Diserbu Warga Desa, Mahasiswa Baru FK Universitas Ciputra Bongkar Bom Waktu Penyakit Kronis di Lereng Pacet
16 Desember 2025
PR SURABAYA – Layanan kesehatan gratis di Desa Podorejo jadi cermin minimnya deteksi dini, hipertensi hingga gula darah tinggi baru terungkap setelah diperiksa langsung mahasiswa semester satu.
Antrean panjang warga Desa Podorejo, Kecamatan Pacet, Mojokerto, pada layanan kesehatan gratis bukan sekadar menunjukkan antusiasme.
Di balik kerumunan itu, tersimpan fakta yang lebih serius: banyak penyakit kronis di desa tersebut selama ini hidup diam-diam tanpa pernah terdeteksi.
Fakta itu terungkap saat 82 mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra (FKUC) turun langsung ke lapangan dalam kegiatan Camping Jurusan (Campjur) FKUC 2025.
Kegiatan ini menjadi pintu masuk early clinical exposure, di mana mahasiswa semester satu diperkenalkan pada realitas pelayanan kesehatan masyarakat sejak awal masa studi.
Berbeda dari praktik laboratorium kampus, mahasiswa FKUC berhadapan langsung dengan warga yang sebagian besar baru memeriksakan diri ketika keluhan sudah tak tertahankan.
Pemeriksaan yang dilakukan mencakup tanda vital, tinggi dan berat badan, tumbuh kembang anak, hingga pemeriksaan laboratorium sederhana seperti gula darah, kolesterol, dan asam urat.
Hasilnya cukup mengejutkan. Pada kelompok dewasa dan lansia, kasus hipertensi, kadar gula darah tinggi, hingga hiperurisemia ditemukan dalam jumlah signifikan.
Keluhan nyeri otot dan sendi juga mendominasi. Sementara pada anak-anak, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk pilek berkepanjangan, dan masalah gizi masih menjadi persoalan utama.
Temuan ini mengungkap satu benang merah: budaya pemeriksaan kesehatan preventif belum mengakar kuat.
Banyak warga datang bukan untuk mencegah, melainkan karena sudah merasakan sakit. Padahal, sebagian kondisi yang ditemukan berpotensi berkembang menjadi komplikasi serius jika terus diabaikan.
Tak berhenti pada pemeriksaan, mahasiswa juga memberikan pengobatan dasar, vitamin, serta edukasi kesehatan yang disesuaikan dengan kebutuhan warga.
Edukasi tersebut menekankan pentingnya pola makan seimbang, pencegahan penyakit metabolik, pemantauan tumbuh kembang anak, hingga penggunaan tabir surya sebagai langkah sederhana pencegahan kanker kulit, isu yang masih jarang disentuh di wilayah pedesaan.
Ketua Panitia Campjur FKUC 2025, dr. Natalia, Sp.A, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momen reflektif bagi mahasiswa.
“Di sini mahasiswa belajar bahwa menjadi dokter bukan hanya soal diagnosis dan obat, tetapi juga mendengarkan, berempati, dan memahami latar sosial pasien,” ujarnya.
Pandangan tersebut diperkuat oleh dr. Maria Natalia, Sp.A, yang menilai keterlibatan mahasiswa sejak semester pertama adalah investasi karakter jangka panjang.
“Kami ingin calon dokter memahami konteks sosial kesehatan sejak dini. Dari pengalaman lapangan seperti inilah kepekaan, empati, dan rasa tanggung jawab itu terbentuk,” jelasnya.
Respons positif datang dari pemerintah desa setempat. Diana, Kepala Dusun Podorejo, Desa Sajen, mengaku kegiatan ini menjadi pengalaman pertama bagi warganya.
“Selama ini banyak warga baru berobat kalau sudah parah. Kegiatan ini membuka mata masyarakat bahwa kesehatan harus dijaga sejak awal. Mencegah jauh lebih baik daripada menunggu sakit,” tuturnya.
Selain pelayanan medis, Campjur FKUC 2025 juga dirancang untuk melatih refleksi diri, kerja tim, komunikasi efektif, serta integritas akademik mahasiswa.
Pendekatan ini menegaskan bahwa pendidikan kedokteran tidak semata soal kecerdasan klinis, tetapi juga kepekaan sosial dan orientasi pelayanan.
Dari Desa Podorejo, satu pesan mengemuka: penyakit kronis bisa tersembunyi di balik aktivitas harian masyarakat.
Dan terkadang, yang dibutuhkan untuk mengungkapnya bukan teknologi canggih, melainkan kehadiran langsung, empati, dan kepedulian sejak dini.***

