin. Abu-abu,” tegasnya. Selain tata cahaya, pada unfinished wall yang diberi papan silikat sebagai pelapis, dibuat gaya mondrian, kubisme, yang cantik agar tidak monoton. Gaya itu ada di dinding ruang keluarga dan kamar anak-anak. (Puz/c10/dos).
Kebutuhan tercukupi dan biaya pembangunan efisien. Dua hal itulah yang menjadi fokus pasangan arsitek Maureen Nuradhi dan Jean Francois Pollot saat membongkar total huniannya. Pembangunan itu sekaligus menjadi proyek idealis yang menantang. “Cukup bukan berarti murahan”. Banyak yang bisa dihemat, tapi rumah tetap terkonsep dengan bagus, “kata Maureen.
Di atas tanah seluas sekitar 200 m2, bangunan rumah lama berdiri dengan dikelilingi lahan kosong di tiga sisinya. Agar tak perlu keluar biaya kontrak dan boyongan, digunakan teknik reversed house, yakni membalik area. Bangunan baru dibuat di lahan kosong sekeliling bangunan rumah lama.
“Kami baru pindah setelah bangunan baru jadi. Kemudian bangunan rumah lama dibongkar total menjadi ruang terbuka,” ujar Maureen. Selanjutnya baru diteruskan pembangunan bagian depan rumah, yakni kantor Jean Maureen and Partners. Hasilnya bentuk rumah menjadi dinamis dengan banyak ruang terbuka.
Gaya industri dipilih menjadi desain besar rumah yang baru. Elemen utama yang begitu mencolok ada pada bagian dinding yang dibiarkan tidak selesai (unfinished). Mereka menghentikan finishing sampai pada acian atau plester saja. “Ini memangkas biaya hingga 10 persen dan tampilan ruangpun lebih menarik,” jelas Maureen yang juga dosen di Universitas Ciputra Surabaya.
Dinding yang tidak bercat tersebut menampilkan warna abu-abu lengkap dengan goresan para penggarapnya. Menurut Maureen, itu lebih ekspresif dan tidak monoton. Satu lagi poin plus dari unfinished wall adalah membuat ruangan jauh lebih dingin. “Ketika dinding tida di-finishing, ia lebih berpori sehingga udara di dalam ruangan nggak mati. Istilahnya breathing wall. Ia bernapas. Artinya masih ada sirkulasi,” terang Maureen.
Desain dinding seperti itu cocok untuk daerah tropis yang sinar mataharinya sangat berlimpah sepanjang tahun. Karena itu, banyak rumah orang zaman dahulu yang berhenti di batu bata saja hingga dikapur. Hunian di wilayah beriklim tropis yang harus diperhatikan adalah jatuhnya cahaya bangunan dan sirkulasi udara.
Maureen dan sang suami sudah mempertimbangkan hal tersebut sehingga dibuatlah banyak ruang terbuka yang luas. “Kami tidak serakah menggunakan lahan untuk ditutup bangunan. Dipakai yang seperlunya saja. Jadi, paru-parunya lebih besar,” kata ibu dua anak itu. Seluruh ruangan di rumah ini mendapat cahaya dan sirkulasi udara langsung. Supaya tidak silau, dibuat banyak sosoran dengan mempertahankan bentuk atap segi tiga.
Setiap ruangan punya jendela dan pintu yang besar. Kecuali kamar, yang digunakan adalah jendela dan pintu kasa. Angin dan cahaya tidak terhalang apa pun untuk masuk, tetapi nyamuk tidak bisa menerobos.
Kelebihan gaya industri yang diincar Maureen adalah kenetralannya ketika dikombinasi dengan gaya interior lain. Industrial style tidak terasa fals bila di-mix dengan gaya klasik, art deco, retro, vintage, modern minimalis, bahkan colorful. Sebab strategi hemat lainnya adalah tidak membeli banyak perabot baru. “Segala macam perabot cocok,” celetuknya. Banyak perabot dari rumah lama yang bisa dimanfaatkan lagi, bahkan pantang untuk dibuang.
Sebagian adalah warisan dari nenek moyang, misalnya nakas (kadang disebut sebagai meja samping) tua bergaya art deco yang diperkirakan mulai 1900-an di kamar utama. Dia tak sendirian karena meja rias di kamar itu pun bergaya classic colonial. Hasilnya begitu cantik dengan kekhasan masing-masing. Di kamar untuk tamu, ada sebuah meja rias bergaya art deco sejak 1930-an. Dipadu dengan tempat tidur yang dibalut kain tenun Lombok, ambience-nya masih serasi.
Maureen juga bebas bermain-main dengan warna. Di ruang keluarga dan ruang makan yang dibuat menyatu tanpa sekat, ditempatkan perabot berwarna terang yang mencolok. Ada sofa ungu dan hijau dengan cushion yang motifnya dirancang sendiri oleh Maureen. (Puz/c19/dos)
Sumber: Jawa-Pos.-7-Juli-2015.Hal_.18

